Opini

Ketika Bisa Makan Berarti Tidak Lagi Miskin

Oleh Sri Asmediati

Guru SMP Negeri 1 Labuhan Badas

Pagi-pagi sekali, keluarga petani di desa terpencil sudah sibuk dengan ladang jagung mereka.
Sarapan sederhana: nasi sisa kemarin, tempe setengah matang, dan air kopi pahit. Anak-anak
berangkat sekolah dengan tas sobek, sepatu bolong, tapi hati mereka masih ringan, karena
“masih bisa makan hari ini.” Ibu di dapur menimbang beras satu genggam untuk cukup bagi
lima mulut. Ayah sesekali mengelus keringatnya, sambil menghitung apakah hasil panen cukup
menutupi pupuk dan benih. Jika berhasil, mereka dianggap tidak miskin, karena bisa makan.
Di pesisir, keluarga nelayan menenteng jala basah setelah pulang dari laut. Ikan yang
tertangkap kadang cuma cukup untuk satu hari makan; lebih dari itu harus dijual ke tengkulak
dengan harga yang tak masuk akal. Anak-anak membantu menjemur ikan di panas terik, sambil
berharap laut esok memberikan rezeki lebih banyak. Ibu menyiapkan sambal seadanya, dan
sesekali menahan lapar agar anak-anak tidak kelaparan. Nelayan sering bercanda pahit: “Kalau
bisa makan hari ini, besok dianggap bonus.” Bank Dunia mencatat, lebih dari 60 juta orang
Indonesia hidup di bawah standar US$2,15 per hari—hidup mereka masih jauh dari layak
manusia.
Di kota, tukang ojek menunggu penumpang di lampu merah yang panas membakar kulit. Setiap
perjalanan Rp10.000 hingga Rp20.000 harus dibagi untuk bensin, potongan aplikasi, dan nasi
siang. Kadang hanya cukup untuk satu gelas air mineral dan sepiring nasi bungkus. Tapi mereka
tersenyum saat bisa menghidupi keluarga sehari-hari, karena menurut “standar hidup BPS”,
bisa makan artinya tidak miskin. Tukang ojek sering bercanda, “Kalau saldo rekening minus, asal
nasi masih di meja, kita kaya!” Humor pahit ini jadi senjata bertahan di kota yang mahal.
Data Bank Dunia 2025 menunjukkan, Indonesia memiliki sekitar 37 juta orang yang hidup dalam
kemiskinan ekstrem. Artinya, meski bisa makan sehari-hari, jutaan orang tetap kekurangan
akses pendidikan, kesehatan, dan air bersih. Standar hidup mereka berada jauh di bawah garis
“layak manusia” internasional. Sementara itu, BPS melaporkan angka kemiskinan resmi hanya
8,5%, yang membuat pemerintah bangga. Tapi bagi keluarga petani, nelayan, dan tukang ojek,
angka itu hanyalah cerita di atas kertas. Realitas di sawah, di laut, dan di lampu merah kota
tidak mengenal politik angka.
Petani mengeluhkan pupuk mahal, banjir, dan hama yang memakan panen. Nelayan meratap
karena tengkulak menekan harga, dan ombak yang tak bersahabat. Tukang ojek bergidik
menghadapi biaya bensin yang selalu naik tanpa permisi. Mereka semua sadar, bisa makan
artinya bertahan hidup, tapi tidak berarti bebas dari kemiskinan yang menyiksa. Bank Dunia
menegaskan, pendapatan kurang dari US$2,15 per hari membuat manusia tidak punya
tabungan, tidak punya akses kesehatan, dan tidak punya masa depan jelas. Mereka tersenyum
pahit, karena memang, “hidup masih berjalan, ya itu sudah cukup.”
Sekolah di desa sering kekurangan guru, buku, dan sarana belajar. Anak nelayan menunda
sekolah karena harus membantu ayah menarik jala. Tukang ojek kota kadang menahan diri
tidak masuk kerja demi menjaga anak sakit di rumah. Semua ini menunjukkan bahwa bisa
makan tidak berarti kualitas hidup memadai. Bank Dunia bahkan memperingatkan, 60%
masyarakat Indonesia rentan jatuh miskin jika ada guncangan ekonomi. Jadi, tertawa pahit
setiap hari adalah strategi adaptasi.
Humor pahit muncul saat petani bercanda soal panen yang habis dimakan tikus. Nelayan
tertawa kecut ketika ikan dijual murah padahal laut sedang “dermawan.” Tukang ojek saling
bercanda tentang “bonus tip” yang kadang hanya satu roti. Mereka tahu, bertahan hidup dan
bisa makan itu seni, bukan keberhasilan ekonomi. Menurut data Bank Dunia, Indonesia berada
di peringkat 2 dunia untuk jumlah penduduk miskin ekstrem, kalah hanya dari Zimbabwe. Dan
mereka hanya bisa tertawa, karena angka itu tidak mengubah nasib sehari-hari.(AM/*)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Exit mobile version