Jumat, 27 Februari 2026
spot_img

Kiat Inspiratif Sukses Syahrul Bosang, Ahli Peternakan Unggas Terkemuka Kelas Nasional dan Global

Catatan:
Didin Maninggara
(Episode 1)

kiat-inspiratif-sukses-syahrul-bosang-ahli-peternakan-unggas-terkemuka-kelas-nasional-dan-global

 

Jakarta,anugerah-media.com

Pertama kali bertemu Syahrul Bosang pada April 1982. Saat itu saya sering tugas meliput di Yogyakarta sebagai jurnalis Koran PELITA, salah satu media nasional terkemuka. Syahrul baru setahun menjadi mahasiswa Fakultas Peternakan UGM dan tinggal di Asrama Mahasiswa Sumbawa di Jalan Suryaatmajan DN I/50 Yogyakarta. Ia bersebelahan kamar dengan adik kandung saya Tajuddin Syamsuddin yang kuliah di Fakultas Teknik UII. Mereka berteman sejak SMP dan SMA di Sumbawa.

 

Saya dan Syahrul sering diskusi ringan di asrama tersebut. Seiring waktu, setelah meraih gelar insinyur peternakan UGM tahun 1986, ia hijrah ke Jakarta. Kami pun kembali bertemu dan berdiskusi lebih serius tentang banyak hal.

 

Dalam penilaian reflektif saya dengan jarak waktu tentang karier profesionalnya. Saya berkesimpulan, Syahrul Bosang adalah sebuah perjalanan yang berdinamika. Pandangan dan pemikirannya dalam aneka dimensi kehidupan, terutama tentang hidup bermasa depan, terus bergerak menembus tantangan. Mengepak sayap terbang tinggi melakukan inovasi. Membangun relasi dan jaringan. Muaranya, menjadikan Syahrul sebagai ahli budidaya unggas sukses yang mendapat legitimasi nasional bahkan internasional dari Aviagen School, USA, tempat ia memperdalam ilmu perunggasan.

 

Dengan pengalaman itu, peran profesionalnya sebagai konsultan ahli di PT Berdikari dan konsultan GPS Farm di ACOLID. Ia semakin berkontribusi dengan keakhliannya, antara lain sebagai pemberi edukasi mengenai manajemen budidaya unggas dan efisiensi repreduksi ternak untuk ketahanan pangan nasional.

 

Ia juga aktif di organisasi ISPI (Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia).

 

Syahrul lahir di Sumbawa Besar, ibu kota Kabupaten Sumbawa pada 30 Agustus 1960. Tampil dengan seabrek aktivitas dan peran strategis di dunia perunggasan nasional dan global.

 

Dinamika perjuangan hidupnya seperti bibit unggul yang menumbuhkan pohon rindang, karena daya ubah dirinya. Bukan karena daya ubah oleh orang lain.

 

Lantaran itulah, Syahrul belajar hidup dengan kedirian dirinya. Dengan jiwa kemandirian dan semangat untuk sukses.

 

Daya ubahnya membawa spirit inspirasi sekaligus motivasi yang paling dicari dalam pusaran budidaya dan bisnis perunggasan nasional.

 

Ia mendedikasikan keahlian dan profesionalitasnya dengan satu keinginan: “Bangsa dipersatukan oleh ayam.”

 

Ia datang bukan dari lingkungan elit pengusaha yang serba fasilitas dan finansial serta kekuatan besar, melainkan dari anak seorang Polri yang bertugas di Sumbawa. Namun memiliki tekad tunggal dan semboyan yang bersemayam di kolong batinnya: “Fokus pada tujuan dan jangan menunda-nunda pekerjaan” yang juga menjadi mottonya dalam berperan strategis pada industri perunggasan nasional dan global.

 

Yang Menginspirasi Kesuksesannya

 

Hidup memang terkadang tak selalu berjalan mulus, karena ada masalah yang menghampiri. Itu dirasakan Syahrul. Karena itu, mengeluh sampai ingin menyerah adalah hal wajar yang dilakukan ketika mulai lelah menjalani hidup.

 

“Namun, ketika kita mampu memotivasi diri bahwa hidup adalah perjalanan menuju masa depan, maka membangkitkan inspirasi menjadi kekuatan baru,” ujarnya, sembari mengingatkan, mengeluh hanya akan membuat hidup kita semakin tertekan. Sedangkan bersyukur akan senantiasa membawa kita pada jalan kemudahan.

 

Ada tiga hal yang menjadi kunci dalam kehidupannya, yaitu jalani, nikmati, lalu syukuri.

 

Ia berpesan, bila hari ini kita merasa berat dan mengeluh, maka ingatlah ada orang yang ingin kita bahagiakan, yakni anak dan istri sebagai amanah.

 

Sebab, kata Syahrul, kebahagiaan bukanlah sesuatu yang sudah jadi, tapi berasal dari jerih payah perjuangan hidup.

 

Maka itulah, lanjut Syahrul, cara untuk mencintai pekerjaan yang kita lakukan dengan mensyukuri, karena rejeki datang dari Tuhan melalui kerja keras dan doa. Dengan demikian, hidup memiliki kekuatan untuk bangkit.

 

Ia pun menutup perbincangan dengan sebuah narasi bijak: “Hidup bukan tentang menunggu badai berlalu, tetapi belajar
menari di tengah hujan.”

(Bersambung ke episode 2).

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles