
Oleh dr. H Minanur Rahman
Upaya perbaikan kualitas pendidikan lebih banyak pada perbaikan fasilitas pendidikan, peningkatan kesejahteraan guru, perubahan kurikulum, dan peningkatan kompetensi pendidik. Siswa lebih banyak dipandang sebagai obyek yang pasrah untuk dimanipulasi. Semua siswa dipandang sama sebagai obyek yang pasif yang tidak punya potensi unik.
Padahal siswa adalah manusia istimewa yang membawa potensi genetis yang terus bermutasi berkembang seiring waktu dari generasi ke generasi berikutnya. Setiap siswa adalah anak manusia yang membawa takdir unik. Masing-masing anak itu berbeda satu sama lain meskipun berasal dari ibu dan ayah yang sama, apalagi dari orang tua yang berbeda.
Selain dari faktor genetik, pertumbuhan dan perkembangan anak dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi, pola pengasuhan, tingkat pendidikan orang tua, lingkungan adat budaya masyarakat, dan kualitas pendidikan. Dari keunikan potensi genetis dan faktor eksternal yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak maka dibutuhkan berbagai pendekatan untuk peningkatan kualitas pendidikan.
Setiap orang tua tentu ingin anak-anaknya berkembang potensi genetisnya agar kelak menjadi manusia yang berguna sesuai takdir terbaiknya. Karena itu orang tua tentu akan mencarikan sekolah terbaik untuk anak-anaknya agar mendapatkan pendidikan dan pengajaran terbaik.
Bagi orang tua dengan status sosial ekonomi yang mapan tentu siap menyediakan dana pendidikan demi anak-anaknya berkesempatan untuk bersekolah di sekolah terbaik. Karena itu pantas ada sekolah dengan biaya tinggi dengan jaminan pendidikan berkualitas.
Sementara itu untuk masyarakat yang kurang mampu, pemerintah wajib menyediakan sekolah yang murah atau gratis tanpa mengabaikan kualitas pendidikan. Fakta bahwa sekolah milik pemerintah itu tidak sama kualitasnya, maka muncul sekolah Favorit yang menjadi rebutan.
Karena minat masyarakat yang tinggi pada sekolah favorit maka wajar bila ada proses seleksi masuk sekolah. Proses seleksi masuk sekolah ditujukan agar siswa-siswi yang diterima mempunyai kesetaraan potensi sehingga bisa mengikuti proses pendidikan dan pembelajaran yang efektif. Syukurlah *sistem zonasi penerimaan siswa sudah tidak pakai lagi*.
Secara umum rakyat Indonesia itu berpenghasilan rendah, meskipun tidak miskin. Penghasilan yang rendah ini berpengaruh pada pola makan dan status gizi siswa. Anak-anak sebagian besar sebelum berangkat ke sekolah tidak sempat sarapan bahkan banyak yang terbiasa tidak sarapan.
Akibatnya masalah kurang gizi pada anak-anak dan pelajar tidak pernah terselesaikan. Bahkan dalam dua dekade terakhir ini pemerintah gagal mengatasi stunting. Padahal ada intervensi gizi berupa PMT (pemberian makanan tambahan) pada anak-anak kurang gizi termasuk siswa sekolah.
Mengapa PMT anak sekolah ini gagal? Kegagalan disebabkan oleh pendekatan kuratif yang hanya mengintervensi anak-anak dengan gangguan gizi berat. Padahal masalah kurang gizi anak-anak lebih banyak disebabkan oleh kebiasaan/ pola makan yang kurang baik.
Untuk mengubah kebiasaan/ pola makan (terutama kebiasaan sarapan siswa) maka Pemerintah Presiden Prabowo mengadakan program *makan bergizi gratis* di sekolah-sekolah yang dianggap banyak anak-anak kurang gizi. MBG memberi makan pagi dengan menu gizi lengkap pada seluruh siswa di sekolah terpilih, tidak hanya anak-anak yang kurang gizi. Dengan harapan seluruh siswa terbiasa sarapan bergizi sehingga ada perbaikan gizi dan anak-anak lebih bersemangat untuk belajar.
Selain dari masalah kurang gizi, sekarang ini banyak siswa yang justru kelebihan berat badan. Anak-anak dengan kelebihan berat badan ini bisa dari keluarga mampu maupun keluarga kurang mampu secara ekonomi.
Anak-anak dengan kelebihan berat badan ini kebanyakan akibat kelebihan asupan makanan berkalori tinggi dan kurang gerak. Selain itu masih banyak anggapan masyarakat bahwa badan yang besar dan gemuk itu sehat, apalagi kalau anaknya senang makan.
Kita tahu bahwa peningkatan kasus penyakit tidak menular terutama diabetes dan hipertensi banyak disebabkan oleh makan berlebihan dan kurang aktifitas fisik. Karena itu anak-anak dengan kelebihan berat badan adalah masalah gizi yang berpotensi pada masa depan.
Untuk masalah kelebihan berat badan ini sekolah wajib melaksanakan kegiatan olahraga bersama setiap pagi sebelum pelajaran dimulai. Setiap dilakukan *pemeriksaan kesehatan rutin* terutama ukur berat badan dan tinggi badan. Anak-anak yang kelebihan berat badan diberikan tambahan jam olahraga khusus agar seimbang berat badan dengan tinggi badannya.
Di antara siswa tentu ada anak-anak istimewa dengan kelebihan kecerdasan dan bakat tertentu. Selain itu ada pula anak-anak istimewa dengan kebutuhan khusus termasuk kelainan psikologi dan perilaku. Untuk hal ini sekolah seharusnya melakukan skrining psikologi dan penelusuran bakat sejak awal anak-anak masuk sekolah. Hasil skrining ini disampaikan kepada orang tua/wali murid agar bisa sikapi dengan bijaksana.
Anak-anak yang terdeteksi mempunyai keistimewaan kecerdasan, bakat istimewa, difabel, atau punya kelainan psikologi perlu menjadi perhatian sekolah dan orang tua. Misalnya, beberapa sekolah telah membentuk kelas khusus yaitu *kelas cerdas istimewa* atau *kelas akselerasi* . Sedangkan anak-anak berbakat khusus juga dibuatkan kegiatan ekstrakurikuler yang mengasah bakat.(AM)



