Opini

Masuk Sekolah di Awal Semester Genap: Menata Ulang Asa Pendidikan di Tanah Sumbawa

Oleh  : Sri Asmediati.S.Pd Huru SMPN 1 Labuhan Badas

 

Masuk Sekolah di Awal Semester Genap: Menata Ulang Asa Pendidikan di Tanah Sumbawa
Oleh Sri Asmediati
Awal semester genap di tanah Sumbawa selalu hadir dengan suasana yang khas. Tidak gegap
gempita, tidak banyak seremoni, namun sarat makna. Setelah libur akhir tahun yang dilalui
dengan beragam cerita—dari panen yang belum sepenuhnya menggembirakan, harga
kebutuhan pokok yang naik, hingga cuaca yang tak selalu bersahabat—anak-anak Sumbawa
kembali melangkahkan kaki ke sekolah. Seragam dikenakan lagi, sepatu kembali berdebu oleh
jalanan desa, dan lonceng sekolah kembali memanggil.
Namun, masuk sekolah di awal semester genap bukan sekadar soal kembali ke bangku kelas. Ia
adalah momentum refleksi: sejauh mana pendidikan di Sumbawa benar-benar berjalan sebagai
proses memanusiakan manusia, bukan sekadar rutinitas administratif yang berulang dari tahun
ke tahun.
Dari Libur Panjang ke Realitas Sekolah
Bagi banyak siswa di Sumbawa, libur akhir tahun bukan hanya waktu bermain. Di desa-desa,
anak-anak ikut membantu orang tua di sawah, ladang, atau menggembala ternak. Ada pula
yang membantu berdagang di pasar, atau sekadar menjaga adik di rumah. Realitas sosial ini
membuat transisi kembali ke dunia sekolah tidak selalu mudah.
Ketika semester genap dimulai, sekolah sering kali menuntut kesiapan penuh: buku harus
lengkap, tugas harus rapi, dan target kurikulum harus segera dikejar. Padahal, siswa datang
dengan latar belakang yang beragam. Ada yang kembali dengan semangat baru, ada pula yang
datang dengan beban pikiran akibat kondisi ekonomi keluarga yang belum membaik.
Di sinilah tantangan pendidikan di Sumbawa menjadi nyata. Sekolah tidak bisa hanya berdiri
sebagai institusi formal, tetapi harus hadir sebagai ruang empati yang memahami konteks sosial
peserta didiknya.
Semester Genap sebagai Cermin Pendidikan Daerah
Semester genap adalah fase evaluasi. Ia memperlihatkan dengan jujur wajah pendidikan kita. Di
Sumbawa, semester ini sering kali menjadi penentu: apakah siswa mampu mengejar
ketertinggalan, apakah guru mampu menjaga konsistensi pembelajaran, dan apakah sekolah
benar-benar menjalankan fungsinya secara utuh.
Hasil belajar semester ganjil menjadi cermin awal. Masih ditemukannya kesenjangan capaian
belajar antara sekolah kota dan desa, antara sekolah dengan fasilitas memadai dan sekolah
dengan sarana terbatas, menunjukkan bahwa pemerataan pendidikan masih menjadi pekerjaan
rumah besar di daerah ini.
Semester genap seharusnya menjadi ruang perbaikan, bukan sekadar pengulangan kesalahan.
Ia menuntut keberanian sekolah dan pemerintah daerah untuk jujur mengevaluasi: apakah
kebijakan yang ada sudah menyentuh kebutuhan riil sekolah-sekolah di pelosok Sumbawa?
Tantangan Infrastruktur dan Akses
Tidak dapat dipungkiri, persoalan pendidikan di Sumbawa masih berkutat pada masalah klasik:
keterbatasan sarana prasarana. Masih ada sekolah dengan ruang kelas rusak, perpustakaan
minim buku, dan akses internet yang tidak stabil—bahkan nyaris tidak ada.
Di awal semester genap, tantangan ini kembali terasa. Ketika kebijakan pembelajaran berbasis
digital digaungkan, sebagian sekolah di Sumbawa masih bergulat dengan sinyal dan listrik. Guru
dituntut kreatif, sementara fasilitas belum sepenuhnya mendukung.
Kondisi ini sering kali membuat semangat belajar siswa tergerus. Mereka bukan tidak mau
belajar, tetapi sistem belum sepenuhnya berpihak pada realitas daerah. Semester genap
semestinya menjadi waktu refleksi bagi pemangku kebijakan agar tidak menyamaratakan
pendekatan pendidikan antara kota besar dan daerah kepulauan seperti Sumbawa.
Menghidupkan Kembali Semangat Belajar Anak Sumbawa
Kejenuhan belajar juga menjadi tantangan nyata di semester genap. Setelah setengah tahun
ajaran dilalui, motivasi siswa cenderung menurun. Jika pembelajaran masih bersifat satu arah,
minim konteks lokal, dan jauh dari realitas kehidupan siswa, sekolah akan terasa
membosankan.
Padahal, Sumbawa memiliki kekayaan lokal yang luar biasa untuk dijadikan sumber belajar.
Alam, budaya, tradisi gotong royong, hingga kearifan lokal masyarakat Samawa dapat
diintegrasikan dalam pembelajaran. Belajar tidak harus selalu dari buku teks nasional yang
kadang terasa jauh dari kehidupan siswa.
Mengaitkan pelajaran dengan lingkungan sekitar—pertanian, peternakan, laut, dan budaya
lokal—akan membuat pendidikan lebih hidup dan bermakna. Semester genap adalah waktu
yang tepat untuk menghidupkan kembali semangat belajar melalui pendekatan kontekstual.
Peran Guru di Tengah Keterbatasan
Guru di Sumbawa memegang peran kunci di awal semester genap. Mereka tidak hanya
berhadapan dengan target kurikulum, tetapi juga dengan realitas sosial siswa. Guru dituntut
menjadi pendidik sekaligus pendamping kehidupan.
Di tengah keterbatasan fasilitas dan tuntutan administrasi yang kerap membebani, dedikasi
guru sering kali menjadi satu-satunya penopang kualitas pendidikan. Namun, dedikasi saja tidak
cukup. Guru membutuhkan dukungan nyata: pelatihan yang relevan, kebijakan yang berpihak,
dan pengurangan beban administratif yang tidak esensial.
Semester genap seharusnya menjadi momentum memperkuat peran guru sebagai penggerak
perubahan, bukan sekadar pelaksana aturan.
Orang Tua dan Lingkungan Sosial
Masuk sekolah di awal semester genap juga menegaskan pentingnya peran orang tua di
Sumbawa. Di banyak keluarga, pendidikan masih dipandang sebagai urusan sekolah semata.
Padahal, dukungan keluarga sangat menentukan keberhasilan belajar anak.
Komunikasi antara sekolah dan orang tua perlu diperkuat. Orang tua tidak harus selalu mampu
membantu pelajaran secara akademik, tetapi kehadiran, perhatian, dan dorongan moral sangat
berarti bagi anak.
Lingkungan sosial juga memiliki peran besar. Sekolah tidak bisa bekerja sendiri jika lingkungan
sekitar tidak mendukung budaya belajar. Semester genap harus menjadi momentum
membangun ekosistem pendidikan yang melibatkan semua pihak.
Sekolah sebagai Ruang Aman dan Beradab
Di tengah meningkatnya persoalan sosial, sekolah di Sumbawa harus menegaskan dirinya
sebagai ruang aman. Tidak boleh ada kekerasan, perundungan, atau diskriminasi yang
membuat siswa enggan datang ke sekolah.
Sekolah yang beradab adalah sekolah yang menghargai martabat setiap anak, apa pun latar
belakangnya. Pendidikan bukan alat untuk menghakimi, tetapi sarana untuk membimbing dan
menguatkan.
Menyongsong Semester Genap dengan Kesadaran Baru
Masuk sekolah di awal semester genap di tanah Sumbawa seharusnya dimaknai sebagai
kesempatan menyusun ulang arah pendidikan. Bukan sekadar mengejar ketuntasan kurikulum,
tetapi membangun proses belajar yang relevan, adil, dan manusiawi.
Semester genap adalah babak penentuan. Di sinilah pendidikan diuji bukan oleh angka di rapor
semata, tetapi oleh kemampuannya membentuk generasi Sumbawa yang cerdas, berkarakter,
dan berakar pada nilai-nilai lokal.
Jika pendidikan mampu berjalan dengan kesadaran itu, maka setiap langkah anak-anak
Sumbawa memasuki gerbang sekolah di awal semester genap bukanlah rutinitas kosong,
melainkan perjalanan penuh harapan menuju masa depan yang lebih bermakna.[AM/*]

 

Tinggalkan Balasan