Opini

Langkah Langkah Menjalani Takdir Allah SWT

Oleh dr. H Minanur Rahman

 

Apapun yang terjadi di alam semesta dan pada diri setiap makhluk adalah dalam kuasa Allah SWT. Semuanya tertata teratur dalam hukum semesta yang adil, seimbang dan proporsional.
  Demikian pula pada kehidupan manusia yang hadir setelah bumi tertata sempurna seindah surga. Manusia adalah makhluk penghuni bumi yang paling sempurna yang mampu berfikir, berkehendak dan mencipta.
  Keistimewaan manusia tersebut dibekali dengan takdir yang terbaik bagi setiap orang per orang. Manusia bisa menjalani takdir terbaiknya bila mengikuti dan seusia dengan tuntunan dan kehendak Tuhan.
  Tuntunan dan kehendak Tuhan itu disampaikan oleh para nabi dan rasul serta kitab-kitab yang diturunkan. Juga dalam setiap diri manusia yang sholat akan mendapatkan tuntunan (hidayah) dalam setiap langkahnya.
  Allah telah menakdirkan segala sesuatu yang terbaik untuk setiap diri manusia. Disebut dalam Al-Qur’an surat At-tin :
“sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian, kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan. Maka, mereka akan mendapat pahala yang tidak putus-putusnya.”
  Ditegaskan pula garis besar agar kehidupan manusia tidak merugi dalam surat Al-Ashr ; “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.
  Surat tersebut menjelaskan syarat untuk hidup dalam takdir terbaik yaitu ‘Beriman’ kepada Allah SWT, adanya Malaikat, pada kitab-kitab yang diajarkan para nabi dan rasul, adanya takdir, dan kehidupan akhirat. Beriman tentunya diwujudkan dalam ketaatan dan ketakwaan atas perintah Nya dan meninggalkan semua larangan Nya.
  Selanjutnya adalah ‘mengerjakan amal saleh’ yaitu segala perbuatan yang benar, baik, dan bermanfaat bagi kehidupan manusia, kehidupan makhluk lain, serta kelestarian alam tempat tinggal makhluk Bumi. Semua perbuatannya tidak merusak, tidak membahayakan, tidak merugikan, dan tidak menyebabkan datangnya bencana.
  Selain itu setiap orang dan semua komunitas juga berkewajiban nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. Manusia adalah makhluk sosial yang saling berinteraksi dan saling membutuhkan. Kita tak boleh membiarkan orang lain berbuat salah atau buruk atau merugikan semaunya. Manusia harus membuat hukum/peraturan dan petugas penegakkan hukum tersebut.
  Nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran sangat penting untuk mencegah perselisihan menjadi pertengkaran bahkan peperangan. Kesabaran secara perorangan juga penting untuk kita bisa istiqomah dalam kebenaran dan kebaikan. Dengan kesabaran bisa bisa mewujudkan kehidupan yang damai, sejahtera dan bahagia.
  Bila Anda dilanda kegalauan karena beratnya masalah maka kembalilah kepada Allah SWT untuk memohon pertolongan. Berikut ini adalah ayat yang menegaskan jaminan Allah akan mengurus hamba-Nya.
– Al-Baqarah:255 – “Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”
  Selanjutnya dalam surat yang  sama ayat terakhir, Allah menegaskan bahwa ‘beban manusia itu sesuai dengan kesanggupannya, dan Allah memberi tuntunan do’a untuk meringankan beban itu.
– Al-Baqarah :286 – “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”.
  Istiqomah adalah sikap teguh, lurus, dan konsisten dalam menjalankan kebaikan, ketaatan kepada Allah SWT, serta berpegang teguh pada jalan yang benar tanpa menyimpang, baik dalam ibadah maupun aktivitas duniawi, bahkan saat menghadapi kesenangan maupun kesulitan. Ini adalah sifat mulia yang dicintai Allah, diibaratkan seperti embun yang terus memberi kehidupan secara perlahan dan setia, menjanjikan ketenangan dan surga bagi pelakunya.
–  “Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Rabb kami adalah Allah,’ kemudian mereka tetap istiqomah, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (seraya berkata), ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.'” (QS. Fussilat: 30).
  Jika kalian istiqomah Malaikat akan menjagamu sepanjang masa.
  Sekali lagi yakinlah bahwa setiap manusia terlahir dengan takdir terbaik, dan menjadi sengsara, tersesat serta terhina itu karena salah manusia itu sendiri. Manusia itu sendiri yang mengubah takdir menjadi buruk karena ingkar kepada Allah SWT.
 “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri”.
Wallahu a’lam bisshowab..(AM/*)

Tinggalkan Balasan