
Oleh dr. H Minanur Rahman
Sesungguhnya kehidupan ini terjadi begitu saja. Bahkan alam semesta pun terjadi begitu saja. Yang dimaksud ‘terjadi begitu saja’ adalah “kun fayakun” seperti yang disebutkan dalam Al-Qur’an surah Al-‘An`ām :73 – Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: “Jadilah, lalu terjadilah”, dan di tangan-Nya-lah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.
Namun, apakah jalan hidup manusia telah ditentukan sebelum dilahirkan? Apakah Allah sudah memperlihatkan jalan hidup manusia sebelum lahir ke dunia?
Penciptaan manusia dan hadirnya di Bumi tentu telah ditetapkan Allah Subhanahu wata’ala. Setiap jiwa manusia telah ditetapkan takdirnya mulai dari dilahirkan oleh siapa, dimana, kapan, dan semua potensi yang ada pada dirinya, hingga saat kematiannya.
Selanjutnya nasib setiap anak dipengaruhi oleh asuhan dan didikan orang tua atau pengasuhnya. Seiring bertambahnya umur, setiap manusia terus belajar dan berusaha untuk menjadi lebih dewasa dan bertanggungjawab. Setiap orang dewasa yang berakal sehat dituntut untuk menggunakan akalnya dalam memilih jalan hidup yang benar, yang baik dan bermanfaat, dan selanjutnya diminta pertanggungjawaban atas semua pilihan dan perbuatannya.
Beruntunglah anak-anak yang mendapatkan pengasuhan dan pendidikan yang mengajarkan keimanan dan ketaqwaan. Mereka lebih mudah memahami makna takdir, karena takdir adalah urusan keimanan. Sedangkan anak-anak yang kurang mendapatkan pendidikan agama, mereka harus berjuang lebih keras dalam menjalani kehidupan karena mereka tidak mendapatkan tuntunan (hidayah) dari Allah SWT.
Setiap orang mempunyai takdir meliputi qadha’ dan qodar. Adapun secara istilah, qadha’ adalah ketentuan Allah yang sudah ditetapkan sejak alam semesta belum diciptakan atau zaman azali (zaman sebelum diciptakannya umat manusia).
Sedangkan qadar, secara bahasa adalah ukuran atau jangka waktu tertentu. Secara istilah, qadar adalah ukuran atau ketentuan yang ditetapkan Allah yang dapat kita saksikan.
Qadar dibagi menjadi dua macam. Pertama, takdir mubram yaitu ketentuan Allah SWT yang pasti terjadi dan tidak dapat diubah. Contohnya kelahiran dan kematian. Kedua, takdir mu’allaq yaitu ketentuan Allah yang mungkin bisa diubah dengan ikhtiar (usaha sungguh-sungguh) dan doa. Contohnya orang bodoh dapat pandai jika berdoa dan berikhtiar.
Sesungguhnya setiap diri manusia sudah ditetapkan untuk menjadi seseorang, ada yang menjadi pemimpin, menjadi guru atau ilmuwan, menjadi pedagang atau petani atau pegawai, menjadi dokter atau pengacara, dan ribuan jenis peran kehidupan. *Kita sesungguhnya telah dimudahkan Allah* untuk menjadi seseorang dan mencapai kesuksesan, kekayaan atau kekuasaan. Namun kebanyakan manusia merasa semua pencapaian itu atas usaha dan kemampuannya sendiri.
Sedangkan orang-orang beriman merasa bahwa apapun yang telah mereka capai adalah bentuk dari kasih sayang Allah kepada hambanya, karena itu mereka selalu bersyukur dengan mengucapkan “Alhamdulillah”. Orang-orang beriman tidak merasa dirinya hebat, kuat, atau berkuasa. Karenanya mereka tidak membanggakan diri dan tidak sombong.
Orang-orang beriman berpasrah pada kehendak Tuhannya, mematuhi semua perintah Nya, dan menjauhi semua yang dilarang oleh Tuhannya. Mereka selalu berdoa memohon petunjuk dalam setiap perbuatan dan tindakannya. Dan mereka selalu memohon ampunan dari kesalahan, kekeliruan, atau ketidaktahuan yang mereka lakukan. Hatinya dipenuhi dengan rasa syukur dan kesabaran.
Menjadi orang beriman adalah karunia hidayah dari Allah SWT. Tidak boleh ada seseorang yang memaksa orang lain untuk memeluk suatu agama, bahkan agama Islam. Disebut dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah :256 – Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Ketika kita sudah menyatakan beriman kepada Allah, kepada Rasulullah, kepada Al-Qur’an, kepada malaikat, takdir, dan akhirat, maka sesungguhnya kita pasrah sepenuhnya kepada ketetapan Allah, patuh pada seluruh perintah-Nya, menjauhi semua laranganNya, dan hanya menyembah-Nya serta tidak menyekutukan. Itulah yang dinamakan ikhlas dan ridho kepada Allah SWT.
Ketika kita ikhlas dan ridho kepada Allah maka seluruh kehidupan terasa indah, nikmat, menyenangkan, dan membahagiakan. Kita merasakan betapa sempurna semua makhluk dan semua yang terjadi di alam semesta. Kita merasakan tubuh dan jiwa ini begitu sempurna sehingga hidup terasa nyaman dan nikmat. Kita bisa berfikir, bertindak, dan mewujudkan banyak impian untuk kehidupan yang lebih baik.
Rasanya semua yang kita pikirkan atau inginkan adalah ilham dari Allah Subhanahu wata’ala. Semua yang kita kerjakan terasa mudah dan lancar. Semua seakan berjalan dan terjadi begitu saja. Sehingga hati ini selalu bersyukur penuh kelegaan.
Orang-orang yang mengikuti Takdir Allah itu selalu sholat setiap waktu yang ditentukan, memulai segala sesuatu dengan “Bismillah” dan berdo’a memohon untuk dimudahkan, dan mengerjakan tugas dengan penuh semangat dan keyakinan. Mereka orang-orang yang selalu bersyukur dan sabar dalam menghadapi kehidupan. Mereka tidak suka mengeluh, tidak mudah marah, dan pantang putus asa. Bagi mereka apapun hasil dari usaha dan ikhtiarnya dikembalikan kepada ijin Allah SWT. Keberhasilan yang mereka raih adalah karunia kasih sayang Allah SWT.(AM/*)



