Sumbawa

Menyimak : Seni Mendengar di Era Pikiran yang Terlalu Cepat

Oleh dr. H Minanur Rahman

 

Ada momen ketika seseorang berbicara di depan kita, tetapi pikiran kita sudah pergi entah ke mana. Tubuh tetap duduk manis, namun perhatian melayang ke daftar pekerjaan yang belum selesai, kenangan beberapa hari lalu, atau rencana makan malam. Fenomena ini bukan sekadar tanda kurang fokus. Ia mencerminkan kenyataan bahwa *menyimak tidak sesederhana mendengar suara*.
  Ada jurang besar antara kecepatan manusia berbicara dan kecepatan otak memproses informasi. Rata-rata orang berbicara sekitar 125 kata per menit, sementara otak bisa memproses hingga 900 kata per menit. Dengan selisih sebesar itu, wajar jika pikiran sesekali mengambil rute lain.
  *Menyimak* yang sebenarnya bukan hanya soal telinga, tetapi soal kesadaran. Mendengar adalah proses fisik: suara masuk, gendang telinga bergetar, dan otak mengenali bunyi. *Menyimak adalah proses mental: memahami, menafsirkan, menyambungkan konteks, dan mengolah makna*. Keduanya kerap dianggap sama, padahal perbedaannya sangat besar. Menyimak membutuhkan intensi, bukan sekadar fungsi biologis.
  Langkah pertama untuk menjadi pendengar yang baik adalah memahami bahwa *mendengar dan menyimak adalah dua proses berbeda.* Mendengar terjadi otomatis tanpa usaha. Sedangkan Menyimak memerlukan perhatian penuh dan rasa ingin tahu.
  Saat seseorang selesai berbicara, cobalah *merangkum inti pesannya*. Kalimat sederhana seperti “Kalau aku memahami dengan benar…” dapat membuat lawan bicara merasa diakui. Ini menunjukkan kamu hadir dalam percakapan, bukan hanya mendengarkan separuh hati.
  Kebiasaan kedua berkaitan dengan *dinamika relasi*. Cara kita menyimak berubah tergantung siapa yang berbicara. Ketika berbicara dengan seseorang yang lebih senior, kita cenderung berhati-hati. Saat berbicara dengan junior, kita sering terpancing untuk mengarahkan atau memberi solusi cepat. Padahal, konteks percakapan menuntut pendekatan yang berbeda.
  Dengan junior, lebih baik berikan *pertanyaan terbuka* agar mereka dapat mengembangkan pemikirannya. Dengan senior, ajukan *pertanyaan klarifikasi* agar pemahamanmu tidak meleset. Menyimak berarti mampu beradaptasi dengan situasi dan hubungan yang ada.
  Kebiasaan ketiga adalah *kesiapan untuk mengubah sudut pandang*. Banyak orang hadir dalam percakapan bukan untuk belajar, melainkan untuk menunggu gilirannya bicara. Mereka lebih fokus pada respons apa yang akan mereka berikan ketimbang memahami apa yang sedang disampaikan. Sikap ini membuat percakapan berjalan di tempat.
  Agar percakapan berkembang, masukilah ruang dialog dengan *keinginan untuk belajar sesuatu yang baru*. Ketika kita berani membuka diri, kita memberi kesempatan bagi perspektif lain untuk memperkaya cara kita melihat dunia.
  Kebiasaan keempat adalah *mengajukan pertanyaan yang memancing pemahaman lebih dalam*. Kalimat seperti “Boleh ceritakan lebih jauh?” atau “Apa yang membuatmu berpikir begitu?” dapat membuka percakapan lebih luas. Jangan buru-buru merespons ketika lawan bicara selesai berbicara. Diam sejenak sering kali membuka ruang bagi mereka untuk menambahkan hal yang lebih jujur atau lebih penting.
  Kebiasaan kelima berkaitan dengan *memanfaatkan celah kecepatan antara mulut dan pikiran*  Alih-alih membiarkan pikiran berkelana, gunakan kelebihan kapasitas otak itu untuk merangkum ucapan lawan bicara atau menyusun pertanyaan yang relevan. Dengan begitu, kamu tetap terhubung pada percakapan meskipun otak sebenarnya bekerja jauh lebih cepat daripada mulut.
  Kebiasaan keenam adalah *menyiapkan kondisi batin*. Menyimak membutuhkan ketenangan dan ruang mental. Jika pikiran penuh beban, percakapan penting terasa seperti gangguan. Sebelum masuk ke dialog yang membutuhkan perhatian penuh, atur pernapasan dan singkirkan distraksi. Niat yang jernih akan membuatmu lebih hadir dan tidak mudah teralihkan.
  Kebiasaan ketujuh adalah *memperhatikan hal-hal yang tidak diucapkan.* Terkadang makna terbesar justru muncul dari jeda panjang, perubahan nada suara, atau bahasa tubuh yang ragu. Cara seseorang memilih kata, tempo bicara, hingga sorot mata dapat menunjukkan emosi atau pesan tersembunyi. Menangkap bagian yang tak terucap membuat pemahamanmu jauh lebih utuh.
  Pada akhirnya, menyimak adalah keterampilan yang dibentuk dengan latihan, bukan bakat yang diberikan begitu saja. Di tengah dunia yang serba cepat, bising, dan penuh distraksi, kemampuan untuk benar-benar hadir dalam percakapan menjadi kemampuan yang jarang ditemukan.
  Ketika kamu mampu mendengarkan dengan empati, menghormati ruang bicara orang lain, dan memberi mereka rasa dipahami, kamu bukan hanya menjadi pendengar yang lebih baik. Kamu tumbuh menjadi pribadi yang lebih matang, lebih hangat, dan lebih mampu membangun hubungan yang kuat dan bermakna.(AM/*)

Tinggalkan Balasan