Senin, 11 Mei 2026
spot_img

Regrouping Atasi Sekolah Kekurangan Murid

Oleh dr. H Minanur Rahman
Banyak sekolah dasar (SD) negeri mengalami kekurangan siswa saat pendaftaran siswa baru tahun 2024 lalu. Sekolah-sekolah ini kosong meski batas pendaftaran akhir usai. Fenomena kosongnya SD negeri ini terus berulang beberapa tahun terakhir ini. Lantas apakah yang menyebabkan penurunan murid SD negeri ini?
   Apakah benar ini disebabkan karena menjamurnya SD swasta, atau disebabkan hal yang lebih mendalam seperti turunnya tingkat kesuburan di Indonesia?
  Pemberitaan detikcom pada Juli 2024 lalu menyatakan di SD negeri di Gumukrejo, Boyolali hanya terdapat lima siswa baru. Kemudian di wilayah Ponorogo ada lima SD negeri yang tidak mendapatkan satupun murid dan ada sebelas SD negeri di kawasan itu hanya mendapatkan dua orang siswa. Hal yang sama terjadi di SDN 331, Bawean, Gresik yang hanya mendapatkan 4 siswa baru.
   Fenomena kesulitan mendapatkan murid baru ini juga tidak hanya terjadi di Jawa, sekolah SDN Sapurna di Barito Kuala, Kalimantan Selatan, juga terancam ditutup karena kekurangan murid. Pada tahun 2023 hal yang sama juga terjadi, sejumlah SD negeri di Semarang kekurangan murid dan ada yang hanya mendapatkan 4 orang murid. Hal ini juga terjadi di beberapa wilayah lainnya pada tahun 2023 lalu.
  Untuk melihat penyebab penurunan siswa SD negeri ini, kita perlu melihat tren jumlah siswa SD di Indonesia dari tahun ke tahun. Jumlah siswa SD ini merupakan total jumlah siswa SD baik yang bersekolah di SD negeri maupun di SD swasta. Menurut data BPS jumlah siswa SD pada 2009/2010 mencapai 27.328.601 siswa, jumlah ini kemudian naik pada tahun berikutnya 2010/2011 menjadi 27.580.215.
  Lalu jumlah siswa SD di Indonesia ini meningkat sedikit pada tahun berikutnya 2011/2012 menjadi 27.583.919. Namun sepuluh tahun setelah 2011/2012 jumlah siswa SD di Indonesia terus mengalami penurunan. Pada 2021/2022 jumlah siswa SD di Indonesia tinggal 24.331.756.
Penurunan Tingkat Kesuburan di Indonesia
  Lalu apa yang menyebabkan penurunan siswa SD ini? Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah makin menurunnya tingkat kesuburan atau Total Fertility Rate (TFT) di Indonesia. Angka Total Fertility Rate menggambarkan jumlah rata-rata anak yang dilahirkan saat seorang wanita berada pada masa suburnya pada kisaran usia 15-49 tahun.
  Angka ideal Total Fertility Rate adalah 2,1 artinya wanita dalam usia suburnya melahirkan setidaknya dua orang anak. Dua anak ini akan bisa menggantikan kedua orangtuanya bila mereka meninggal, dengan komposisi ini maka populasi di suatu wilayah akan stabil. Namun, bila angka Total Fertility Rate ini berada di bawah 2,1 maka populasi penduduk di wilayah itu bisa turun.
  Menurut data World Bank total fertility rate Indonesia pada 2010 adalah 2,452. Lalu nilai ini naik pada tahun 2011 menjadi 2,499. Setelah 2011, nilai total fertility rate Indonesia terus menurun terakhir pada 2022 nilai ini mencapai nilai 2,153.
  Kemudian kita juga ingin melihat apakah ada pengaruh dari perkembangan sekolah SD swasta dengan penurunan siswa SD Negeri di Indonesia. Karena ada kemungkinan perkembangan sekolah swasta juga ikut menggerus jumlah siswa SD negeri di Indonesia. Untuk melihat hal ini kita melihat pertumbuhan data siswa SD negeri dan SD swasta di Indonesia.
  Dari uraian di atas terlihat kosongnya bangku-bangku di sekolah dasar negeri ini disebabkan tren penurunan jumlah siswa SD di Indonesia. Tren penurunan jumlah siswa SD ini sejalan dengan makin turunnya tingkat kesuburan (total fertility rate) di Indonesia. Dengan semakin berkurangnya anak yang lahir di setiap keluarga maka akan semakin berkurang juga anak-anak yang mendaftar ke sekolah dasar. Hal ini menyebabkan jumlah siswa SD di Indonesia mengalami penurunan.
  Selain penurunan jumlah siswa SD, hal lain yang menyebabkan semakin berkurangnya jumlah siswa SD negeri adalah makin bertambahnya jumlah siswa di SD swasta. Dari data yang ada jumlah siswa SD negeri mengalami penurunan sedangkan jumlah siswa SD swasta terus mengalami peningkatan tiap tahunnya.
  “Regrouping” SD jalan keluar atasi kekurangan murid
  Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan bahwa regrouping atau menggabungkan beberapa sekolah dasar (SD) yang selama ini kekurangan murid dengan sekolah lain terdekat merupakan jalan keluar yang sangat rasional.
  “Karena memang beberapa sekolah itu muridnya sangat terbatas sehingga dari sisi pembiayaan itu sangat tidak efisien,” ujarnya menanggapi penggabungan SD yang direncanakan sejumlah kabupaten ketika mengunjungi SD 3 Pasuruhan Lor, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Kamis.
  Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kebumen berencana melakukan regrouping atau penggabungan 12 Sekolah Dasar Negeri (SDN) pada tahun 2026 ini. Kepala Bidang SD Disdikpora Kebumen, Budi Santoso, menyampaikan bahwa 12 sekolah tersebut direncanakan akan segera dilebur menjadi enam sekolahan.
  Ada beberapa hal mendasar yang melatarbelakangi kebijakan ini, utamanya adalah jumlah siswa yang sangat sedikit. Sesuai dengan aturan standar pendidikan, satu rombongan belajar (rombel) idealnya diisi oleh 28 orang siswa.
  Belasan sekolah dasar (SD) di Banyuwangi, Jawa Timur, ditutup karena kekurangan jumlah murid. Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi, Suratno mengatakan, ada 12 SD yang ditutup di sana. Penutupan belasan SD ini terjadi selama 3 tahun, mulai tahun 2021 hingga 2023. Menurut Suratno, sekolah-sekolah tersebut terpaksa digabung karena jumlah muridnya tidak mencukupi kuota minimal 10 murid setiap kelas.
  Mengacu pada ketentuan penerimaan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) minimal jumlah siswa minimal 60 orang setiap sekolah dalam tiga tahun terakhir.
  12 Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Bojonegoro akan dimerger atau dilebur lantaran kekurangan murid. Belasan SDN itu tersebar 7 kecamatan.
Kecamatan yang dimaksud meliputi Baureno, Bojonegoro kota, Dander, Kalitidu, Kanor, Kedungadem dan Sumberejo.
  16 SD Negeri di Pacitan akan Diregrouping jadi 8 Sekolah
  Dinas Pendidikan (Dindik) Kabupaten Pacitan bakal melakukan regrouping terhadap 16 sekolah dasar negeri (SDN) karena penurunan jumlah siswa dalam beberapa tahun terakhir. Kebijakan ini dilakukan demi efisiensi dan peningkatan mutu.
  Sejumlah SD Negeri di Indonesia mengalami kekurangan murid di awal tahun ajaran 2025/2026, bahkan beberapa sekolah tidak mendapatkan siswa sama sekali. Penyebab utama fenomena ini adalah *penurunan angka kelahiran, preferensi orang tua yang beralih ke sekolah swasta, serta lokasi sekolah yang jauh dari permukiman*.  Hal ini mendorong pemerintah daerah melakukan [regrouping] atau peleburan sekolah untuk efisiensi.(AM)

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles