Sabtu, 14 Maret 2026
spot_img

Mengapa Perokok Sulit Berhenti Merokok

𝘖𝘭𝘦𝘩 dr. H Minanurrahman
Terdapat sejumlah alasan kenapa orang sulit berhenti merokok selama ini. Setidaknya ada tujuh hal yang dapat menjadi penyebab orang sulit berhenti merokok. Berikut penjelasannya:
1. Rokok atau tembakau bersifat ADIKTIF
*Siklus Adiksi Nikotin* yang terkandung di dalam rokok. Ketika Nikotin terserap ke dalam darah dan diteruskan ke otak, akan diterima oleh reseptor α4β2. Setelah itu, terjadi pelepasan hormon Dopamine yang memberikan rasa nyaman.
Ketika zat Dopamine berkurang, rasa nyaman hilang dan timbul keinginan untuk kembali merokok. Begitu seterusnya, sehingga perokok sulit untuk berhenti merokok.
Sementara, ketika perokok berhenti merokok, maka akan muncul *gejala putus nikotin* yang menyebabkan tubuh merasa tidak nyaman. Hal itu dikarenakan *neurotransmitter* yang selama ini memberikan efek nyaman pada perokok jadi berdampak sebaliknya, seperti batuk-batuk, tak enak badan, sakit kepala, sulit tidur, dan lain-lain. Maka dari itu, orang akan semakin sulit untuk berhenti merokok. Inilah yang disebut Adiktif atau ketergantungan.
2. Harga Rokok Terjangkau (murah)
Orang sulit berhenti merokok juga karena harga rokok di Indonesia yang masih terjangkau oleh rakyat bawah. Kondisi tersebut berbeda dengan yang terjadi di beberapa negara lain. Di mana, *harga rokok di luar negeri sengaja dibuat mahal* sehingga hanya bisa dibeli oleh kalangan tertentu.
Menaikkan harga secara perlahan-lahan tidak mengubah kebiasaan merokok. Yang terjadi justru para perokok berganti ke rokok yang lebih murah atau rokok illegal.
3. Kebijakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) belum jalan optimal
Kebijakan KTR belum diterapkan oleh semua lapisan atau semua daerah. Hal ini berkaitan dengan banyak tokoh masyarakat, pejabat dan anggota legislatif yang aktif merokok.
Demikian pula dengan sebagian tokoh agama yang kurang mendukung larangan merokok. Dengan demikian, aktivitas rokok masih bisa dilakukan secara bebas tanpa rasa malu.
4. Pemahaman Bahaya Merokok belum maksimal
Sosialisasi bahaya merokok “tidak seimbang” dengan iklan rokok. Selain itu lemahnya keteladanan para pemimpin dan tokoh masyarakat yang masih merokok.
5. Masyarakat kurang “berpihak” pada aturan “Dilarang Merokok”
Tak hanya menunjukkan sikap Permisif dan Apatis terhadap rokok, beberapa orang bahkan memilih menentang aturan Dilarang Merokok. Banyak Istri yang tidak mampu melarang suaminya merokok.
6. Citra Rokok yang diciptakan Produsen Rokok
Masyarakat teralihkan dengan citra “positif” rokok yang dikuatkan oleh iklan, sponsorship dan “program” yang dibiayai industri (karena mereka menjual produk). Akibatnya, informasi bukti bahaya kesehatan rokok tidak terakses masyarakat luas.
7. Belum semua profesi kesehatan bersatu padu
Belum semua profesi kesehatan bersatu padu berjuang dan membantu perokok untuk berhenti. “Bantuan untuk berhenti merokok sangat minimal di Indonesia,”
Perjalanan Seseorang Menjadi Perokok.
Ada banyak cara seseorang bisa menjadi perokok. Mereka bahkan bisa mulai menjadi perokok dari usia pra sekolah.
   Berikut ini perjalanan menjadi perokok sesuai kelompok usia;
1. Usia pra sekolah. Balita merokok karena meniru orang lain (imitasi) di sekitarnya. Logika berpikir Balita belum berkembang optimal. Perilaku ini dipengaruhi orang tua.
2. Pra Remaja. Anak-anak merokok karena ada model orang dewasa merokok, bisa kakak, orangtua, guru, dan lainnya. Prosesnya melalui identifikasi, imitasi, penguatan sosial dan konformitas.
3. Remaja Merokok selain karena ada model orang dewasa merokok, juga bentuk pemberontakan. Tekanan teman dan kelompok sebaya. Proses konformitas cukup kuat di tahapan ini da nada dua kategori, melalui sosialisasi dan seleksi.
4. Dewasa Merokok karena keinginantahuan. Pengaruh perokok di sekitarnya. Reseptif terhadap pemasaran.
Bagi sebagian orang, berhenti merokok mungkin akan susah untuk dilakukan karena efek candu nikotin. Namun, hal itu patut diperjuangkan karena bahaya rokok sangat nyata, seperti memperbesar peluang terkena penyakit kanker paru-paru. Asap rokok mengandung zat karsinogenik atau racun, termasuk benzene dan formaldehyde.
   “Merokok menjadikan seseorang menjadi lebih rentan terhadap serangan virus, bakteri, dan penyakit lainnya,” jelas Koordinator Quit Tobacco Indonesia ini.
   Sementara itu, di masa pandemi Covid-19 ini, merokok dapat meningkatkan risiko penularan virus corona baru dan akan memperberat komplikasi penyakit akibat Covid-19.
   Aktivitas merokok rentan menjadi wahana penularan Covid-19 karena melibatkan kontak jari yang mungkin terkontaminasi dengan mulut secara intens. Hal tersebut memberikan peluang bagi virus dari jari tangan berpindah ke mulut dan masuk ke dalam tubuh.
   Apabila perokok terinfeksi Covid-19, akan memperberat kondisi tubuhnya karena mereka cenderung sudah mempunyai masalah di paru-paru akibat zat-zat kimia yang terisap saat merokok.(AM/)

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles