
(Sebuah Interpretasi Sosiologis)
Oleh : Imam Sutrisno (Tau Samawa di Perantauan)
Selalu ada sesuatu yang melampaui nada pada tiupan Serunai, Ia tak pernah gagal
menghadirkan nuansa magis yang terasa lampau sekaligus sakral. Pun demikian, ketika Ia
bersekongkol dan membahana bersama tabuh Rabana serta serak vokal yang menghentak
pada intro lagu “Tau Samawa”, seolah ingin menarik paksa imajinasi kita mengarungi kepingan-kepingan ingatan kolektif tentang “sapuan ana” yang guyub , yang royong yang intim dan bersahabat – sebuah potret yang di gambarkan oleh Ferdinand Tönnies sebagai masyarakat’gemeinschaft’.
Menariknya, lagu “Tau Samawa” yang di nyanyikan dengan penuh Harmoni oleh Iqbal dan Widi tak ingin berhenti pada sekedar melantunkan kerinduan atas nilai dan keluhuran dari yang’sapuan ana’. Mereka berdua melalui lirik yang menohok, memprovokasi kita untuk melihat secara objektif realitas antropologis ‘Tana Samawa’ kontemporer dan sekaligus mengajak kita menancapkan jangkar etos kolektif dalam menghadapi corak sosiologis yang ‘mungkin’ mulai menunjukkan gejala pergeseran menuju masyarakat ‘Gesellschaft’ — sebuah tatanan patembayan yang dingin, anonim, dan kerap kali membuat kita kehilangan navigasi moral.
– Arketipe1 Inklusivitas “Tana Samawa” sebagai etos kolektif
Pengungkapan realitas antropologis dimulai sejak lagu ini berusaha mengetengahkan ontologi
muasal “Tana Samawa” dengan frasa “Tau Ka Ada, Tau Ka Datang”. Dan dengan cara ini lagu
“Tau Samawa” mengkalibrasi gelombang kesadaran kita agar beresonansi di frekuensi yang
sama. Frekuensi yang didalamnya terdapat keyakinan akan dua hal mendasar; Pertama,
keberagaman yang tediri dari variabel ‘Ka Ada’ dan ‘Ka Datang’ adalah dua entitas yang padu
dan sinergi lalu melebur menjadi satu identitas baru bernama masyarakat sumbawa
kontemporer. Kedua, Identitas baru inilah yang wajib di insafi menjadi bagian dari arketipe
peradaban kita hari ini.
Dengan demikian, lagu “Tau Samawa” dalam batasan tertentu dapat pula dimaknai sebagai
sebuah upaya serius untuk mengaktivasi landasan etos baru yang lebih objektif dan realistis,
juga inklusif. Etos yang mengakui secara tegas bahwa keberagaman adalah bagian dari “yang
ontologis”. Sebuah ikhtiar yang krusial, mengingat upaya pembangunan peradaban (kini dan
kedepannya) — jika hendak mengarah pada pencapaian yang adiluhung — mensyaratkan
tersedianya algoritma sosial yang akurat dan relevan. Yang membuka kemungkinan dan
1 Arketipe: Pola dasar atau model universal yang tertanam dalam kesadaran kolektif suatu masyarakat (semacam platform dimana peradaban bergerak di atasnya). Dalam konteks ini, ia merujuk pada peleburan dua entitas (‘Tau ka Ada’ dan ‘Tau ka Datang’) sebagai fondasi peradaban.menggerakkan setiap individu dalam masyarakat untuk “Sasopo Diri – Sasopo Riri”, yakni yang berpijak pada realitas objektif yang inklusif dan fleksibel—bukan hanya pada ilusi standart modernitas yang bias (footloose)2.
– Mantra “Restorasi Nilai” yang Preskriptif
Bait ke-tiga hingga akhir, lagu “Tau Samawa” nampak melampaui batas-batas seni dan
kesusastraan dalam pengertian umum, Ia menjelma rapalan mantra restorasi nilai, merajutnya kembali persis di pusat hamparan zaman, membisikkannya kepada para pelaku dan penerus kebudayaan dalam bentuk Ethnomusicology yang seimbang. Penggubahnya bak ” Sandro Peradaban ” yang mengangkat kembali kepusakaan “pasatotang tau sapuan/balo tolo” (nasehat/pitutur nenek moyang) tentang bagaimana semestinya “pikir dan laku” menempatkan tiga pilar utama; pangeto, ila, ke saling satingi (pengetahuan, kehormatan, saling support) sebagai nilai yang wajib di atributkan pada diri. Selayaknya ‘sandro’ (tabib)
, Ia memang di tuntut untuk mampu membaca gejala ‘penyakit’ zaman, sekaligus juga meresepkan “penawar” ( Road Map) yang presisi. Disanalah letak preskripsi dari lirik dalam lagu “Tau Samawa”, pada ‘nilai lama’ yang di introdusir ulang agar menjadi perangkat norma sebagai bagian dari rancang bangun/konstruksi masa depan yang diharapkan lebih baik.
– Tentang Sebuah Seruan Aksi dan Harapan Keberlanjutan
Bait keempat dan kelima secara teknis bisa dikatakan merupakan ujung dari senandung
“Tau Samawa”, namun sejatinya ia hanyalah permulaan dari sebuah seruan untuk bergerak. Jika melalui lagu ini Iqbal bermaksud mendeklarasikan sebuah sistem restorasi nilai dan seruan moral yang melampaui batas-batas lirik dan nada, maka ia telah berhasil sepenuhnya.
Sebaliknya, jika kita (para pendengar) hanya berhenti pada ke-terbuai-an (Semacam
‘songorgasm’ : pemuasan emosional sesaat melalui harmoni lirik dan nada), maka
tentu patut disayangkan. Frasa ‘Sakompal Satego Gama’, ‘Na Sangilang Na Sanonda’, disamping menegaskan bahwa lagu ini lebih nampak sebagai sebuah ‘provokasi3 melodik’ ketimbang sekedar menyajikan ‘katharsis melodik’, juga menekankan bahwa hanya dengan komitment soliditas dan kasatuan harmonik ( kompal,tego) yang secara konsisten dilestarikan dan diaktifkan ( Na Ilang, Na Nonda), kita (Tau Samawa) akan tiba pada masa depan yang lebih menjanjikan kemajuan dalam makna yang sebenarnya.
2 Footloose: Sebuah istilah yang dalam sosiologi dan ekonomi digunakan untuk menggambarkan entitas yang tidak memiliki keterikatan kuat secara geografis pada wilayah atau akar budaya tertentu . Dalam konteks ini, ia merujuk pada risiko modernitas yang membuat masyarakat tercerabut dari identitas aslinya dan menjadi “anonim” di tengah
arus globalisasi.
3 Provokasi dalam konteks kalimat tersebut adalah berkonotasi positif. Provokasi pada sebuah aksi nyata yang solid, konsisten dan berkelanjutan.
Last But Not Least, melalui penggunaan istilah “maris”4 , Sang Penggubah nampak ingin
mengingatkan kita bahwa menjadi Tau Samawa adalah proses panjang yang sebaiknya tidak
terputus dari “yang ontologis” (asal-usul yang beragam dan inklusif), terus perpegang pada”pasatotang sapauan” (pilar pangeto, ila dan saling satingi) sembari tanpa ragu memandang jauh ke depan dan melangkah menuju pencapaian cita-cita menuju Sumbawa yang Sama Balong dan Sama Lewa.
…. He hee he heee eee ee (ho ham) He heee eee eee he (ho ham) He heee eee eee…. (Bunyi
Vokal pada
Bridge transisi dari bait keempat ke bait kelima)
4 Maris: adalah sebuah istilah dalam Bahasa Sumbawa yang dipahami penulis sebagai “kondisi ketersinambungan” (bukan sekedar keberlanjutan). dengan kata lain sebuah eksistensi yang memiliki keterhubungan dengan 3 masa secara bersamaan; masa lalu, yang kontemporer dan yang akan datang.(AM/*)



