
Ulva Hiliyatur Rosida
(Dosen & Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat STAI NW Samawa)
Ketika sepuluh malam menjelang raya telah di depan pintu, itu artinya 20 (dua puluh) malam Ramadhan telah terlewati, pertanda malam Lailatul QadrĀ akan membersamai kita, biidznillah. Hari-hari Ramadhan yang telah berjalan kurang lebih 3 (tiga) pekan ini bukanlah hal yang mudah, suasana moodĀ maupun kondisi fisik bisa jadi sudah tidak seantusias di awal Ramadhan. Namun, patutkah kita menyerah? Pantaskah kita membiarkan diri kita terlena dalam fisik dan moodĀ yang tidak semangat lagi? Apabila kondisi kita tetap dalam keadaan prima, dan suasana hati kita dalam keadaan antusias yang tinggi sampai dengan hari kedua puluh, maka stabilitas fisik dan mood kita dapat terhitung sangatlah baik dan patut untuk disyukuri. Namun, jika situasi dan kondisi itu berbeda dari yang diharapkan, maka kita sedang membutuhkan boosterĀ iman yang tinggi agar boosterĀ ibadah dapat dilaksanakan tanpa hambatan.
BoosterĀ iman dapat diperoleh dengan motivasi diri yang tinggi, karena best motivatorĀ atau motivator terbaik tak lain dan tak bukan adalah diri kita sendiri, Ā dan seyogyanya kita harus mengingat sabda Rasulullah yang diriwayatkan Bukhari MuslimĀ yang artinya āBarang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah semata, maka Allah akan mengampuni segala dosanya yang telah lalu.āĀ Selanjutnya dengan boosterĀ iman yang baik, maka boosterĀ ibadah akan terwujud terlebih di sepuluh malam terakhir Ramadhan. Sejatinya faktor terbesar yang menjadi pemicu kuat dan pendorong ulung dalam sepuluh malam tarakhir bulan Ramadhan ini adalah malam yang sangat mulia dan agung yang disebut dengan āLailatul Qodr.ā Malam ini merupakan malam dimana KalaamullahĀ (Al-Qurāan) diturunkan dan malam yang lebih baik dari seribu bulan, sebagaimana firman Allah yang tertuang dalam surah Al-Qadr: 1-3 artinya āSesungguhnya kami telah menurunkan (Al-Qurāan) pada malam Qadr. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.ā
Tantangan di Akhir Ramadhan
Beberapa hal yang menjadi tantangan yang sering kita saksikan dan jumpai di tengah masyarakat pada menjelang sepuluh malam terakhir Ramadhan:
Pertama,Ā baju lebaran. Fenomena āwar baju lebaranā atau berburu baju lebaran adalah hal yang kerap dilakukan oleh masyarakat. Tidak ada larangan dalam hal mengenakan baju baru saat lebaran, hanya saja jika terlalu berlebihan maka ia dapat menjadi pemicu dalam mengurangi intensitas ibadah yang sedang dilakukan. Berdesak-desakan di pusat perbelanjaan dan berburu flash saleĀ di market place dapat melalaikan diri dalam meraih Lailatul Qadr. Maka, sebaiknya membeli baju baru dapat dilakukan jauh sebelum malam Lailatul Qadr.
Kedua,Ā terkait bukber atau buka bersama. Fenomena bukberĀ atau buka bersama juga hal yang lumrah dilakukan oleh beberapa kalangan masyarakat kita. Namun, alih-alih menjadi ladang untuk silaturahim malah dapat menjadi wadah kemaksiatan jika pelakunya meninggalkan shalat maghrib demi kumpul-kumpulĀ saat berbuka, padahal shalat maghrib merupakan shalat yang wajib dilakukan oleh seluruh umat Islam di dunia.
Ketiga,Ā kue lebaran. Para emakĀ biasanya sering sibuk dengan pembuatan kue lebaran. Dari segi manfaatnya tentu dapat menjadi hidangan dalam menyambut tamu atau sanak keluarga saat lebaran. Namun, jika diperhatikan, pembuatan kue lebaran ini juga dapat menjadi hambatan dalam sepuluh malam terakhir, dimana aktifitas ini dapat melalaikan seseorang dalam fokus beribadah kepada sang Khaliq. Banyak waktu yang terbuang dan dapat memicu kondisi fisik menjadi lelah. Sehingga, solusinya dapat dilakukan jauh sebelum malam Lailatul Qadr.
BoosterĀ Ibadah
BoosterĀ ibadah akan sejalan dengan boosterĀ iman. Dengan mengetahui keutamaan penting nan mulia dari Lailatul Qadr maka cukuplah ia dan Ridho Allah sebagai best boosterĀ atau pemicu dan pendorong Ā terbaik dalam memenuhi sepuluh malam terakhir ini. Dengan demikian, beberapa hal yang dapat dilakukan dalam mengisi sepuluh malam terakhir ini, diantaranya:
- Iātikaf
- Berdzikir kepada Allah
- Memperbanyak membaca Al-Qurāan
- Bershadaqah, berinfaq, dan menunaikan zakat fitrah.
- Memaksimalkan shalat-shalat sunnah
- Memperbanyak istighfar
- Memperbanyak doāa yang baik
- Meningkatkan amalan-amalan sunnah lainnya.
Lailatu Qadr adalah momentum yang datang hanya satu kali dalam satu tahun, juga merupakan momentum yang tidak ada pada bulan-bulan lainnya. Di tengah kesibukan dan godaan dunia dengan berbagai tantangannya, disaat inilah boosterĀ iman dan ibadah harus dikuatkan, diperbaharui, dan ditingkatkan. Jangan sampai kita melewati waktu emas yang berharga ini, sebab kita tidak tahu di malam yang mana Lailatul Qadr ini akan hadir di sela sepuluh malam terakhir Ramadhan. Maka, Semoga Allah senantiasa memberikan kita kekuatan dan kesuksesan dalam meraih Lailatul Qadr dengan cara menghidupkannya dengan amalan-amalan kebaikan dalam Syariāat Allah dan Rasul-Nya. Aamiin.(AM/*)



