
Oleh dr. H Minanur Rahman
“Worth it tidak, merantau itu?”
Pertanyaan itu muncul di kepala saya suatu malam, ketika berbaring sendirian di kamar kos Surabaya, ditemani oleh keheningan dalam benak pikiran saya. Ketika kita sedang menikmati momen yang berharga, tidak terasa waktu tersebut sudah berlalu.
Saat saya menulis esai ini, saya sedang berkuliah di Universitas Airlangga dan menginjak pertengahan semester 2. Rasanya baru kemarin dilantik menjadi mahasiswa baru di pulau Jawa Dwipa ini. Tidak terasa sudah hampir setahun semenjak saya merantau ke kota tempatnya para pemikir dan pahlawan era Proklamasi Kemerdekaan.
*Merantau merupakan pilihan yang dapat mengubah kehidupan seseorang*. Faktor-faktor seperti keinginan untuk mengubah nasib mengambil peran besar dalam mendorong seseorang untuk pergi dari kampung halamannya menuju ke tempat lain yang sekiranya dapat meningkatkan taraf kehidupan menjadi lebih baik. Diri saya pun juga tidak terkecuali, di mana saya datang dari kota yang jauh menuju ke Surabaya dengan harapan untuk mengubah kehidupan saya.
Dengan mengambil resiko untuk pergi jauh dari kampung halaman, saya mengambil keberanian untuk menempuh pendidikan di universitas berkualitas dunia. Tentunya, hal tersebut tidaklah mudah.
Selama 18 tahun saya tumbuh dan berkembang di Tangerang, saya dihadapkan dengan realita bahwa saya harus beranjak dewasa dan memulai kehidupan yang sebenarnya. Segala hal yang sudah membuat saya nyaman harus dilepaskan. Sebagai penggantinya, saya dipertemukan dengan sesuatu yang baru—lingkungan, budaya, pertemanan, dan identitas baru.
Kehidupan sehari-hari saya di Surabaya dan di Tangerang berbeda. Hari pertama di Surabaya, saya ditinggal sendirian tanpa satu pun wajah yang saya kenal. Tidak ada keluarga, tidak ada saudara, dan tidak ada yang bisa saya hubungi kalau tiba-tiba ada masalah. Yang ada diri saya sendiri, dan keheningan yang anehnya tidak sepenuhnya menyesakkan. Di balik rasa hampa itu, ada sesuatu yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Anehnya, untuk pertama kalinya, *saya memegang kendali penuh atas hidup saya sendiri.*
Surabaya membuka banyak pintu sekaligus. Peluang, tantangan, dan godaan datang hampir bersamaan. Tidak ada lagi orang tua yang biasanya mengingatkan, mengarahkan, atau sekadar memerhatikan apakah saya sudah makan atau belum. Saya harus belajar menjaga diri sendiri, bukan karena terpaksa, tapi karena memang tidak ada pilihan lain.
Namun, yang paling berat justru bukan soal uang atau jarak. Yang paling berat adalah *membangun identitas dari nol.* Di Tangerang, saya sudah tahu siapa saya. Saya ada nama, ada reputasi kecil, dan ada orang-orang yang mengenal saya. Namun di Surabaya, semua itu tidak berlaku. Saya kembali menjadi orang asing, bahkan bagi diri sendiri.
Dan pertanyaan yang tadinya terasa sederhana,“Siapa saya sebenarnya?” Hal tersebut tiba-tiba menjadi pertanyaan yang paling sulit untuk dijawab. Saya yang awalnya tahu siapa saya, sekarang saya perlu mencari tahu saya perlu jadi apa di sini.
Saya pun mulai mengambil banyak keputusan dengan mengikuti organisasi, mencoba berbagai kesempatan, dan tidak jarang gagal. Ada peluang yang saya kejar namun tidak membuahkan hasil. Ada pintu yang saya ketuk dan tidak selalu terbuka. Tapi justru di situ saya belajar bahwa merantau bukan hanya soal bertahan, melainkan soal terus bergerak meski tidak selalu tahu ke mana arah yang benar.
Merantau memang sulit. Merantau perlu biaya ekstra, keberanian, dan semangat untuk tidak menyerah. Ketika merantau, *diri kita sendiri adalah orang pertama yang harus kita andalkan*. Meskipun sulit saat pertama kali harus menerima kenyataan tersebut, sekarang saya sudah lebih terbiasa dalam mengambil keputusan untuk diri saya sendiri. Melalui perjalanan ini, diri saya setahun yang lalu mungkin tidak akan menyangka bahwa saya yang sekarang bisa mendapatkan pengalaman, teman baru, dan kesempatan yang baru.
Lalu, worth it tidak?
Jujur, pertanyaan itu tidak bisa dijawab dengan mudah. Merantau bukan sesuatu yang bisa dinilai hanya dari hasilnya saja karena prosesnya sendiri sudah mengubah banyak hal dalam diri saya. Saya datang ke Surabaya membawa harapan, tapi yang saya temukan justru lebih dari itu: *saya menemukan versi diri saya yang belum pernah ada sebelumnya.*
Kalau kamu sedang berdiri di persimpangan yang sama, yaitu mempertimbangkan untuk merantau atau tidak, saya tidak akan bilang merantau adalah hal yang mudah. Tapi saya akan bilang ini: *membangun segalanya dari nol memang melelahkan* pada awalnya, tapi seiring berjalannya waktu, kamu akan dipertemukan dengan berbagai peluang baru untuk berkembang.
*Tidak ada yang lebih memuaskan dari melihat apa yang berhasil kamu bangun sendiri.* Maka, apakah worth it merantau? Bagi saya, iya. Namun bukan karena semuanya berjalan lancar, melainkan karena meskipun jalan tidak selalu mulus, saya tetap terus melangkah maju dan berkembang menjadi diri saya yang lebih baik dari sebelumnya.(AM)



