Berharap Hidayah Allah SWT dengan Melembutkan Hati dan Menghidupkan Hati
Oleh dr. H Minanur Rahman
Banyak manusia yang bingung untuk apa hidup ini, apa tujuannya, apakah hanya sekedar bertahan hidup, melanjutkan keturunan, atau meraih kekayaan serta kekuasaan?
Apalah artinya jabatan yang tinggi, status sosial yang terhormat, harta yang melimpah, tubuh yang sehat dan kuat, serta pikiran yang cerdas tanpa disertai oleh tuntunan petunjuk Allah SWT. Tak tahu mana yang boleh dan dilarang, yang halal dan haram, yang benar dan salah, serta yang hak dan batil. Kalau sudah demikian, hidup mereka akan menjadi sia-sia, merugi dan menderita, baik di dunia maupun akhirat.
Yang menjadi pertanyaan, mengapa ada di antara kaum muslimin yang tersesat jalan meskipun telah membaca berulang kali: “Ihdinas shiraatal mustaqim” yang artinya “Tunjukilah kami ke jalan yang lurus.” Apa yang salah dan keliru sehingga ada umat Islam, mudah terjerumus ke dalam kesesatan?
Hal ini lantaran doa dan keinginan untuk mendapatkan petunjuk tidak disertai dengan kesungguhan hati dan upaya nyata. Padahal, doa menjadi efektif dan membuahkan hasil ketika disertai keyakinan dan usaha untuk meraihnya.
Karena itu, ketika menggambarkan doa sebagian manusia yang ‘meminta kebaikan dunia dan akhirat serta terhindar dari api neraka’, Allah SWT menutup ayat itu dengan berkata, “Mereka itulah orang-orang yang mendapat bagian dari apa yang mereka usahakan. Dan, Allah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS. Al-Baqarah : 202). Maknanya, ‘mereka mendapatkan sesuai upaya yang mereka lakukan, tidak hanya sekadar berdoa.’
Dalam konteks ini, ‘meminta petunjuk’ baru sebatas doa keinginan. Yang diperlukan selanjutnya adalah usaha untuk mendapatkan petunjuk itu. Yang mesti dilakukan untuk mendapatkan petunjuk dan hidayah Allah SWT adalah dengan ‘membaca, mempelajari, mengkaji, dan mengamalkan Alquran’ sebagai kitab petunjuk bagi manusia (QS. Al-Baqarah : 185) berikutnya mengikuti ‘sunah Nabi Muhammad SAW’.
Jika kedua sumber ini menjadi referensi utama bagi setiap muslim dalam bergerak dan beraktivitas, insya Allah akan selalu dalam petunjuk Allah SWT. “Kutinggalkan untuk kalian dua hal yang kalau kalian berpegang pada keduanya, kalian tidak akan tersesat selamanya: Kitabullah (Alquran) dan sunah nabi-Nya.” (HR. Malik)
Usaha lainnya adalah dengan bergaul dalam lingkungan orang saleh dan taat. Sebab, kondisi lingkungan pertemanan sangat menentukan keimanan, keyakinan, dan perilaku seseorang. “Seseorang bergantung kepada agama temannya. Karena itu, hendaknya setiap kalian memperhatikan siapa yang layak dijadikan temannya.” (HR. Ahmad)
Jika hal tersebut dilakukan, doa meminta hidayah yang senantiasa kita panjatkan dalam setiap shalat, insya Allah akan terkabul dan terwujud dalam kehidupan. Semoga Allah SWT memberikan hidayah kepada kita semua. Aamiin.
Meraih Kelembutan Hati agar mudah menerima hidayah
Perjuangan kita adalah bagaimana melembutkan hati karena masalah kehidupan muncul dari hati yang keras. Dalam Alquran Allah SWT menyebutkan hati yang lembut dengan istilah qalbun salim (QS asy-Syu’ara:89). Sementara hati yang keras disebut dengan istilah qalbun qaasii (QS al-Baqarah: 74)
Dalam dirinya masih ada hasad dan dengki. Setiap kebaikan yang dikerjakan penuh dengan riya’ (ingin dipuji orang). Inilah perjuangan yang paling berat. Sebab, hidup bukan sekadar untuk beramal, tetapi bagaimana supaya dalam setiap amal diiringi oleh hati yang lembut penuh keikhlasan.
Alquran selalu berbicara tentang hati. Para ulama tidak pernah bosan membahas masalah hati. Itu tidak lain supaya hati ini selalu lembut. Mudah tersentuh oleh ayat Alquran sehingga tergetar. Mudah mendapatkan nasihat sehingga tunduk kepada-Nya. Mudah merasa diri banyak kekurangan sehingga tidak sombong. Mudah terenyuh dengan penderitaan orang lain, sehingga berbagi.
Nabi SAW mengajarkan doa: “Ya muqallibal quluub tsabbit qalbi alaa diinika” (Wahai Dzat pembalik hati, kokohkan hatiku ini di atas agama-Mu). (HR Ahmad).
Hati dalam bahasa Arab disebut qalbun dari kata qallaba yuqallibu (berbolak-balik). Memang tabiat hati berbolak balik. Boleh jadi di pagi hari seseorang masih beriman, tiba-tiba di sore hari hatinya berbalik menjadi kufur. Boleh jadi seseorang masih bergelimang dosa, lalu tiba-tiba tersadar dan mengambil air wudhu kemudian shalat. Pada saat sujud ternyata itulah sujudnya yang terakhir. Allah yang menguasai hatinya, membuatnya husnul khatimah dalam sujud.
Jangan mudah menghakimi orang lain sebagi ahli neraka. Justru yang paling baik kita menyadari diri berdosa seperti yang dicontohkan Nabi Adam dan Ibunda Hawa yang mengatakan: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS al-A’raf: 23).
Perhatikan Nabi Hud AS, ketika dalam perut ikan, ia segera menyucikan Allah SWT dan mengakui diri berbuat zalim: “laa ilaaha illaa anta subhanaka innii kuntu minadz dzaalimiin.” (QS al- Anbiya: 87).
Dikisahkan bahwa di Masjid Nabawi ada seseorang yang belum fasih membaca Alquran. Setiap hari ia datang ke masjid hanya untuk menyimak bacaan Alquran dari orang lain. Hari itu ia datang membawa Alquran. Lalu ia minta tolong pada seseorang agar membacakan untuknya. Ternyata itulah hari terakhir ia menyimak bacaan Alquran. Di saat itu ia kembali kepada Allah. Hati yang lembut akan selalu mengakhiri dirinya dengan kehidupan terbaik.
Menghidupkan Hati
Hati adalah pusat kehidupan spiritual seorang muslim. Ustadz Bukhori mengatakan Hati yang hidup akan memancarkan kebaikan, ketenangan, dan kebijaksanaan. Sebaliknya, hati yang mati akan dipenuhi kegelapan, kegelisahan, kesesatan dan kemaksiatan. Oleh karena itu, menghidupkan hati adalah sebuah keharusan bagi setiap Muslim yang ingin meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.
Salah satu cara utama untuk menghidupkan hati adalah dengan cahaya ilmu. Ilmu yang bermanfaat akan menerangi hati, membimbing kita menuju kebenaran, dan menjauhkan kita dari kesesatan. Ilmu yang paling utama adalah ilmu agama, yaitu ilmu tentang Allah, Rasul-Nya, dan ajaran Islam.
Dengan mempelajari ilmu agama, kita akan semakin mengenal Allah, mencintai-Nya, dan takut kepada-Nya. Kita juga akan semakin memahami ajaran Islam yang sempurna, sehingga kita dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Selain cahaya ilmu, bimbingan ulama juga sangat penting dalam menghidupkan hati. Ulama adalah pewaris para nabi, yang memiliki ilmu dan kebijaksanaan untuk membimbing umat. Mereka adalah orang-orang yang dekat dengan Allah, yang senantiasa menjaga diri dari perbuatan dosa. Dengan mendengarkan nasihat dan bimbingan ulama, hati kita akan semakin lembut, bersih, dan bercahaya.
Namun, mencari ilmu dan bimbingan ulama saja tidaklah cukup. Kita juga harus membersihkan hati dari segala “penyakit, seperti riya, ujub, sum’ah, dengki, dan dendam”.
Penyakit-penyakit hati ini akan menghalangi cahaya ilmu dan bimbingan ulama untuk masuk ke dalam hati kita. Oleh karena itu, kita harus membersihkan hati kita dengan cara bertaubat, beristighfar, dan melakukan amal saleh.
Selain itu, kita juga harus menjaga hati dari segala bentuk maksiat, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi. Maksiat akan membuat hati kita menjadi gelap dan keras. Oleh karena itu, kita harus senantiasa berusaha untuk menjauhi segala bentuk maksiat, dan memperbanyak amal ibadah.
Dengan cahaya ilmu, bimbingan ulama, membersihkan hati dari penyakit, dan menjauhi maksiat, insya Allah hati kita akan hidup dan bercahaya. Hati yang hidup akan memancarkan kebaikan, ketenangan, dan kebijaksanaan. Kita akan menjadi orang-orang yang bahagia di dunia dan akhirat.(AM/*)