Opini

Membimbing Anak Menjalani Takdir Terbaik

Oleh dr. H Minanur Rahman
Setiap diri manusia telah ditakdirkan kehidupannya hingga akhir hayat. Lahirnya seorang bayi bukanlah kebetulan melainkan telah ditetapkan siapa ayah dan  ibunya, jenis kelamin, kapan dilahirkan, hingga kelak menjadi apa setelah dewasa. Akan tetapi takdir itu bisa berubah.
  Kemudian nasib anak dipengaruhi oleh asuhan orangtuanya, pendidikan yang peroleh, serta pergaulan di lingkungannya. Anak-anak yang diasuh dengan penuh kasih sayang, diajarkan agama dan akhlak akan mempunyai tujuan hidup yang jelas. Sebaliknya orang tua yang tidak mengasuh dan mendidik dengan baik maka anak akan kebingungan dan kehilangan arah.
  Masa anak sangat penting untuk menanamkan kebiasaan baik, membentuk karakter, mengajarkan pola pikir/mindset, dan belajar mengelola perasaan.
  Kebiasaan terbentuk melalui pengulangan secara teratur. Kebiasaan baik yang penting adalah gemar belajar, rajin beribadah, menghargai orang lain, jujur dan disiplin. Kebiasaan yang dilakukan terus menerus akan menjadi karakter yang melekat sepanjang hidupnya.
  Orang tua juga perlu mengajarkan pola pikir/mindset melalui berdiskusi dengan anak. Percakapan yang rutin antara orang tua dengan anak-anaknya akan menularkan cara berfikir. Selain itu melalui interaksi orang tua dapat mengajarkan anak untuk mengenali perasaan dan cara mengelola emosi.
  Anak perlu belajar mengenali berbagai perasaan dan emosi. Ada perasaan dan emosi yang baik, ada pula yang buruk. Perasaan dan emosi yang baik adalah emosi positif seperti bahagia, syukur, cinta, harapan, tenang, kagum, bangga, dan belas kasihan, yang meningkatkan kesejahteraan dan hubungan.
  Sedangkan Perasaan dan emosi yang buruk (emosi negatif) adalah perasaan tidak menyenangkan seperti sedih, marah, cemas, takut, benci, iri, kecewa, atau putus asa yang bisa mengurangi kebahagiaan, kepercayaan diriku, dan kepuasan hidup, sering kali dipicu oleh stres, kurang tidur, masalah hormon, atau kondisi mental.
  Ketrampilan mengelola perasaan dipengaruhi oleh pola pikir dan prinsip-prinsip yang diyakini. Respons terhadap perasaan melibatkan pemahaman (empati/simpati), pelepasan emosi (katarsis), ekspresi diri (verbal/non-verbal), dan respons fisiologis, dengan yang terpenting adalah mengelola respons perilaku terhadap emosi yang muncul, bukan emosinya itu sendiri, melalui jeda, mendengarkan, atau memvalidasi perasaan tanpa harus bertindak destruktif.
  Anak-anak juga perlu didengar dan dihargai pilihan dan pendapatnya. Anak-anak berhak memilih yang dia suka. Ajarkan anak untuk minta pertimbangan orang tua sebelum menetapkan pilihan atau membuat keputusan. Orang tua yang bijak akan memberikan pertimbangan dengan penjelasan yang rasional dan mudah dipahami. Sebaiknya orang tua tidak langsung menolak pilihan atau keputusan anak.
  Anak juga perlu belajar mempertimbangkan pilihan atau keputusan untuk masa depan yang lebih baik. Untuk itu anak juga perlu dibiasakan untuk berdoa memohon petunjuk Nya dalam memilih atau membuat keputusan. Dengan berdoa pilihan atau keputusan akan terasa lebih mantap karena mendapatkan ridho Allah SWT.
  Perlu juga anak-anak diajak untuk bercita-cita bercermin pada kesuksesan orang tua, mempelajari biografi tokoh, dan kisah para Rasul. Cita-cita penting untuk mendorong semangat belajar dan berlatih. Cita-cita bisa saja berubah seiring bertambahnya usia. Jangan protes kalau anak mengubah cita-citanya.
  Bila anak sudah beranjak remaja, sikap orang tua harus berubah menjadi sahabat yang setia mendengar, menemani, dan memberi nasehat. Anak remaja ingin diperlakukan seperti orang dewasa, dia tak mau diperlakukan seperti anak kecil.
  Di usia remaja ini seharusnya sudah terbentuk kebiasaan baik bahkan menjadi karakter. Bila kebiasaan baik anak sudah konsisten maka orang tua boleh menyekolahkan di kota lain agar berlatih mandiri.
  Ketika anak memasuki usia dewasa dan siap menempuh pendidikan tinggi maka orang tua harus mendorong untuk memilih bidang pendidikan yang sesuai dengan kemampuan dan minat. Anak harus berani dan bertanggungjawab menghadapi konsekuensi dan resiko atas pilihannya.
  Ini adalah saat kritis yang menentukan nasib masa depan anak, karena itu orang tua harus membimbing dan memberi pertimbangan dalam membuat pilihan bidang pendidikan di perguruan tinggi.
  Orang tua harus berani memberi jaminan biaya pendidikan anak sesuai keputusan untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Hal ini penting karena biaya pendidikan tinggi sangat mahal.
   Jadi untuk mengantarkan anak menjalani takdir terbaiknya diperlukan bimbingan orang tua dari sejak lahir hingga menjelang dewasa. Orang tua yang lalai dalam mengasuh, mendidik, dan membimbing anak sesungguhnya telah menjerumuskan anak ke takdir yang buruk.(AM/*)

Tinggalkan Balasan