Berpikir Positif Itu Perlu, Berpikir Rasional Jadi Penentu
Oleh dr. H Minanur Rahman
Banyak pula di antara kita yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang tentu membuat kondisi ekonomi keluarganya mengalami penurunan.
Peristiwa di masa lalu yang tidak kita harapkan terjadi bukanlah untuk dilupakan, tapi untuk dijadikan sebagai pelajaran yang berharga. Dengan pelajaran tersebut, seandainya ada indikasi akan terulang lagi, kita sudah punya cara yang lebih baik dalam menghadapinya. Memang, kita tidak boleh larut dalam kekecewaan. Tapi, kecewa dan rasa sedih itu sendiri sangat manusiawi, asal kita punya *kemampuan dalam mengelola emosi.*
Nah, berbicara tentang mengelola emosi, sebetulnya juga banyak terkait dengan cara kita berpikir. Apakah selama ini kita cenderung *berpikir negatif, berpikir positif, atau berpikir rasional?* Hal ini akan berdampak pada sukses tidaknya kita dalam menempuh karier atau pada kualitas kehidupan.
*Berpikir negatif* pada umumnya melihat sesuatu dari sisi negatifnya. Jika ada tantangan, orang seperti ini sering langsung berpikir bahwa “aku pasti tidak bisa”, ” Ini terlalu sulit bagiku”, atau “tidak masuk akal!”
Mereka yang dihantui negative thinking, orientasinya cenderung pada sisi buruk dari suatu hal daripada menyoroti hal-hal positifnya. Dengan kata lain, orang yang punya pikiran negatif ini memandang segala sesuatu dari sudut pandang yang merugikan. Padahal ada potensi keuntungan di balik itu yang tidak dilihatnya. Inilah yang bisa memengaruhi kesehatan mental seseorang, sehingga pengelolaan emosinya tidak berjalan dengan baik
Sedangkan *berpikir positif* cenderung merasa “aku pasti bisa” terhadap tantangan yang dihadapinya atau terhadap tugas yang diberikan padanya. Berpikir positif adalah kemampuan berpikir seseorang untuk memusatkan perhatian pada sisi positif dari keadaan dirinya sendiri, orang lain, dan terhadap situasi yang dihadapinya.
Namun demikian, berpikir positif tidak akan datang secara instan, melainkan sebuah keterampilan yang harus dipelajari dan berproses untuk jadi kebiasaan seseorang. Tak dapat dipungkiri bahwa sebenarnya positive thinking sangat diperlukan oleh siapapun, karena apa saja yang kita lakukan perlu dihadapi dengan berpikir positif.
Hanya saja, perlu diingatkan bahwa dengan semata-mata berpikir positif tanpa didukung oleh berpikir rasional, bukan tidak mungkin bisa menjadi bumerang. Contohnya, seseorang yang tidak pernah punya pengalaman menyetir mobil jarak jauh, tiba-tiba memutuskan menempuh medan yang banyak tanjakan dan tikungan, dengan bekal berpikir positif “aku pasti bisa”.
Akibatnya, si pengemudi mengalami kecelakaan fatal ketika menempuh jalan menanjak yang kemudian menikung tajam. Rasa percaya diri dan berpikir positif si pengemudi sebetulnya sah-sah saja. Tapi, akan lebih baik jika ia bertanya dulu kepada pengemudi yang lebih berpengalaman tentang tips mengemudi jarak jauh.
Setelah mendapatkan informasi yang lengkap, maka tentu keputusan yang sebelumnya diambil oleh naluri berpikir positif, telah dilengkapi dengan pertimbangan yang rasional. Bukankah dalam ajaran Islam disebutkan bahwa bila sesuatu urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, tunggulah kehancurannya. Ini menyiratkan tentang pentingnya berpikir rasional.
Berpikir rasional dapat didefinisikan sebagai suatu kemampuan yang dipakai seseorang untuk mempertimbangkan situasi yang dihadapinya, agar dapat mengambil keputusan sebaik mungkin.
Pemikiran rasional ini mengarah pada analisis yang relevan dan harus berdasarkan pada nilai, fakta, data, dan tidak sekadar menurutkan perasaan atau naluri individual. Tujuannya tentu saja agar keputusan yang diambil atau pemikiran terhadap suatu hal tetap masuk akal.
Mari kita lihat lebih jauh apa perbedaan antara berpikir positif dan berpikir rasional, serta apa kelebihan dan kelemahan masing-masing, sehingga keduanya perlu saling melengkapi.
Dari sisi fokusnya, berpikir positif terpusat pada sisi emosi untuk menjaga semangat demi mewujudkan apa yang diharapkan. Jika masih ada terkandung emosi negatif, harus diubah menjadi emosi positif. Kelebihan berpikir positif adalah mampu meningkatkan kesejahteraan mental dan menghadirkan ketahanan secara psikologis.
Namun, berpikir positif juga punya kelemahan. Jika berpikir positif dilakukan berlebihan, bisa menjadi irasional atau mengabaikan masalah nyata (toxic positivity).
Adapun fokus dari berpikir rasional terpusat pada logika, fakta, dan analisis objektif. Tujuannya untuk memecahkan masalah secara realistis dan membuat keputusan yang tepat.
Kelebihan dari berpikir rasional adalah menghasilkan solusi yang efektif dan tindakan yang terukur, karena berbasiskan data. Sedangkan kelemahan dari berpikir rasional adalah sikap yang cenderung kaku, terasa dingin atau kurang empati jika emosi diabaikan sepenuhnya.
Sebagai contoh, seorang mahasiswa yang mau ikut ujian, dalam cara berpikir positif akan mengatakan: “Saya pasti bisa lulus ujian ini!” Fokusnya adalah harapan.
Bagi mahasiswa yang berpikir rasional akan berkata: “Saya harus belajar 3 jam lagi untuk materi X dan Y, karena itu yang paling sulit, agar peluang lulus saya meningkat.” Fokusnya adalah fakta dan solusi.
Jelaslah bahwa berpikir positif itu perlu. Tapi, dalam mengambil keputusan yang strategis, sebaiknya hasil dari berpikir rasional yang jadi penentu.(AM/*)