
Sumbawa Besar,anugerah-media.com
Hari Ahad 5 April 2026 kemarin, Lembaga Adat Tana Samawa (LATS) mengadakan Dzikir dan Doa Bersama dalam rangka memperingati dua momen penting sekaligus yaitu 15 (lima belas) tahun Penobatan Sultan dan Malikelis (Milad/Ulang Tahun) ke- 85 Sultan Muhammad Kaharuddin IV. Tepat setelah shalat Isya’ para undangan mulai berdatangan di Istana Bala Kuning, diantaranya pegiat adat dalam internal LATS yang terdiri dari: Pariwa Adat LATS yaitu Dr. KH. Lalu Zulkifi Muhadli, SH., MM. dan Muhammad Yakub Daeng Kusuma Dewa, S.Sos; Sekretaris Majelis Adat LATS: Yuli Andari Merdikaningtyas, MA; Ketua Dewan Syara’ LATS: Dea Guru Syukri Rahmat, S.Ag., M.M.Inov.; Ketua Pajatu Adat LATS: Dr. Muhammad Ikhsan Safitri, M.Si; Anggota Dewan Adat LATS yang terdiri dari para sesepuh Kesultanan Sumbawa; Pajatu Adat LATS Kabupaten Sumbawa dan LATS Kamutar Telu (Kabupaten Sumbawa Barat).
Turut hadir dalam acara ini Bupati Sumbawa yang telah disematkan gelar adat Dea Pati Kanadi Ling Samawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, MP beserta istri; Bupati KSB (Dea Pati Kanadi Ling Kamutar Telu), H. Amar Nurmansyah, ST., M.Si.; Wakil Bupati Sumbawa (Wakil Dea Pati Kanadi Ling Samawa), Drs. Mohamad Ansori beserta istri; Sekretaris Daerah Kabupaten Sumbawa, Dr. Budi Prasetiyo, S.Sos., M.A.P.; Kepala Bappeda Kabupaten Sumbawa, Dr. Dedy Heri Wibowo, S.Si., M.Si.; dan sejumlah tokoh masyarakat Sumbawa dan KSB. Sambil menunggu para undangan, panitia menyuguhkan pemutaran cuplikan rekaman video penobatan Sultan Muhammad Kaharuddin IV yang berlangsung pada tanggal 5 April 2011.
Tepat pukul 20.00 WITA, acara pertama dimulai. Diisi dengan Dzikir bersama yang dipimpin oleh Ketua Dewan Syara’ LATS. Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Ayat Suci Al-Qur’an. Setelah acara pembukaan selesai, kemudian dilanjutkan dengan acara inti yaitu Pengantar dan Penyampaian Titah Sultan Sumbawa XVIII, Dewa Masmawa Sultan Muhammad Kaharuddin IV yang disampaikan oleh Pariwa Adat LATS, Dr. KH. Lalu Zulkifi Muhadli, SH., MM. Titah ini diawali dengan refleksi 15 Tahun Penobatan Sultan. Refleksi ini mengingatkan kita tentang kekayaan sejarah terutama di Era Kesultanan Sumbawa yang mewarnai peradaban Islam di Nusantara.
“Penobatan Sultan Sumbawa tidak hanya penting bagi keberlanjutan peradaban Tau Samawa yang dapat menghadirkan historical pride (kebanggan sejarah) pada generasi kita sekarang, namun juga memberikan arah dan panduan terhadap jati diri kita sebagai Tau Samawa kepada anak cucu kita di masa sekarang dan akan datang,” tegas Buya Zul, sapaan akrab Dr. KH. Lalu Zulkifi Muhadli, SH., MM. Nilai-nilai luhur Adat Barenti Ko Syara’, Syara’ Barenti Ko Kitabullah adalah filosofi warisan leluhur Tau Samawa yang sangat kaya makna. Kehadiran Sultan dimaknai sebagai “Puen Rea” dimana entitas masyarakat adat Tau Samawa masa kini berlindung dan bernaung. Sultan adalah penjaga marwah Tau Ke Tana Samawa.
Selanjutnya Manik/Titah Sultan dibacakan yang buntinya sebagai berikut:
Bismillahirrahmanirrahim
Dengan memohon ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta dengan penuh tanggung jawab terhadap masa depan Tana Samawa, pada momentum yang penuh makna ini, Kami menyampaikan PASATOTANG sebagai berikut:
“Di tengah gelombang zaman yang penuh ketidakpastian, kami menyerukan kepada seluruh Tau Samawa: tetaplah teguh, tetaplah jernih, dan jangan pernah goyah oleh provokasi. Perkuat persatuan, eratkan kebersamaan, karena di sanalah kekuatan kita bertumpu. Hidupkan Adat Barenti Ko Syara’, Syara’ Barenti Ko Kitabullah. Jangan biarkan filosofi ini hanya menjadi simbol—jadikan ia napas dalam setiap langkah, dalam setiap keputusan. Bangkitkan kembali semangat Basiru (Gotong Royong) dan Tulung (Tolong Menolong), agar kita saling menguatkan, saling menjaga, dan tidak meninggalkan satu pun di antara kita.
Kami ingatkan: jadilah penjaga harmoni—bagi lembaga adat, bagi seluruh elemen masyarakat—untuk merawat kesejukan, meneguhkan persaudaraan, dan menolak segala yang memecah belah. Dan kepada kita semua, ingatlah: alam adalah amanah. Ia bukan warisan yang dihabiskan, melainkan titipan yang harus dijaga, agar tetap lestari bagi anak cucu kita.
Berlandaskan takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, berpegang pada falsafah ‘Taket Ko Nene, Kangila Boat Lenge’, marilah kita teguhkan kebersamaan Tau dan Tana Samawa—menuju kehidupan yang selamat, beradab, dan bermartabat. Kini, esok, dan sepanjang masa.”
Demikian PASATOTANG ini Kami sampaikan untuk menjadi parenti (pedoman) bagi seluruh Tau Samawa.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa membimbing langkah kita, menjaga Tana Samawa, dan menguatkan kita dalam menjaga nilai, budaya, dan kehidupan yang beradab dan bermartabat.
Samawa Datu, 5 April 2026 M / 17 Syawwal 1447 H
DEWA MASMAWA SULTAN MUHAMMAD KAHARUDDIN IV
Setelah pembacaan Manik/Titah Sultan Muhammad Kaharuddin IV, Bupati Sumbawa (Dea Pati Kanadi Ling Samawa) Ir. Syarafuddin Jarot, MP menyampaikan Pidato Kebudayaan. Refleksi 15 Tahun Penobatan Sultan ini menjadi momentum yang tepat untuk memperkuat jati diri kita sebagai Tau Samawa dan melihat hubungan relasi antara manusia dan alam sekitarnya. Harmonisasi antara Tau Samawa dan alam sekitarnya dapat dilihat dari adanya istilah “Mole Pade Antap”, “Balong Ai Kayu”, dan “Telas Kebo Jaran”. Hal ini sinergi dengan program Sumbawa Hijau Lestari yang sedang digalakkan oleh pemerintah. Sumberdaya alam dan budaya Sumbawa bukan untuk dihabiskan, namun titipan untuk generasi mendatang. Alam dan budaya kita selalu bersinergi dan melengkapi.

Usai pidato dari Bupati Sumbawa, giliran H. Amar Nurmansyah, ST., MT., Bupati KSB (Dea Pati Kanadi Ling Kamutar Telu) menyampaikan sambutannya yang diawali dengan cerita personal tentang kawasan Kesultanan Sumbawa yang hari ini berada di Kecamatan Sumbawa. Ingatan personal ini menjadi refleksi dari memori kolektif yang dapat dilihat sebagai pentingnya pewarisan nilai-nilai budaya Tau Samawa bagi generasi muda. “Kabupaten Sumbawa dan KSB memiliki akar yang sama yaitu sebuah peradaban masa lalu di Era Kesultanan Sumbawa. Kita memiliki akar dan pohon besar yang sama tempat kita bernaung. Hal ini merupakan kekayaan dan warisan yang tak ternilai harganya yang harus kita jaga untuk semakin memperkuat jadi diri kita sebagai Tau Samawa.”
Berakhirnya sambutan dari Bupati KSB, maka acara inti ditutup dan diisi dengan silaturrahmi dan ramah tamah. Suasana keakraban muncul sebagai bentuk kekuatan tali persaudaraan yang penuh dengan harmoni. Acara berakhir pada pukul 23.00 WITA. (AM)



