
Oleh dr. H Minanur Rahman
Hingga sekarang masalah perokok di Indonesia masih menjadi dilema antara kepentingan ekonomi dengan kesehatan. Industri rokok setiap tahun menyumbangkan cukai tembakau sebesar Rp. 200 triliun. Sementara produksi rokok pertahun mencapai lebih dari 350 miliar batang, setara dengan 1250 kali penduduk Indonesia yang 280 juta jiwa. Sekitar 30% penduduk Indonesia adalah perokok, dimana lebih dari 70% laki-laki dewasa adalah perokok aktif yang menghabiskan 20 batang rokok per hari.
Berbagai upaya mengurangi jumlah perokok dan konsumen rokok telah dilakukan antara lain: kenaikan tarif cukai hasil tembakau, kawasan tanpa rokok, larangan iklan rokok, dan gambar akibat buruk bagi kesehatan di kemasan rokok. Namun semua itu tidak berpengaruh pada penurunan konsumsi rokok. Bahkan selama Pandemi COVID-19 telah terjadi peningkatan jumlah konsumsi rokok yang berkaitan dengan stress karena ketidakpastian ekonomi.
Para pemuka agama Islam (MUI) pun telah mengeluarkan fatwa tentang rokok. Hukum merokok dalam agama Islam memiliki pendapat yang beragam di kalangan ulama, ada yang membolehkan (mubah), ada yang menghukumi makruh (perbuatan buruk), dan ada pula yang mengharamkan karena banyak kerugian akibat rokok. Namun, mayoritas ulama sepakat merokok memiliki dampak negatif terhadap kesehatan dan dapat membahayakan individu dan orang lain di sekitarnya.
Upaya yang bisa dilakukan sebatas himbauan *BERHENTILAH MEROKOK*. Berhenti merokok memang bukan suatu hal yang mudah dilakukan. Namun, upaya untuk berhenti dari kebiasaan merokok bisa terlaksana jika Anda memiliki tekad yang kuat dan keinginan untuk mempunyai tubuh yang lebih sehat. Orang yang berakal sehat tentu tidak mau melakukan perbuatan buruk yang merugikan. Maka kesadaranku bahwa merokok adalah perbuatan buruk yang merugikan membuat orang yang berakal sehat akan menjauhi merokok.
Saat ini kesadaran masyarakat akan bahaya dan kerugian akibat merokok sudah cukup tinggi. Dibarengi dengan kenaikan harga rokok yang cukup mahal maka banyak perokok yang mulai mengurangi jumlah rokok bahkan memilih terhenti merokok. Peran istri dan anak juga cukup bermakna dalam mengingatkan para lelaki untuk berhenti merokok.
Perempuan dan anak-anak adalah kelompok yang paling dirugikan dengan asap rokok. Betapa tumpul perasaan perokok yang merokok di hadapan anak-anak dan istri yang tidak merokok. Mereka (perempuan dan anak-anak) tanpa sadar menghisap asap rokok terus menerus, padahal tidak merokok. Belum lagi rasa jengkel, sedih, dan kecewa para istri melihat suaminya tak kunjung sadar.
Bagi masyarakat muslim, hukum merokok sebagian mengatakan haram, dan sebagian lainnya makruh. Makruh artinya perbuatan buruk yang sebaiknya ditinggalkan. Maka pendekatan hukum agama dan keteladanan para ulama akan sangat bermakna dalam menghentikan merokok. Jangan sampai seorang ulama panutan justru mempertontonkan merokok di depan jama’ahnya.
Dalam menerapkan cara efektif berhenti merokok, Anda juga memerlukan bantuan dokter dan dukungan dari orang terdekat untuk bisa menghentikan kebiasaan yang tidak sehat ini.
Cara efektif berhenti merokok terbagi menjadi tiga langkah penting, yaitu ¹persiapan berhenti merokok, ²berhenti, dan ³tetap berhenti merokok. Untuk mencapai ketiga langkah tersebut, Anda dapat melakukan beberapa hal berikut:
1. Buatlah daftar alasan berhenti merokok
Cara efektif berhenti merokok adalah *menulis alasan mengapa Anda ingin berhenti merokok* dan mengingat terus alasan tersebut ke mana pun Anda pergi. Alasan-alasan itu bisa menjadi motivasi untuk membuat Anda lebih mudah berhenti merokok. Misalnya; “merokok itu haram dan tercela”, “istriku kecewa bila aku merokok”, “orang yang merokok itu stress”, “Aku sudah pernah kena serangan jantung”, “temanku perokok meninggal karena kanker nasofaring”.
Menyingkirkan semua hal yang berhubungan dengan rokok, seperti asbak dan korek api. Anda juga bisa menetapkan target waktu kapan Anda mulai berhenti merokok dan kapan akan berhenti total dari kebiasaan tersebut.
Memberitahu teman, kerabat, dan keluarga bahwa Anda sedang dalam tahap berhenti merokok agar mereka dapat memberikan dukungan dan tidak menawarkan rokok kepada Anda.
2. Hindari pemicu kebiasaan merokok
Menghindari faktor yang dapat memicu Anda kembali merokok, seperti berkumpul dengan sesama perokok atau mengonsumsi kopi dan minuman beralkohol di cafe. Jika terbiasa merokok setelah makan, Anda bisa mencari cara untuk mengalihkan keinginan merokok, misalnya dengan mengunyah permen karet, mengonsumsi camilan /buah buahan, dan rajin menggosok gigi.
Ketika keinginan merokok datang, Anda bisa mencoba untuk menundanya (ingat komitmen Anda) dan menyibukkan diri dengan aktivitas lain, seperti berjalan, berolahraga, atau melakukan sesuatu yang Anda sukai.
3. Cobalah konseling
Konseling dapat membantu Anda untuk mengidentifikasi faktor pemicu Anda merokok dan memfokuskan cara untuk berhenti merokok. Dalam hal ini, Anda bisa meminta bantuan psikolog atau dokter sebagai cara efektif berhenti merokok.
Untuk meningkatkan keberhasilan, upaya ini dapat disertai dengan terapi pengganti nikotin, misalnya dengan mengunyah permen karet, mengisap permen pelega tenggorokan, atau menggunakan plester, inhaler, atau semprotan hidung yang mengandung nikotin.
4. Selalu katakan “tidak pada rokok”
Ketika Anda memutuskan untuk berhenti merokok, cobalah untuk mendisiplinkan diri. Mungkin sesekali Anda akan tergiur untuk merokok dan berkata, “satu batang saja tidak masalah.” Namun, jauhkan pikiran tersebut! Meski hanya sebatang, mengisap rokok bisa memicu Anda untuk terus-menerus mengisapnya lagi dan lagi.
5. Lakukan antisipasi gejala putus nikotin
Saat mulai berhenti merokok, tubuh akan kekurangan nikotin. Hal ini bisa memicu gejala putus nikotin (nicotine withdrawal) yang ditandai dengan rasa nyeri, mual, sakit kepala, gelisah, dan emosional atau mudah marah. Orang yang hendak berhenti merokok juga biasanya akan mengalami gejala batuk-batuk.
Umumnya, gejala putus nikotin akan Anda alami dalam rentang waktu 12–24 jam setelah berhenti merokok dan secara bertahap akan mereda dalam waktu 2–4 minggu.
Jangan tergoda untuk kembali merokok meski harus merasakan gejala yang mengganggu tersebut. Setelah tubuh terbiasa bebas dari nikotin, gejala tersebut akan menghilang dengan sendirinya dan Anda pun bisa terbebas dari rokok.
6. Lakukan terapi relaksasi
Berhenti merokok mungkin bisa membuat diri Anda stres. Namun, hal ini bisa diatasi dengan berbagai metode relaksasi, seperti mendapatkan pijatan, mendengarkan musik klasik, atau atau relaksasi pernapasan. Anda juga bisa mengatasinya dengan melakukan olahraga ringan, seperti yoga atau jogging. Ibadah puasa sangat efektif untuk berhenti merokok.
7. Cobalah hipnoterapi
Cara efektif berhenti merokok lainnya adalah dengan menjalani terapi alternatif berupa hipnoterapi. Belum diketahui secara pasti apakah prosedur ini benar-benar efektif membuat seseorang berhenti merokok. Namun, sebagian orang mengaku telah merasakan manfaatnya.
Berhenti merokok memang bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Jika berbagai cara di atas belum bisa membantu atau Anda masih merasa kesulitan berhenti merokok, cobalah konsultasikan ke dokter agar dokter dapat menentukan cara efektif berhenti merokok sesuai kondisi Anda.(AM/*)



