Oleh dr. H Minanur RahmanDunia terus bergerak menuju peradaban baru yang lebih damai. Penguasaan suatu bangsa terhadap bangsa lain telah berakhir dengan perang kemerdekaan. Perang dingin ekonomi antar negara adidaya pun hampir berakhir. Akan tetapi, masih ada bangsa besar yang bernafsu menguasai dunia dengan Penjajahan Kapitalisme. Dengan menggelontor dana pinjaman jangka panjang, negara yang lemah akan didikte dan diperas sebagai sapi perah.
   Negara Kapitalis tersebut melakukan upaya *adu domba umat muslim* dengan *isu Terorisme dan Khilafah ISIS*. Mereka telah menghancurkan sebagian negara negara di Timur Tengah dan berhasil menguasai sebagian besar tambang minyak. Oleh karena itu strategi tersebut dijuluki *WAR FOR OIL*. Drama ISIS pun hampir selesai dengan hancurnya Negara Syria.
   Kini Indonesia menghadapi ancaman penjajahan kapitalisme itu.
   Bangsa Indonesia sedang diuji Persatuannya. Ada dua kekuatan besar yang sedang berebut kekuasaan yaitu kelompok Kapitalis dan kelompok Ideologis. Kedua kekuatan ini sedang berbenturan karena belum ada titik temu. Kelompok KapitalIs berfikir keuntungan dan kemajuan, sedangkan kelompok Ideologis berfikir keadilan dan kemakmuran rakyat. Saat ini kelompok Kapitalis sedang berkuasa, akan tetapi rakyat lebih cenderung pada kelompok ideologis. Rakyat berharap adanya pemerataan kemakmuran.
   Kini Indonesia memasuki era *Benturan Peradaban* yang berarti adu cara pandang atau pola pikir /Mind Set. Peradaban berasal dari kemajuan ilmu pengetahuan. Terjadi disparitas antara yang satu dengan yang lain. Atau terjadi kesenjangan antar kelompok masyarakat. Ada *gagal paham* antara kelompok Kapitalis dengan kelompok Ideologis.
   Akibat gagal paham, maka setiap kelompok masyarakat memiliki sudut pandang yang berbeda. Sudut pendang tersebut terus diperkuat dengan argumen yang memperkokoh pandangannya. Secara perlahan terjadilah ‘gap’ atau kesenjangan. Bahkan yang satu menyalahkan yang lain. Pada akhirnya melahirkan konflik.
   *Benturan ideologi Kapitalisme dengan Ideologi agama dan budaya*. Yang satu bicara ‘benefit atau keuntungan’, sementara yang lain bicara ‘nilai-nilai’. Yang satu lahir, dibesarkan dalam budaya dan tradisi keagamaan yang ketat. Belajar dan hidup dalam tradisi santri dan pesantren. Sementara yang lain berproses di pendidikan yang umum, tidak banyak berurusan dengan agama, dan keluarga hanya menjadikan agama sebagai perekat sosial (agama simbol). Ada perbedaan yang tajam keduanya, satu sama lain tidak menjangkau atas kedalaman pengetahuannya.
   Meskipun ada benturan /konflik bukan berarti tidak bisa disatukan. Dalam sejarah, bentrok ideologi memang sangat keras, bahkan bisa memicu perang. Tetapi di zaman milenium ini benturan tersebut dapat diselesaikan dengan musyawarah dalam proses demokrasi.
   Sering kali Ideologi harus mengalah dengan keadaan. Pilihannya adalah kompromi. Kompromi untuk menang, untuk kepentingan yang lebih besar. Namun perlu duduk bersama bagaimana kompromi tersebut disusun—sesuai dengan harapan semua pihak, bukan salah satu pihak saja. Jangan mentang mentang punya duit serta pemegang kebijakan, lalu memaksakan kehendaknya. Demikian pula kelompok yang lain harus legowo atas perubahan dunia yang terus melaju tanpa kendali.
   Memasuki era milenium ini terjadi Pergeseran Peradaban Dunia dari Kapitalisme Pragmatis menuju Ideologi Moralitas Monoteisme. Masyarakat dunia, yang sudah mencapai kemakmuran, melihat adanya ketimpangan keadilan. Berbagai peristiwa konflik kemanusiaan telah menimbulkan banyak korban tak berdosa, terutama umat muslim. Muncullah kesadaran global untuk membangun masa depan dengan moralitas. Mereka banyak yang baru menyadari *keindahan agama Islam* yang selama ini diberitakan buruk oleh media masa mainstream.
   Peristiwa *pembantaian jama’ah sholat Jumat di New Zeland* menghentak hati nurani muslim seluruh dunia. Umat muslim memuji Perdana Menteri dan Aparat Keamanan serta rakyat New Zeland yang berduka atas kejadian tersebut. Rakyat New Zeland juga takjub pada umat muslim yang sabar dan tidak dendam terhadap sang pembantai. Inilah SKENARIO BESAR dari Allah Subhanahu wata’ala dalam mengantarkan ke perubahan peradaban menuju PERADABAN ISLAM yang damai, adil dan makmur.
SELURUH DUNIA TERBUKA UNTUK ISLAM
 Islamopobhia atau kebencian terhadap umat Islam makin melemah dan memudar. Manusia di seluruh dunia telah melihat kenyataan bahwa *tidak ada alasan untuk membenci umat muslim maupun agama Islam*.
   Kebencian terhadap umat muslim selama ini adalah akibat *propaganda massive* yang terencana dan diorganisasi dengan baik. Sudah ratusan tahun yang lalu sejak peristiwa *crusade /perang salib* (abad XI), tradisi perang atas perintah gereja menjadi alasan penaklukan dan pembantaian bangsa bangsa Asia timur (yang dianggap sesat).
   Setelah berakhirnya Perang Dunia kedua, segala bentuk peperangan dan penjajahan sepakat untuk dihentikan. Akan tetapi kebencian yang mendarah daging dan untuk menutupi kelamnya *kejahatan perang*, maka dibuatlah narasi sejarah yang membenarkan *perbuatan jahat* tersebut. Segala peristiwa yang berkaitan dengan umat muslim diberitakan dari sisi negatif, sehingga terkesan umat muslim itu jahat, bodoh, jorok, miskin dan berbahaya.
   Dengan berkembangnya teknologi informasi, maka siapa pun di seluruh penjuru dunia dapat mengakses informasi yang otentik /orisinal. Sejak itulah manusia seluruh dunia bisa melihat yang sebenarnya terjadi pada kehidupan umat muslim.
   Memasuki abad 21 telah terjadi berbagai tragedi kemanusiaan akibat *Bom berdaya ledak tinggi* menghancurkan beberapa Gedung di kota kota Besar. Puncak Peledakan Gedung yang mengguncang dunia adalah *runtuhnya TWIN TOWER WORLD TRADE CENTER* di New York pada tanggal 11 September 2001. Pemerintah Amerika Serikat langsung menuduh pelakunya adalah golongan muslim pimpinan Osamah bin Laden.
   Sejak saat itu kebencian terhadap umat muslim makin memuncak. Akibatnya Amerika Serikat dan sekutu menghancurkan negara yang mendukung Osama. Di sisi lain, masyarakat dunia makin penasaran dengan umat muslim dan agama Islam. Dengan teknologi informasi mereka *terbelalak menyaksikan kehidupan umat muslim yang sebenarnya* dan *terkagum kagum ketika mempelajari agama Islam*. Maka terjadilah satu demi satu mereka mengucapkan kalimat syahadat dan memeluk agama Islam.
   Kebencian terhadap umat muslim kemudian diwujudkan dengan isu terorisme, radikal, dan berdirinya Pemerintah Khalifah. Dengan memanfaatkan Fanatisme, faham takfiri dan perbedaan madzhab serta kebangsaan, negara negara pembenci Islam mengembangkan kelompok Ekstrem untuk melakukan teror. Setiap kali ada aksi teror kelompok Ekstrem muslim, seluruh media mainstream memberitakan dengan *blow up* sehingga menimbulkan kebencian dari seluruh dunia, bahkan umat muslim pun ikut membenci.
   Skenario *pembusukan citra Islam* dengan isu terorisme ternyata tidak berjalan dengan baik. Ternyata umat muslim tak simpatik dan menentang tindakan teror tersebut. Ini berarti kelompok Ekstrem yang melakukan teror sesungguhnya bukan muslim yang baik. Akhirnya *kader kader terorisme* satu demi satu meledakkan diri dan umat muslim bersyukur.
   Demikian pula isu pembentuk Khalifah oleh ISIS pun berakhir tragis. Dunia Islam tidak tertarik untuk mendukung maupun memusnahkan ISIS. Biarkan negara adidaya yang mendesain Khalifah ISIS yang menaklukkan. Justru yang terjadi umat muslim di seluruh dunia tidak peduli dengan penghancuran pasukan ISIS oleh pasukan Sekutu.
   Menjelang tahun 2020 dunia dikejutkan dengan peristiwa pembantaian lebih dari 50 jama’ah sholat Jum’at di 2 masjid di New Zeland, negara yang terkenal sangat beradab, damai dan toleran. Dunia muslim syok dan sedih. Anehnya di dunia Barat berita ini tidak menjadi berita besar. Umat muslim bersimpati dan berterimakasih kepada Perdana Menteri dan Pemerintah New Zeland yang bertindak simpatik mengamankan warga muslim di sana. Perdana Menteri mengatakan *seharusnya seluruh dunia terbuka untuk muslim*.(AM)



