
Sumbawa Besar, anugerah-media.com
Penandatanganan nota kesepahaman pembangunan Integrated Poultry Industry di Kabupaten Sumbawa tidak terjadi secara instan. Di balik seremoni tersebut, terdapat proses panjang diplomasi dan negosiasi yang melibatkan berbagai tokoh nasional untuk memastikan Nusa Tenggara Barat tetap masuk dalam peta investasi strategis nasional.
Salah satu sosok yang berada di balik proses tersebut adalah Syahrul Bosang yang mengawal proses hingga tahap penandatanganan MoU.
Strategi 90 Hari dan Peran BCG
Prof. Syahrul Bosang mengungkapkan, bahwa saat ini tim teknis tengah bekerja di Sumbawa untuk mematangkan ekosistem proyek. Setelah tahap MoU selesai, proses selanjutnya akan dipandu oleh Boston Consulting Group selama 90 hari ke depan.
“Tugas saya mengantarkan sampai tahap MoU selesai. Selanjutnya kita menunggu hasil kajian BCG dalam 90 hari sebelum ditindaklanjuti oleh mitra strategis,” ujar Prof. Syahrul.
Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan perusahaan lokal dalam pelaksanaan proyek, meski instalasi peralatan tetap membutuhkan tenaga ahli guna menjamin produktivitas dan harga pokok penjualan (HPP) yang kompetitif.
Diplomasi Menit Terakhir
Prof. Syahrul mengungkapkan bahwa posisi NTB sempat terancam keluar dari daftar prioritas nasional. Awalnya provinsi ini masuk dalam lima klaster awal, namun sempat tersingkir karena dianggap kurang proaktif dibandingkan daerah lain.
Untuk mempertahankan posisi tersebut, berbagai tokoh nasional dilibatkan dalam upaya lobi kepada Amran Sulaiman.
“Saya tidak sendirian. Ini bukan sekadar urusan bisnis, tetapi perjuangan kolektif. Kami melibatkan tokoh seperti Din Syamsuddin, Johan Rosihan, Fahri Hamzah, hingga Ali Agus untuk meyakinkan Menteri Pertanian,” ungkapnya.
Upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil. Nilai investasi yang semula sebesar Rp8 triliun untuk lima klaster meningkat menjadi Rp20 triliun untuk 20 titik di seluruh Indonesia. NTB akhirnya kembali masuk dalam enam titik prioritas nasional yang melakukan groundbreaking pada awal Februari 2026, dengan lokasi di Serading, Kecamatan Moyo Hilir, Kabupaten Sumbawa.
Proyek ini mengusung konsep Poultry Village atau perkampungan unggas. Konsep tersebut bertujuan mengubah pola beternak tradisional menjadi sistem klaster yang lebih modern dengan standar biosekuriti yang lebih baik.
Dengan sistem ini, risiko penyebaran penyakit antar ternak dapat diminimalkan sekaligus meningkatkan produktivitas peternak.
Koperasi MARAS untuk memperkuat posisi peternak rakyat, juga telah dibentuk Koperasi MARAS (Masyarakat Ayam Ras Amanah Sejahtera). Koperasi ini akan menjadi wadah bagi peternak lokal agar dapat bersaing dan tidak terpinggirkan oleh industri besar.
Beberapa keuntungan yang disiapkan bagi peternak antara lain:
Kredit Usaha Peternakan (KUP) dengan bunga ringan sekitar 3 persen melalui bank-bank Himbara dengan tenor hingga tujuh tahun.
Kepastian serapan hasil produksi melalui pembangunan industri hilir seperti Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU) dan fasilitas cold storage.
Dengan dukungan industri hilir tersebut, peternak ditargetkan mampu melakukan panen hingga enam kali dalam setahun.
Prioritas Tenaga Kerja Lokal
Dalam hal operasional, Prof. Syahrul mendorong agar tenaga kerja yang dilibatkan berasal dari putra daerah.
Posisi strategis seperti Farm Unit Manager dan Hatchery Unit Manager akan dipersiapkan melalui pelatihan khusus, sementara posisi seperti Flock Production Supervisor dapat direkrut dari lulusan perguruan tinggi lokal seperti Universitas Samawa dan Universitas Teknologi Sumbawa.
“Ini merupakan bentuk perlindungan bagi peternak dan tenaga kerja lokal melalui kebijakan afirmatif. Kita ingin membangun industri unggas dari hulu hingga hilir sekaligus meningkatkan kecukupan protein masyarakat,” pungkasnya.(AM/*)



