Opini

Awal Tahun, Sejuta Harapan Perbaikan Dunia Pendidikan di Tanah Samawa

Oleh Sri Asmediati

 

Awal tahun selalu datang dengan dua wajah. Ia membawa harapan, tetapi juga menghadirkan
cermin besar yang memaksa kita menatap jujur apa yang selama ini luput dibenahi. Di Tanah
Samawa, awal tahun bukan sekadar pergantian kalender, melainkan momentum untuk
bertanya dengan lantang: ke mana arah pendidikan kita hendak dibawa? Apakah pendidikan
hanya berjalan sebagai rutinitas administratif, atau sungguh menjadi jalan pembebasan bagi
generasi Sumbawa ke depan?
Pendidikan di Tanah Samawa menyimpan potensi besar, namun juga menanggung persoalan
struktural yang tak bisa lagi ditutup dengan retorika keberhasilan semu. Kita kerap bangga pada
angka partisipasi sekolah, deretan program, dan seremoni peresmian gedung. Namun, di balik
itu, masih banyak sekolah yang berjuang dengan keterbatasan sarana, kualitas pembelajaran
yang timpang, serta guru yang bekerja dalam sunyi tanpa dukungan memadai.
Awal tahun ini semestinya menjadi titik tolak perubahan cara pandang. Pendidikan tidak cukup
hanya dikelola, tetapi harus diperjuangkan.
Pendidikan dan Realitas Tanah Samawa
Secara geografis, Sumbawa memiliki tantangan khas: wilayah yang luas, desa-desa yang
berjauhan, akses yang tidak selalu mudah, serta kondisi sosial ekonomi masyarakat yang
beragam. Realitas ini menuntut kebijakan pendidikan yang kontekstual, bukan sekadar
menyalin model dari daerah lain yang kondisi sosialnya jauh berbeda.
Masih kita temui sekolah di pelosok yang kekurangan guru mata pelajaran tertentu. Ada guru
yang mengajar lintas bidang bukan karena kompetensi, tetapi karena keterpaksaan. Di sisi lain,
sekolah di wilayah perkotaan relatif lebih mudah mengakses fasilitas, pelatihan, dan inovasi
pembelajaran. Ketimpangan ini menciptakan jurang kualitas yang, jika dibiarkan, akan menjadi
warisan ketidakadilan antargenerasi.
Awal tahun seharusnya menjadi momen untuk menyusun peta masalah pendidikan Tanah
Samawa secara jujur dan terbuka, bukan sekadar laporan indah di atas kertas.
Guru: Pilar yang Terlalu Lama Dipikul Sendiri
Tak bisa dipungkiri, guru adalah tulang punggung pendidikan. Namun, di Tanah Samawa, guru
sering kali diposisikan sebagai pihak yang harus selalu “mengerti keadaan”. Ketika fasilitas
minim, guru diminta kreatif. Ketika hasil belajar rendah, guru yang disorot. Ketika kebijakan
berubah-ubah, guru pula yang diminta cepat menyesuaikan.
Padahal, kreativitas tidak tumbuh di ruang hampa. Ia membutuhkan dukungan sistemik:
pelatihan yang berkelanjutan, kesejahteraan yang layak, serta ruang partisipasi dalam
perumusan kebijakan pendidikan daerah. Banyak guru di Sumbawa memiliki dedikasi luar biasa,
mengajar dengan hati, bahkan menggunakan dana pribadi untuk menunjang proses belajar.
Namun, dedikasi tanpa sistem yang adil hanya akan berujung kelelahan kolektif.
Awal tahun ini semestinya menjadi momentum memperlakukan guru bukan sekadar pelaksana
kebijakan, tetapi mitra strategis pembangunan pendidikan.
Kurikulum dan Pembelajaran yang Terlepas dari Konteks Lokal
Salah satu ironi pendidikan kita adalah kurikulum yang sering kali terasa jauh dari realitas
kehidupan siswa. Anak-anak Tanah Samawa tumbuh di lingkungan agraris, pesisir, dan budaya
lokal yang kaya. Namun, pembelajaran di kelas kerap tidak menyentuh kehidupan nyata
mereka.
Muatan lokal sering hanya menjadi formalitas, bukan ruang aktualisasi identitas dan potensi
daerah. Padahal, pendidikan yang baik adalah pendidikan yang membuat siswa mengenal
dunianya sendiri, sebelum melangkah memahami dunia luar. Tanah Samawa memiliki kearifan
lokal, nilai gotong royong, etos kerja, serta sejarah yang bisa menjadi sumber belajar yang
hidup dan bermakna.
Awal tahun harus menjadi awal keberanian untuk menata ulang pembelajaran agar lebih
kontekstual, membumi, dan relevan dengan kebutuhan masa depan siswa Sumbawa.
Infrastruktur: Antara Janji dan Kenyataan
Tak bisa dimungkiri, infrastruktur pendidikan masih menjadi pekerjaan rumah besar. Gedung
sekolah yang rusak, ruang kelas yang tidak layak, keterbatasan laboratorium, perpustakaan
yang minim koleksi, hingga akses teknologi yang belum merata.
Di era digital, kesenjangan akses teknologi menjadi ancaman serius. Siswa di daerah dengan
jaringan internet terbatas tertinggal bukan karena kurang cerdas, tetapi karena sistem belum
berpihak. Program digitalisasi pendidikan akan menjadi jargon kosong jika tidak diiringi
pemerataan infrastruktur dan pendampingan yang serius.
Awal tahun ini seharusnya menandai perubahan pendekatan: pembangunan fisik bukan
sekadar proyek, melainkan bagian dari strategi besar peningkatan mutu pendidikan.
Peran Orang Tua dan Masyarakat yang Sering Terpinggirkan
Pendidikan bukan urusan sekolah semata. Di Tanah Samawa, peran keluarga dan masyarakat
sangat menentukan keberhasilan pendidikan anak. Namun, keterlibatan orang tua sering kali
dibatasi pada urusan administratif dan seremonial.
Masih ada anggapan bahwa setelah anak diserahkan ke sekolah, tanggung jawab pendidikan
sepenuhnya beralih ke guru. Padahal, pendidikan karakter, etika, dan nilai-nilai kehidupan
justru paling kuat ditanamkan di rumah dan lingkungan sosial.
Awal tahun menjadi waktu yang tepat untuk membangun kembali kemitraan antara sekolah,
orang tua, dan masyarakat. Pendidikan harus menjadi gerakan bersama, bukan kerja sepihak.
Kebijakan Pendidikan Daerah: Antara Visi dan Keberanian
Setiap awal tahun, visi dan target pendidikan kembali digaungkan. Namun, visi tanpa
keberanian mengambil keputusan strategis hanya akan menjadi slogan. Pendidikan
membutuhkan konsistensi kebijakan, bukan perubahan arah setiap pergantian kepemimpinan
atau program.
Pemerintah daerah memiliki peran kunci dalam memastikan pendidikan berjalan berkeadilan.
Anggaran pendidikan harus benar-benar menyentuh kebutuhan riil sekolah dan siswa, bukan
terserap pada kegiatan yang minim dampak. Evaluasi program harus dilakukan secara terbuka,
melibatkan publik, dan berorientasi pada perbaikan, bukan sekadar laporan keberhasilan.
Awal tahun ini menuntut keberanian pemangku kebijakan untuk lebih jujur, transparan, dan
berpihak pada masa depan anak-anak Tanah Samawa.
Sejuta Harapan yang Harus Diiringi Kerja Nyata
Harapan tanpa kerja hanyalah doa yang tertunda. Di awal tahun ini, sejuta harapan perbaikan
pendidikan di Tanah Samawa harus diterjemahkan ke dalam langkah-langkah nyata:
pemerataan guru, peningkatan kualitas pembelajaran, perbaikan infrastruktur, penguatan
peran keluarga, serta kebijakan yang berpihak.
Pendidikan bukan proyek jangka pendek. Ia adalah investasi peradaban. Hasilnya mungkin tidak
langsung terlihat, tetapi dampaknya akan menentukan wajah Sumbawa di masa depan.
Jika awal tahun ini kita sungguh menjadikan pendidikan sebagai prioritas, bukan sekadar
agenda tahunan, maka Tanah Samawa tidak hanya akan melahirkan generasi terdidik, tetapi
juga generasi yang berkarakter, berdaya saing, dan tetap berakar pada nilai-nilai lokal.
Awal tahun telah tiba. Pertanyaannya, apakah kita siap menjadikan sejuta harapan itu sebagai
komitmen bersama, atau kembali membiarkannya larut dalam rutinitas tanpa perubahan?
Tanah Samawa menunggu jawabannya.(AM/*)

 

Tinggalkan Balasan