
Oleh dr. H Minanurrahman
Nabi Muhammad SAW. bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawabannya”. Maka seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawabannya. Seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya dan ia akan dimintai pertanggung jawabannya. Seorang wanita adalah pemimpin atas rumah suaminya, dan ia pun akan dimintai pertanggung jawabannya. Dan seorang budak juga pemimpin atas harta tuannya dan ia juga akan dimintai pertanggung jawabannya. Sungguh setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya”, Sahih al-Bukhori.
Kepemimpinan berkaitan dengan tanggung jawab terhadap yang dipimpin /yang menjadi tanggungan. Makin tinggi kedudukan seorang pemimpin makin besar tanggung jawabnya. Tanggung jawab dalam kepemimpinan meliputi : Amanah /trust (terpercaya), kejujuran /truth (yang sebenarnya), kapabilitas (kemampuan), kompetensi (keahlian), kredibilitas (teruji/terbukti), pengarah /leader, kolaborator (penyelaras), inisiator (penggagas), problem solver (pemecah masalah), motivator, akselerator dan lainnya. Setiap kepemimpinan membutuhkan kriteria yang bervariasi tergantung pada apa tujuan kepemimpinan tersebut.
Al Qur’an surat An-Nisā’ :34 – “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena itu Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”.
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, ini berarti laki-laki bertanggung jawab terhadap wanita-wanita yang menjadi tanggungannya seperti istri, anak perempuan (yang belum menikah), saudara perempuan (yang tidak bersuami), dan ibu kandungnya. Tanggung jawab itu meliputi memberi nafkah, melindungi keamanan, perwalian dan kesaksian.
Laki-laki mempunyai kelebihan dalam kepemimpinan karena fisiknya lebih kuat, lebih stabil emosinya, dan tidak terbebani dengan mengasuh (hamil, menyusui) anak. Kelebihan laki-laki tersebut bukan berarti perempuan tak pantas menjadi pemimpin.
Meskipun makna al Qowwamah (kepemimpinan) diberikan kepada kaum pria dan tidak kepada yang lainnya akan tetapi sesungguhnya *kaum wanita tidaklah dilarang dari kepemimpinan* kecuali dalam kepemimpinan publik dengan syarat dirinya mampu memelihara seluruh adab-adab syar’i ketika keluar untuk suatu pekerjaan. Dan kepemimpinan didalam pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan kapabilitas, pengetahuan dan amanah.
Sesungguhnya tidak ada gender yang lebih baik daripada yang lain. Dari penelitian dan temuan survei lebih berfokus pada *bagaimana pria dan wanita dapat mengembangkan keterampilan kepemimpinan dan kemampuan mereka*, dan tidak ada bidang tertentu yang khusus disediakan untuk satu gender atau yang lain.
Kepemimpinan laki-laki harus dipersiapkan sejak masa anak anak berkaitan dengan tugas sebagai pemimpin keluarga. Anak laki-laki perlu bimbingan dan keteladanan kepemimpinan dari sang ayah. Ayah sebagai kepala keluarga yang baik harus disiplin, tegas, adil, selalu berkata jujur, berperilaku baik, dan bekerja keras mencari nafkah untuk keluarga.
Anak laki-laki harus diajak ayahnya mengerjakan tugas seorang kepala keluarga seperti menjadi imam sholat berjama’ah, memimpin mengambil keputusan, berpikir kreatif memecahkan masalah dan berani menghadapi risiko ancaman.
Di sekolah, anak laki-laki didorong untuk berlatih kepemimpinan di kelas, Pramuka, baris berbaris dan organisasi siswa. Meskipun perlu kesetaraan gender, tapi laki-laki harus lebih diutamakan.
Memiliki jiwa kepemimpinan penting untuk dimiliki seseorang. Namun, jiwa kepemimpinan tidak tumbuh begitu saja melainkan harus dipupuk dengan proses yang cukup panjang.
Jiwa kepemimpinan adalah kemampuan untuk memimpin, memotivasi, dan mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan bersama. Kemampuan ini bukan hanya dimiliki orang dewasa, tetapi juga bisa dikembangkan sejak usia dini.
Anak-anak usia sekolah dasar merupakan saat yang tepat untuk mulai melatih jiwa kepemimpinan mereka. Sebab, di usia ini ada banyak cara menumbuhkan karakter anak dan kepemimpinan.(AM)



