Cara Sehat Tanpa Tergantung BPJS

Oleh dr. H Minanur Rahman
Bagi mukminin, sehat adalah karunia yang harus disyukuri setara dengan syukur atas kehidupan dan keimanan. Betapa sehat membuat kita mampu merasakan keindahan, kenikmatan dan kebahagiaan. Sehat membuat kita bisa berbuat banyak hal yang ingin kita lakukan.
Sayangnya banyak diantara kita yang kurang bersyukur atas keadaan sehat yang kita alami. Karena kita kurang mensyukuri nikmat sehat maka kita tidak menjaga kesehatan bahkan sebaliknya merusak kesehatan.
Begitu ada gangguan kesehatan kita panik dan menuntut untuk dikembalikan ke keadaan sehat semula. Lebih-lebih kita melupakan yang memberi kita hidup sehat. Kita menganggap yang bisa memberi kesehatan adalah dokter, obat dan rumah sakit. Kita pasrah total pada mereka, mau disuruh apa saja bahkan harus bayar sangat mahal. Astaghfirullah…
Sekarang ini bangsa Indonesia digiring untuk menuhankan BPJS, seakan BPJS menjadi dewa penolong orang sakit. Saudaraku jangan terjebak! Fakta BPJS mengalami defisit anggaran dari tahun ke tahun karena biaya kesehatan mengalami Inflasi sangat tinggi melebihi pendapatan iuran wajib anggota BPJS.
Ingatlah yang menghidupkan dan mematikan adalah Allah swt. Bila kita sakit maka Allah yang menyembuhkan. Kesembuhan itu melalui pengobatan oleh dokter yang ahli, pengobatan yang tepat dan doa yang dikabulkan.
Sesungguhnya sakit bukanlah Allah menghukum atau memberi kesengsaraan pada manusia, akan tetapi manusia itu sendiri telah melanggar ketetapan Allah. Jadi yang mendatangkan penyakit itu manusia, bisa dirinya sendiri, orangtuanya, atau orang lain.
Oleh karena itu sakit adalah akibat dari kesalahan manusia. Maka adab untuk sembuh dari penyakit adalah sabar menerima sakit, istighfar dan bertobat atas segala kesalahan, mencari pengobatan ke dokter yang beriman dan berdoa mohon kesembuhan.
Adakah cara agar kita dihindarkan dari sakit? Bila kita beriman, bertakwa, tawakkal dan ihlas serta banyak berbuat kebaikan, maka pantaslah kita berharap dijauhkan dari sakit dan penderitaan.
Bagaimana cara menjamin diri agar bila sakit tak mengeluarkan banyak uang?
Perbanyak menolong orang lain dan semua makhluk Allah. Orang yang banyak bersedekah adalah orang yang menyimpan Jaminan Kesehatan dan Keselamatan di dunia dan akhirat. Maka lebih utama bersedekah sebanyak-banyaknya daripada membayar iuran BPJS.
Dilemma Orang Sakit di Era BPJS
“Siapa sih yang ingin sakit?” Tentu tidak ada orang yang ingin sakit, tapi setiap orang akan menghadapi kondisi sakit karena manusia itu banyak kelemahan kemudian pasti akan menua dan meninggal. Oleh karena itu semua orang harus menjaga kesehatan dan bersiap menghadapi kondisi sakit.
” Kalau lapar tentu aku butuh makan, bahkan aku suka makan.” Setiap makhluk butuh makan untuk kelangsungan hidupnya. Akan tetapi agar tetap sehat kita perlu mengatur pola makan, komposisi gizi makanan, dan menghindari makanan yang membahayakan kesehatan.
“Kalau sakit aku butuh segera sembuh, tapi aku tidak suka obat.” Nah disinilah pentingnya bantuan dokter dan tenaga kesehatan lainnya. Penanganan segera ketika mengalami gejala suatu penyakit akan memudahkan dan mempercepat kesembuhan. Pengobatan sendiri boleh saja, asal tahu ilmunya, jangan sembarangan minum obat yang tidak paham khasiatnya.
“Aku terpaksa berobat bila sakit, tapi aku tidak terpaksa makan bila perutku lapar.” Sebagian masyarakat yang rendah kepedulian dan pengetahuan kesehatan sering mengalami keterlambatan untuk berobat, dikarenakan anggapan ‘toh nanti akan sembuh sendiri’. Akibatnya sakitnya bertambah parah dan butuh penanganan medis lebih kompleks karena adanya komplikasi.
“Bila aku beli makanan pantaslah memilih menu sesuai selera. Bila aku dirawat di rumah sakit pantaskah memilih kelas? Mirip hotel saja!” Itulah kenyataan sekarang. Masyarakat ekonomi menengah ke atas menginginkan pelayanan kesehatan yang lebih nyaman dan menyenangkan. Maka rumah sakit (hospital) memanfaatkan peluang ini dengan menyediakan pelayanan yang lebih nyaman dan mewah. Hampir semua rumah sakit menyediakan pelayanan rawat inap dengan berbagai tingkatan kelas sesuai dengan kemampuan pelanggan.
“Mengapa harganya bisa berbeda-beda? Padahal tindakannya sama!” Ya itulah bisnis. Di pesawat atau kereta api atau kapal atau hotel, semua dilayani hal yang serupa. Akan mereka membayar dengan biaya yang berbeda sesuai kelas, ada kelas ekonomi, kelas executive, kelas, VIP dan kelas Presiden.
“Mengapa yang tak punya uang harus rela mengantri menunggu mati?” Antrian itu tergantung jumlah orang yang mengantri. Kalau mau dapat antrian awal maka lakukan pendaftaran segera secara online. Bagi kasus yang membahayakan nyawa atau darurat/ emergency maka pasien akan mendapatkan pertolongan segera melalui UGD tanpa antrian.
“Mengapa kegawatdaruratan menjadi ladang emas rumah sakit?” Tergantung bagaimana jenis atau tingkatan rumah sakit. Pada umumnya kasus kegawatdaruratan itu membutuhkan penanganan komplek, tenaga dokter keahlian berbagai bidang, tindakan cepat, dan teknologi kedokteran modern. Inilah penyebab tingginya biaya penanganan kasus gawat darurat.
“Ya sudahlah kalau memang takdirnya mati ya mati saja. Jangan dipermainkan untuk cari keuntungan!” Orang miskin dilarang sakit!” Ya… Jangan putus asa bro..(AM/*)