Jumat, 10 Juli 2026
spot_img

MPLS Ramah 2026: Saatnya Sekolah Menjadi Rumah Kedua yang Menyenangkan

Oleh : Asmediati .S.Pd  Guru SMPN 1 Labuhan Badas
Tahun ajaran baru selalu menjadi momen yang penuh harapan. Ada siswa yang baru pertama kali masuk sekolah, ada yang naik jenjang, dan ada pula yang harus beradaptasi dengan lingkungan yang benar-benar baru. Di balik semangat itu, tidak sedikit anak yang merasa takut, cemas, bahkan khawatir menghadapi hari pertama di sekolah. Perasaan tersebut sering muncul karena mereka belum mengenal guru, teman, maupun budaya sekolah yang akan mereka jalani.
Karena itu, kebijakan tentang MPLS Ramah 2026 melalui Permendikdasmen Nomor 12 Tahun 2026 patut disambut dengan baik. Aturan ini mengingatkan semua sekolah bahwa kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah bukan sekadar acara penyambutan siswa baru. Lebih dari itu, MPLS harus menjadi pintu awal untuk membangun rasa aman, nyaman, dan bahagia bagi setiap peserta didik.
Sudah cukup lama masyarakat mendengar cerita tentang kegiatan MPLS yang diwarnai perpeloncoan. Ada siswa yang dipaksa membawa barang aneh, dihukum karena kesalahan kecil, bahkan mendapat bentakan yang membuat mereka malu di depan teman-temannya. Mungkin sebagian orang menganggap itu hanya tradisi atau candaan. Namun, bagi anak yang mengalaminya, pengalaman tersebut bisa meninggalkan rasa takut yang sulit dilupakan.
Sekolah seharusnya menjadi tempat belajar, bukan tempat untuk membuat anak merasa rendah diri. Anak yang baru masuk sekolah membutuhkan dukungan, bukan tekanan. Mereka memerlukan sambutan hangat agar percaya diri menjalani kehidupan sekolah yang baru.
Kehadiran aturan baru ini menunjukkan bahwa pendidikan Indonesia semakin memberi perhatian pada hak-hak anak. Sekolah bukan hanya tempat mengejar nilai akademik, tetapi juga tempat membentuk karakter. Karakter yang baik tidak akan tumbuh melalui kekerasan. Sebaliknya, karakter akan berkembang jika anak merasa dihargai, didengarkan, dan diberi contoh yang baik oleh orang-orang di sekitarnya.
Enam materi wajib dalam MPLS Ramah juga menunjukkan arah pendidikan yang lebih sesuai dengan kebutuhan zaman. Salah satunya adalah Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Kebiasaan baik harus ditanamkan sejak awal. Disiplin, hidup sehat, rajin belajar, saling menghormati, dan bertanggung jawab akan menjadi bekal penting bagi anak di masa depan. Kebiasaan tidak lahir dalam satu hari, tetapi harus dibangun melalui pembiasaan yang dilakukan terus-menerus.
Program Pagi Ceria juga menjadi langkah sederhana yang memiliki manfaat besar. Mengawali hari dengan senyum, salam, doa, lagu, atau kegiatan positif akan menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan. Anak-anak datang ke sekolah bukan dengan rasa takut, tetapi dengan semangat. Guru pun dapat membangun hubungan yang lebih dekat dengan peserta didik sejak pagi hari.
Materi tentang etika bermedia sosial juga sangat penting. Saat ini hampir semua anak sudah mengenal telepon genggam dan internet. Mereka mudah memperoleh informasi, tetapi juga mudah terpengaruh oleh hal-hal yang kurang baik. Banyak kasus perundungan justru bermula dari media sosial. Oleh karena itu, siswa perlu diajarkan cara menggunakan media sosial dengan bijak. Mereka harus memahami bahwa setiap tulisan, komentar, maupun unggahan memiliki dampak bagi orang lain.
Hal lain yang tidak kalah penting adalah pencegahan dan penanganan kekerasan, termasuk bullying. Perundungan sering dianggap sebagai hal biasa. Padahal, dampaknya bisa sangat berat. Ada anak yang kehilangan kepercayaan diri, tidak mau masuk sekolah, bahkan mengalami gangguan kesehatan mental karena terus menjadi korban ejekan atau intimidasi. Oleh sebab itu, semua warga sekolah harus memiliki komitmen untuk menghentikan segala bentuk kekerasan.
Guru memiliki peran yang sangat besar dalam menciptakan sekolah yang aman. Guru bukan hanya mengajar mata pelajaran, tetapi juga menjadi teladan dalam bersikap. Cara guru berbicara, memberi arahan, maupun menyelesaikan masalah akan menjadi contoh yang ditiru peserta didik. Ketika guru menghargai semua anak tanpa membeda-bedakan, siswa pun akan belajar menghormati teman-temannya.
Peran kakak kelas juga sangat penting. Mereka sering menjadi sosok yang lebih dekat dengan siswa baru. Jika kakak kelas bersikap ramah, membantu, dan memberi contoh yang baik, maka siswa baru akan lebih cepat beradaptasi. Sebaliknya, jika kakak kelas justru melakukan intimidasi atau perpeloncoan, suasana sekolah akan menjadi tidak nyaman. Karena itu, budaya saling menghargai harus dibangun bersama sejak hari pertama.
Pengenalan warga sekolah dan lingkungan sekolah juga tidak boleh dilakukan secara terburu-buru. Anak perlu mengenal ruang kelas, perpustakaan, laboratorium, tempat ibadah, UKS, kantin, hingga berbagai aturan yang berlaku. Semakin mengenal lingkungannya, semakin cepat mereka merasa menjadi bagian dari sekolah tersebut.
Begitu pula dengan pengenalan proses pembelajaran dan karakter sekolah. Setiap sekolah memiliki kebiasaan dan budaya yang berbeda. Ada yang membiasakan membaca sebelum pelajaran dimulai, ada yang mengutamakan kebersihan, ada pula yang menanamkan budaya disiplin melalui kegiatan harian. Semua itu perlu diperkenalkan dengan cara yang sederhana, menyenangkan, dan mudah dipahami oleh siswa.
Menurut saya, keberhasilan MPLS Ramah tidak hanya bergantung pada aturan pemerintah. Yang lebih penting adalah pelaksanaannya di lapangan. Sekolah harus benar-benar memahami tujuan dari kebijakan ini. Jangan sampai kegiatan hanya sekadar memenuhi jadwal tanpa memberikan pengalaman yang berkesan bagi peserta didik.
Orang tua juga perlu ikut berperan. Mereka dapat memberikan semangat kepada anak sebelum berangkat ke sekolah, mendengarkan cerita mereka sepulang sekolah, serta menjalin komunikasi yang baik dengan guru. Ketika sekolah dan keluarga saling bekerja sama, proses penyesuaian siswa akan berjalan lebih mudah.
Pada akhirnya, kesan pertama di sekolah akan sangat memengaruhi perjalanan belajar seorang anak. Jika hari-hari pertama dipenuhi rasa nyaman dan bahagia, mereka akan lebih mudah mencintai sekolah. Sebaliknya, jika pengalaman awal dipenuhi ketakutan dan tekanan, semangat belajar dapat menurun sejak awal.
MPLS Ramah 2026 membawa pesan sederhana, tetapi sangat bermakna. Sekolah harus menjadi rumah kedua bagi setiap anak. Tempat mereka belajar dengan gembira, berteman tanpa rasa takut, dan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter. Pendidikan yang baik tidak dimulai dengan hukuman atau perpeloncoan, melainkan dengan sapaan hangat, senyum yang tulus, serta lingkungan yang menghargai setiap peserta didik.
Semoga semangat MPLS Ramah benar-benar hadir di setiap sekolah di Indonesia. Bukan hanya sebagai program lima hari di awal tahun ajaran, tetapi menjadi budaya yang terus hidup sepanjang proses pendidikan. Ketika sekolah mampu menghadirkan rasa aman dan bahagia, anak-anak akan datang setiap pagi dengan senyum. Dari senyum itulah lahir semangat belajar, tumbuh karakter yang kuat, dan terbentuk generasi Indonesia yang cerdas sekaligus berakhlak mulia.[AM]

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles