Opini

Fatherless : Ayah Pekerja Informal Yang Tak Punya Waktu Untuk Anak

Oleh dr. H Minanur Rahman
Di Indonesia, kebanyakan ayah jarang benar-benar pergi jauh untuk bekerja. Ia tidak kabur, tidak menghilang, tidak pula sengaja absen. Ayah ada—secara fisik, administratif, bahkan biologis. Tetapi, justru di situlah tragedinya bermula. Ayah hadir sebagai pekerja, bukan sebagai subjek relasi. Hadir sebagai penyangga ekonomi, tetapi absen sebagai penyangga makna.
  Mayoritas ayah Indonesia ‘bekerja di sektor informal’. Fakta ini sering disebut sekilas, lalu dilewati begitu saja, seolah ia hanya catatan kaki statistik. Padahal, di titik itulah pusat masalah fatherless bertengger dengan tenang.
  Ayah informal hidup dalam ekonomi tanpa jaring pengaman. Tidak ada jam kerja pasti, tidak ada cuti, tidak ada jaminan hari esok. Hidupnya dikendalikan oleh satu logika purba: hari ini kerja, hari ini makan. Besok? Kita bicarakan nanti, kalau masih ada rezeki.
  Dalam kondisi seperti itu, negara kemudian datang membawa jargon manis: *Gerakan Ayah Mengambil Rapor*. Sekilas tampak progresif. Negara akhirnya menyadari ayah bukan sekadar ATM keluarga.
  Namun di balik niat baik itu, ada ironi yang nyaris tak terbantahkan: negara meminta kehadiran simbolik dari ayah yang hidupnya ditopang oleh ketidakhadiran struktural negara sendiri.
  *Mengambil rapor* bagi ayah kelas menengah (pekerja kantoran) mungkin hanya soal parkir mobil dan tanda tangan. Bagi ayah sektor informal, itu soal meninggalkan lapak, kehilangan pelanggan, atau menunda rezeki.
  Negara lupa —atau pura-pura lupa— bahwa kehadiran tidak pernah gratis bagi mereka yang hidup dari kerja harian. Kehadiran selalu punya ongkos, dan ongkos itu dibayar dengan nasi yang mungkin tak jadi terhidang.
  Maka, fatherless di Indonesia bukan semata soal ayah yang tidak peduli. Ia adalah produk dari sistem ekonomi yang memeras waktu, tenaga, dan harga diri ayah, lalu menuntutnya tetap hangat dan reflektif dirumah.
  Ayah diminta menjadi figur emosional setelah seharian menjadi korban struktural. Sebuah tuntutan yang, kalau boleh jujur, nyaris kejam.
  Di sisi lain, budaya ikut memperparah. ‘Maskulinitas tradisional’ mengajarkan ayah untuk kuat, diam, dan bekerja. Terlalu dekat dengan anak dianggap lembek. Terlalu sering hadir di sekolah dicurigai tak laku di pasar kerja.
 Maka ayah memilih jalur aman: bekerja lebih keras, berbicara lebih sedikit, dan berharap cinta bisa dipahami tanpa pernah benar-benar diucapkan.
  Sekolah pun tak sepenuhnya bebas dari dosa. Dunia pendidikan kita lama dibangun dengan asumsi bahwa pengasuhan adalah urusan ibu. Grup Whatsap nya wali murid dipenuhi suara ibu-ibu, jadwal rapat disusun pada jam kerja, bahasa komunikasi sarat nuansa domestik. Ayah tak diundang, lalu dicap tak peduli. Ini semacam pengusiran halus yang dilakukan dengan senyum administratif.
  Dalam lanskap semacam ini, ‘Gerakan Ayah Mengambil Rapor’ sebenarnya lebih pantas dibaca sebagai pengakuan negara atas kegagalannya sendiri. Bahwa selama ini ayah dibiarkan sendirian menghadapi sistem kerja yang tidak ramah keluarga.
  Bahwa negara baru ingat peran ayah ketika dampak fatherless mulai tampak: krisis emosi anak, rapuhnya disiplin, dan generasi yang tumbuh dengan lubang relasi.
  Namun pengakuan tanpa koreksi kebijakan hanya akan melahirkan seremoni. Ayah datang ke sekolah, difoto, dipuji, lalu kembali ke dunia yang sama—tanpa cuti, tanpa perlindungan, tanpa perubahan nyata. Negara merasa progresif, sementara ayah tetap realistis: besok harus bekerja lagi.
  ‘Ayah Indonesia sesungguhnya tidak kekurangan cinta’. Ia hanya kekurangan waktu, energi, dan sistem yang berpihak. Anak-anak kita tidak kekurangan figur ayah; mereka kekurangan ayah yang sempat duduk, mendengar, dan hadir tanpa tergesa.
  Selama negara masih mengira kehadiran ayah adalah soal niat individual, bukan persoalan struktural, fatherless akan terus hidup—bukan karena ayah tak mau pulang, tetapi karena rumah terlalu mahal untuk didatangi dengan tenang.
  Dan mungkin, di situlah letak kesedihannya yang paling sunyi: “ayah bekerja agar anaknya hidup layak, tetapi anak tumbuh tanpa sempat hidup bersama ayahnya.”
  Fatherless dalam kehidupan seorang anak dapat memberikan dampak yang signifikan pada berbagai aspek perkembangan anak baik secara emosional, psikologis, maupun sosial. Anak yang tumbuh tanpa kehadiran ayah sering menghadapi tantangan dalam aspek sosial, termasuk kurangnya rasa percaya diri dan keterbatasan dalam keterampilan bersosialisasi yang pada akhirnya berdampak pada performa akademik dan kualitas hubungan dengan orang lain.
  Secara psikologis, ketiadaan ayah dapat mengakibatkan kurangnya stabilitas emosional bagi anak dan berisiko lebih tinggi mengalami gangguan kecemasan dan depresi. Anak mungkin merasa tidak lengkap atau bertanya-tanya, mengapa ayah mereka tidak ada dalam kehidupan mereka. Ketidakstabilan ini dapat memengaruhi cara mereka memandang hubungan interpersonal, termasuk kepercayaan terhadap orang lain.
  Aspek akademis juga berdampak secara signifikan pada anak yang tumbuh tanpa kehadiran ayah. Ketiadaan peran ayah dapat berdampak merugikan pada pencapaian akademik si anak. Anak-anak yang mengalami fatherless menunjukkan prestasi kognitif yang lebih buruk, nilai ujian yang lebih rendah, dan tingkat kehadiran sekolah yang lebih sedikit.(AM/*)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Exit mobile version