Perundungan di Sekolah: Luka Sunyi yang Menggerogoti Masa Depan

Oleh Sri Asmediati.S.Pd Guru SMP Negeri 1 Labuhan Badas
Sekolah seharusnya menjadi ruang aman—tempat anak-anak belajar mengenal dunia,
menumbuhkan mimpi, dan membangun kepercayaan diri. Namun bagi sebagian siswa, sekolah
justru menjadi medan ketakutan. Setiap pagi bukan diawali dengan semangat belajar,
melainkan kecemasan akan ejekan, ancaman, atau perlakuan merendahkan dari teman sebaya.
Fenomena itulah yang kita kenal sebagai perundungan (bullying), sebuah persoalan lama yang
hingga kini belum juga tuntas di dunia pendidikan kita.
Perundungan di sekolah bukan sekadar kenakalan remaja atau konflik biasa antar siswa. Ia
adalah bentuk kekerasan—baik fisik, verbal, sosial, maupun digital—yang dilakukan secara
berulang dan melibatkan relasi kuasa yang timpang. Ada yang merasa lebih kuat, lebih populer,
atau lebih berpengaruh, lalu menggunakan posisi itu untuk menekan yang dianggap lemah.
Yang mengkhawatirkan, praktik ini sering kali terjadi di depan mata banyak orang, tetapi
dibiarkan berlalu seolah hal yang lumrah.
Wajah-Wajah Perundungan yang Kerap Diabaikan
Selama ini, perundungan kerap disempitkan maknanya hanya pada kekerasan fisik: memukul,
menendang, atau mendorong. Padahal, bentuk yang paling banyak terjadi justru perundungan
verbal dan psikologis. Ejekan tentang fisik, latar belakang keluarga, kondisi ekonomi, atau
prestasi akademik sering dilontarkan sebagai “candaan”. Padahal, bagi korban, kata-kata itu
bisa menjadi luka yang menetap lama di dalam ingatan.
Di era digital, perundungan menemukan wajah barunya melalui media sosial. Grup percakapan
kelas, kolom komentar, hingga unggahan yang sengaja mempermalukan seseorang menjadi
sarana empuk bagi cyberbullying. Ironisnya, perundungan jenis ini jauh lebih sulit dihentikan
karena tidak mengenal batas ruang dan waktu. Sekali konten tersebar, dampaknya bisa berkali-
kali lipat lebih menyakitkan.
Yang lebih memprihatinkan, banyak korban memilih diam. Mereka takut dianggap lemah, takut
dibalas lebih keras, atau takut tidak dipercaya oleh guru dan orang dewasa. Diamnya korban
inilah yang membuat perundungan terus hidup dan menjelma menjadi budaya kekerasan yang
tersembunyi.
Dampak Jangka Panjang yang Mengkhawatirkan
Perundungan bukan sekadar soal perasaan tersinggung atau sedih sesaat. Berbagai penelitian
menunjukkan bahwa korban perundungan berisiko tinggi mengalami gangguan kecemasan,
depresi, penurunan prestasi belajar, bahkan keinginan untuk menyakiti diri sendiri. Dalam kasus
ekstrem, perundungan dapat berujung pada tragedi yang tidak pernah kita inginkan.
Dampaknya juga tidak berhenti pada korban. Pelaku perundungan yang tidak pernah disentuh
pembinaan berisiko membawa pola kekerasan itu hingga dewasa. Mereka tumbuh dengan
keyakinan bahwa menekan orang lain adalah cara yang sah untuk menunjukkan kuasa. Dengan
kata lain, perundungan di sekolah adalah benih masalah sosial di masa depan.
Lingkungan sekolah pun ikut tercemar. Ketika perundungan dibiarkan, rasa aman kolektif
runtuh. Siswa belajar bahwa kekerasan bisa dinegosiasikan, bahwa empati tidak selalu penting,
dan bahwa diam sering kali lebih aman daripada membela kebenaran. Ini jelas bertolak
belakang dengan tujuan utama pendidikan.
Mengapa Perundungan Terus Terjadi?
Pertanyaan penting yang perlu diajukan adalah: mengapa perundungan terus berulang meski
berbagai regulasi dan kampanye telah digulirkan? Salah satu jawabannya terletak pada budaya
permisif. Banyak orang dewasa—baik guru maupun orang tua—masih menganggap
perundungan sebagai bagian dari proses “pendewasaan”. Kalimat seperti “anak-anak memang
begitu” atau “nanti juga terbiasa” menjadi pembenaran yang keliru.
Selain itu, sistem pendidikan kita masih terlalu menekankan capaian akademik dan
mengabaikan pendidikan karakter secara mendalam. Sekolah sibuk mengejar nilai, peringkat,
dan prestasi, tetapi lalai membangun empati, toleransi, dan keterampilan sosial siswa. Padahal,
kecerdasan emosional adalah fondasi penting dalam mencegah kekerasan antar sesama.
Faktor lain yang tak kalah penting adalah minimnya keteladanan. Anak-anak belajar bukan
hanya dari apa yang diajarkan, tetapi dari apa yang mereka lihat. Ketika mereka menyaksikan
ujaran kebencian, saling merendahkan, atau kekerasan simbolik di ruang publik dan media,
perilaku itu dengan mudah direplikasi di sekolah.
Peran Guru dan Sekolah: Lebih dari Sekadar Pengajar
Guru memiliki posisi strategis dalam memutus mata rantai perundungan. Namun peran ini tidak
bisa dijalankan setengah hati. Guru bukan hanya pengajar mata pelajaran, tetapi juga penjaga
iklim psikologis kelas. Kepekaan terhadap perubahan perilaku siswa—menjadi pendiam,
menarik diri, atau tiba-tiba menurun prestasinya—bisa menjadi pintu awal untuk mendeteksi
perundungan.
Sekolah perlu memiliki kebijakan yang tegas, jelas, dan berpihak pada korban. Penanganan
perundungan tidak boleh berhenti pada sanksi semata, tetapi harus disertai pendekatan
edukatif dan restoratif. Pelaku perlu dibina agar memahami dampak perbuatannya, sementara
korban harus dipulihkan rasa aman dan harga dirinya.
Lebih dari itu, sekolah harus menciptakan budaya saling menghargai. Program anti-
perundungan tidak cukup berupa slogan di dinding atau seremoni sesaat. Ia harus hidup dalam
praktik sehari-hari: dalam cara guru berbicara kepada siswa, dalam mekanisme penyelesaian
konflik, dan dalam ruang partisipasi yang memberi suara kepada anak-anak.
Peran Orang Tua dan Masyarakat
Tanggung jawab mencegah perundungan tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada sekolah.
Orang tua memegang peran kunci dalam membentuk karakter anak sejak dini. Komunikasi yang
hangat, pengawasan yang bijak terhadap penggunaan gawai, serta penanaman nilai empati di
rumah adalah benteng awal yang sangat penting.
Masyarakat pun tidak boleh abai. Ketika kasus perundungan mencuat, respons kita sering kali
terjebak pada sensasi dan penghakiman di media sosial. Padahal, yang lebih dibutuhkan adalah
solidaritas, edukasi, dan dorongan agar semua pihak berbenah. Perundungan bukan aib korban,
melainkan cermin kegagalan kolektif kita dalam melindungi anak-anak.
Menuju Sekolah yang Aman dan Manusiawi
Mengakhiri perundungan di sekolah memang bukan pekerjaan mudah. Ia menuntut perubahan
cara pandang, keberanian untuk bersikap, dan komitmen jangka panjang. Namun, upaya ini
bukan pilihan—melainkan keharusan. Masa depan bangsa sedang dipertaruhkan di ruang-ruang
kelas hari ini.
Sekolah yang aman bukanlah sekolah tanpa konflik, melainkan sekolah yang mampu mengelola
perbedaan dengan cara yang beradab. Di sanalah anak-anak belajar bahwa setiap manusia
layak dihormati, bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada menindas, melainkan pada
kemampuan melindungi yang lemah.
Perundungan di sekolah adalah luka sunyi yang sering tersembunyi di balik seragam rapi dan
senyum palsu. Sudah saatnya kita berhenti menutup mata. Setiap anak berhak merasa aman
untuk belajar, tumbuh, dan bermimpi. Dan tugas kitalah—sebagai pendidik, orang tua, dan
masyarakat—untuk memastikan hak itu benar-benar terwujud.(AM/*)