Senin, 2 Februari 2026
spot_img

Agroforestri ; Pertanian Satu Kebun Berkali-kali Panen

Oleh dr. H Minanur Rahman
INDONESIA memiliki hamparan yang luas dan potensial untuk komoditas perkebunan seperti kelapa, karet, kopi, kakao, sawit, pala, mete dan lain-lain. Luas lahan yang dialokasikan untuk perkebunan kelapa sawit mencapai sekitar 16 juta hektare, disusul kakao (1,53 juta ha) dan kopi (1,24 juta ha). Ironisnya, luasnya lahan perkebunan ini belum dioptimalkan untuk mendukung ketahanan pangan nasional.
  *Pola tanam monokultur membuat jutaan hektare lahan sebenarnya underutilized*.
  Pada kebun sawit atau karet, misalnya, di tahun-tahun awal pertumbuhan tanaman pokok, banyak ruang dan sinar matahari yang terbuang percuma. Di kebun kelapa atau pala yang sudah dewasa, tajuk pohon yang tinggi pun seringkali masih menyisakan celah sinar matahari di bawahnya.
  Lahan “kosong” di antara tanaman perkebunan ini merupakan potensi terlantar yang sebetulnya bisa dioptimalkan.
   *Paradigma monokultur* juga rentan dari sisi ekonomi dan ketahanan pangan. Petani sangat bergantung pada satu komoditas tunggal. Sehingga ketika harga karet atau kopi jatuh, pendapatan mereka ikut terjun bebas.
  Di tingkat nasional, ketergantungan pada satu jenis komoditas menyebabkan pasokan pangan terpisah dari hamparan lahan luas yang ada.
  Indonesia sempat  jagung hingga 3,6 juta ton per tahun untuk pakan, padahal lahan di bawah tegakan karet atau sawit sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk menanam jagung.
  Krisis pangan global yang dipicu pandemi, perubahan iklim hingga konflik geopolitik belakangan ini semakin menggarisbawahi perlunya langkah inovatif. Alih-alih membuka lahan baru yang merusak hutan, *diversifikasi* di lahan perkebunan eksisting adalah terobosan untuk meningkatkan produksi pangan tanpa ekspansi lahan.
  Strategi Satu Lahan Multiguna
  Salah satu strategi penting dalam diversifikasi perkebunan adalah *tumpang sari* atau intercropping, yakni menanam dua atau lebih jenis tanaman pada lahan yang sama, baik secara bersamaan maupun bergiliran.
  Petani Nusantara sejak lama mempraktikkan pola tanam campuran di pekarangan, kebun talun, hingga dusun rempah. Namun dalam konteks perkebunan modern yang selama ini cenderung monokultur, tumpangsari layak dihidupkan kembali sebagai pendekatan strategis untuk meningkatkan produktivitas lahan, pendapatan petani, dan ketahanan sistem usaha tani.
  Secara teknis, tumpangsari memanfaatkan celah waktu dan ruang ketika tanaman utama seperti sawit, karet, atau kakao belum menutup tajuk kebun. Pada fase tanaman muda, sinar matahari masih cukup menembus lantai kebun, memungkinkan tanaman sela seperti jagung, kacang-kacangan, ubi, padi gogo, atau sayuran tumbuh optimal. Praktik ini mengubah lahan yang semula “menganggur” menjadi produktif tanpa mengganggu pertumbuhan tanaman utama.
  Berbagai studi menunjukkan bahwa tumpangsari pada kebun replanting secara ekonomi layak, dengan Revenue-Cost Ratio di atas satu. Bagi petani kecil, pola ini menjadi penopang penting agar mereka tidak kehilangan pendapatan selama menunggu tanaman utama mulai menghasilkan.
  Bahkan, biaya pemeliharaan kebun dapat ditekan karena tanaman sela membantu menekan pertumbuhan gulma dan mengurangi ketergantungan pada herbisida. Manfaat tumpangsari tidak berhenti pada aspek ekonomi, tetapi juga berdampak langsung pada ketahanan pangan.
  Integrasi tanaman pangan di lahan perkebunan menambah pasokan pangan lokal sekaligus mendekatkan produksi pangan ke komunitas pedesaan. Potensinya sangat besar.
  Kajian IPB menunjukkan bahwa sekitar 4 persen dari total kebun sawit nasional (sekitar 470 ribu hectare), sedang dalam fase peremajaan dan berpeluang ditanami padi gogo dan jagung. Jika dimanfaatkan optimal, lahan ini dapat menghasilkan lebih dari satu juta ton beras, kontribusi signifikan bagi swasembada pangan.
  Bagi rumah tangga petani, diversifikasi ini juga berarti pangan lebih beragam dan bergizi, tidak semata bergantung pada satu komoditas atau pembelian dari luar.
  Dari sisi ekologis, tumpangsari menawarkan jawaban atas kelemahan sistem monokultur yang rentan degradasi lahan, erosi, dan penurunan keanekaragaman hayati. Keberagaman tanaman membantu menyeimbangkan siklus hara, terutama ketika tanaman legum berperan sebagai penambat nitrogen alami. Tutupan tanah yang lebih baik melindungi lahan dari erosi, sementara variasi vegetasi menciptakan habitat bagi musuh alami hama.
  Berbagai penelitian menunjukkan bahwa sistem agroforestry, termasuk sawit multitanaman dan integrasi ternak mampu meningkatkan kesehatan tanah, menekan penggunaan input kimia, serta memberikan jasa ekosistem seperti penyerapan karbon.(AM/*)

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles