
Oleh dr. H Minanur Rahman
HUTAN memiliki banyak manfaat bagi kehidupan makhluk bumi. Hutan sebagai pabrik oksigen dan penyerap karbon dioksida penting bagi kelangsungan hidup dan juga lingkungan. Namun saat ini kerusakan hutan menjadi suatu permasalahan yang sangat memprihatinkan.
Saat ini banyak hutan beralih fungsi menjadi kebun monokultur dan pertambangan sehingga mengancam kelangsungan hidup. Banyak hutan gundul akibat ulah manusia melakukan penebangan tak terkendali.
Tanpa disadari hal ini menjadi sumber bencana. Bukan hanya manusia yang terancam, namun juga ekosistem makhluk hidup lain akan terancam. Hutan merupakan ekosistem kompleks yang berpengaruh pada hampir setiap spesies yang ada di bumi.
Saat ini kerusakan hutan atau deforestasi terjadi hampir diseluruh dunia, dimana kerusakan tersebut sebagian besar disebabkan oleh aktivitas manusia.
Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), hampir 7,3 juta hektar hutan di seluruh dunia hilang setiap tahunnya. Hal ini tentu akan semakin mengancam kehidupan manusia.
Pemicu kegiatan deforestasi hutan adalah kegiatan industri, terutama industri kayu. Faktor lainnya adalah karena adanya alih fungsi hutan menjadi lahan perkebunan dan pertambangan atau bisa juga dijadikan lahan pemukiman bagi warga.
Tentu hal ini harus bisa di atasi karena setiap harinya semakin banyak hutan yang gundul dan ini tentu akan memberikan dampak buruk bagi kehidupan terutama akan menjadi sumber bencana alam yang besar.
Bahaya Dari Kerusakan Hutan
Hutan merupakan produsen terbesar Oksigen (O2), hutan juga menyerap gas karbon dioksida (CO2) yang menjadi penyebab terjadinya pemanasan global. Itulah mengapa ada istilah ‘hutan adalah paru-paru bumi’.
Namun banyaknya hutan yang rusak membuat penurunan kadar oksigen di atmosfer. Semakin sedikit tumbuhan yang ada di hutan, semakin sedikit pula oksigen yang dihasilkan.
Penyebab Banjir Besar
Penebangan hutan yang tak terkendali akan membuat hutan menjadi gundul, hal ini tentu akan menjadi pemicu terjadinya banjir besar dan juga banjir bandang jika terjadi hujan lebat ekstrem. Karena sedikitnya pepohonan yang terdapat di hutan tidak akan mampu menyangga limpasan air hujan. Sehingga saat hujan datang, limpasan air hujan akan meluap membawa tanah permukaan hanyut.
Bencana Kekeringan
Bencana kekeringan bisa terjadi karena kerusakan hutan. Saat jumlah pohon hanya sedikit, air yang diserap tanah pun hanya sedikit. Cadangan air tanah yang sedikit tidak lagi mampu menghasilkan mata air yang mengalir ke sungai. Akibatnya aliran sungai sangat kecil dan terjadi sedimentasi. Kondisi ini menyebabkan daerah aliran sungai dan tanah sekitarnya rawan terkena bencana kekeringan.
Penyebab Tanah Longsor
Pohon dan tumbuhan di area hutan akan menjadi penguat struktur tanah. Dedaunan pohon menjadi kanopi yang memperlambat jatuhnya air hujan ke tanah. Tetesan air hujan akan pecah ketika bersentuhan dengan daun sehingga ukuran butiran air menjadi lebih kecil. Butiran air hujan yang terpecah ini mudah terserap tanah sehingga tidak menjadi genangan. Jaringan akar-akar pohon akan mengikat tanah sehingga tidak mudah tergerus aliran air, akar juga menjadi penyerap air hujan.
Kerusakan hutan akibat hilangnya pohon-pohon akan menghilangkan kemampuan hutan sebagai reservoir. Ketika akar-akar pohon tidak ada, tanah menjadi kehilangan pengikat sehingga hanyut tergerus air hujan yang lebat. Akibatnya terjadi tanah longsor besar.
Terganggunya siklus air
Kita tahu bahwa pohon memiliki peranan yang penting dalam siklus air, yaitu menyerap curah hujan serta menghasilkan uap udara yang nantinya akan dilepaskan ke atmosfer. Dengan kata lain, semakin sedikit jumlah pohon yang ada di bumi, maka itu berarti kandungan air di udara makin sedikit alias kelembaban udara rendah. Kelembaban udara yang rendah berakibat suhu di siang hari sangat panas dan di malam hari dingin. Tidak adanya pohon menyebabkan tanah terpapar matahari langsung yang berakibat kering dan mati.
Air hujan yang tidak terserap tanah menyebabkan cadangan air tanah rendah, akibat akhirnya ya kekeringan…(AM/*)



