
Oleh dr. H Minanur Rahman
Makhluk yang paling sempurna di muka Bumi adalah manusia. Oleh karena itu manusia harus bertanggungjawab atas perbuatannya. Banyak manusia yang mengaku sedang membangun dan memperbaiki padahal yang sedang mereka lakukan adalah merusak dan memusnahkan kehidupan. Mereka lupa bahwa penghuni Bumi ini bukan hanya manusia. Sesungguhnya manusia sangat tergantung pada keberadaan makhluk-makhluk Bumi lain. Musnahnya makhluk makhluk itu akan mengganggu keseimbangan ekosistem. Rusaknya ekosistem akan memusnahkan keseluruhan kehidupan.
Kini jumlah populasi manusia di Bumi ini sudah mencapai 8 milyar yang berarti bertambah delapan kali dari penduduk di tahun 1800. Meledaknya pertambahan jumlah penduduk ini disebabkan oleh kemajuan teknologi pertanian dan revolusi Industri serta kemajuan dunia kedokteran yang menjamin kesejahteraan dan kesehatan.
Sementara ini dunia lebih berfokus pada pengendalian jumlah penduduk sehingga berhasil menurunkan angka penambahan penduduk dari 2% menjadi kurang dari 1% pertahun. Namun hal ini belum menjawab persoalan kerusakan ekosistem berupa “perubahan iklim”.
Masalahnya ternyata bukan hanya jumlah penduduk, tetapi juga meningkatnya penggunaan sumber daya alam yang berlebihan. Konsumsi perkapita sekarang jauh lebih tinggi dari satu abad yang lalu. Manusia telah menghabiskan bahan bakar fosil untuk segala aktivitas. Manusia sangat boros menggunakan air bersih untuk pertanian dan industri. Manusia memakan daging terlalu banyak sehingga muncul penyakit kronik. Dan manusia bertingkah liar meninggalkan kemanusiaan sehingga meningkatkan kriminalitas.
Ada lagi masalah yang lebih besar yaitu ketimpangan dunia maju dengan dunia yang berkembang. Pertambahan jumlah penduduk dunia berkembang lebih tinggi, akan tetapi mereka hidup lebih sederhana dan sedikit mengkonsumsi sumber daya. Sebaliknya di negara maju, meskipun pertambahan penduduknya rendah namun tingkat konsumsinya 5 kali lebih tinggi. Ini berarti selain dari pengendalian jumlah penduduk, juga diperlukan pengendalian konsumsi sumber daya. Artinya penduduk negara maju harus lebih efisien dalam penggunaan sumber daya.
Bagaimana dengan bangsa Indonesia? Indonesia adalah negara berkembang dengan penduduk hampir 300 juta dan mayoritas beragama Islam. Indonesia memiliki kekayaan alam yang luar biasa sayangnya bangsa Indonesia tidak mampu mengelola sendiri. Rakyat Indonesia kebanyakan hanya mampu memproduksi teknologi rendah dan sangat tergantung import pada barang teknologi tinggi.
Yang harus dilakukan oleh bangsa Indonesia adalah membangun kualitas manusia agar mampu mengelola kekayaan alam secara mandiri. Rakyat Indonesia harus sehat, cerdas, mandiri, beriman, berjiwa sosial, dan sederajat dengan bangsa lain.
Budaya rakyat Indonesia adalah hidup sederhana, bermasyarakat, religius, dan mencintai alam. Kesederhanaan ini sering digoda dengan gaya hidup hedonis dengan barang barang impor. Kebanggaan pada kemewahan barang impor justru meruntuhkan kebanggaan pada produk bangsa sendiri. Lebih lanjut juga menurunkan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia.
*Kemandirian bangsa* harus menjadi motto pembangunan bangsa. Rakyat Indonesia mempunyai potensi kecerdasan yang sama dengan negara lain bila mendapatkan pendidikan yang mampu menumbuhkan bakat dan potensi. Pendidikan harus bisa membentuk karakter pembelajar, karakter pejuang, karakter integritas, dan karakter beriman.
Rakyat Indonesia juga mampu berprestasi dalam bidang olahraga bila *pertumbuhan dan perkembangan anak terjamin*. Anak-anak Indonesia harus mendapatkan asupan protein yang lebih baik agar bisa tumbuh lebih tinggi dan lebih cerdas. Anak-anak harus mempunyai ruangan yang cukup untuk bermain, berolahraga dan beraktivitas. Dan anak-anak perlu diidentifikasi bakat dan potensinya sejak dini, kemudian dididik dan dilatih sesuai dengan bakat dan potensinya.
Pemerintah harus lebih mendorong industri yang mampu dikelola oleh bangsa Indonesia. Lebih mengutamakan pertanian daripada pertambangan. Mendorong pengembang kota yang rendah emisi karbon dioksida. Mengembangkan wisata berbasis keindahan alam.
Bangsa Indonesia yang religius akan menjadi rujukan banyak negara tentang kehidupan yang damai, toleran, dan bersaudara. Tren penduduk dunia untuk belajar agama akan lebih menikmati belajar di Indonesia. Peluang ini akan menyadarkan bangsa Indonesia untuk lebih bersyukur sebagai bangsa yang beragama.



