Sabtu, 21 Februari 2026
spot_img

Meskipun Sakit Tetap Harus Berniat Puasa

Oleh dr. H Minanur Rahman
Keringanan dalam berpuasa Ramadhan diberikan kepada orang yang sakit, kelelahan, dan lemah karena usia sudah uzur. Keringanan itu berupa mengganti puasa di lain waktu sejumlah hari yang ditinggalkan atau membayar fidyah berupa memberi makan orang miskin bagi yang tak mampu berpuasa. Artinya *semua mukmin wajib berpuasa Ramadhan tanpa kecuali*, jadi semua mukmin wajib berniat puasa ramadhan meskipun terpaksa membatalkan di tengah hari.
   Disebutkan dalam Al Qur’an Surah Al-Baqarah :184 – ….. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.
   Di akhir ayat tersebut menegaskan bahwa, *berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.* Ini bermakna bahwa meskipun Anda sakit atau sedang dalam perjalanan jauh yang melelahkan, maka akan lebih baik bila Anda teruskan berpuasa hingga waktu berpuasa. Ternyata penelitian membuktikan bahwa berpuasa Ramadhan itu tidak membuat sakit bertambah parah, justru sebaliknya membantu proses kesembuhan.
   Bagaimana cara berpuasa ketika sedang sakit? Yang perlu dipahami bahwa puasa hanya berlangsung selama 14 jam, mulai jam 04.30 hingga 18.30. Sedangkan di malam hari bebas untuk makan dan minum. Istirahat makan di siang hari memberi kesempatan saluran pencernaan untuk istirahat sejenak.
   Orang yang sedang sakit biasanya membutuhkan istirahat, tentu tidak ada aktivitas fisik di siang hari yang melelahkan. Dengan demikian tidak banyak energi yang dibutuhkan dan tidak ada rasa lapar di siang hari.
   Karena tidak makan di siang hari maka waktu makan sahur harus memenuhi kebutuhan gizi hingga sore hari. Makan sahur sebaiknya lengkap yaitu makanan pokok, lauk-pauk, sayuran dan buah-buahan. Waktu makan sahur sebaiknya menjelang subuh selanjutnya melaksanakan sholat subuh. Setelah makan sahur jangan langsung tidur, tunggu setelah 2 jam untuk memberi kesempatan lambung mencerna makanan. Demikian pula waktu berbuka puasa, segerakan makan dengan menu lengkap dan bergizi agar tubuh bugar kembali.
   Masalah yang sering terjadi adalah malas atau kehilangan nafsu makan ketika makan sahur. Terlambat bangun atau rasa kantuk kadang membuat makan sahur menjadi tidak sempurna. Apalagi kalau makanan tidak tersedia dengan cukup, yang ada hanya sisa makanan berbuka kemarin. Masalah ini perlu dihadapi dengan semangat ingin segera sembuh dan tidak mau kehilangan pahala puasa.
   Bila kemalasan menyerang maka hadapilah dengan istighfar dan mohon kekuatan Allah SWT, dengan membaca “astaghfirullah al Adhim wa atuubu ilaika, laa haula wa laa quwwata illa billah”. Kuatkan niat untuk menjalankan ibadah puasa demi ketakwaan dan balasan kesembuhan. Yakinlah bahwa dengan makan yang cukup gizi, terus berpuasa, dan minum obat, InsyaAllah kesembuhan segera datang.
  Bagaimana dengan waktu minum obat? Waktu minum obat ada yang satu kali sehari, ada yang dua kali, dan ada pula yang tiga kali sehari. Bila obat harus diminum sekali atau dua kali sehari tentu tidak akan menggangu puasa. Karena obat bisa diminum ketika waktu sahur dan berbuka.
   Bagaimana bila obat harus diminum tiga kali sehari? Obat bisa diminum waktu berbuka puasa, kemudian malam sebelum tidur, dan ketiga waktu makan sahur. Nah.. Dengan demikian tidak ada alasan untuk tidak berpuasa meskipun harus minum obat tiga kali sehari.
   Bagaimana bila sudah berusaha untuk berpuasa namun di tengah hari badan terasa sakit, panas, muntah, dan lemas? Tentu kita boleh membatalkan puasa, bersegera makan dan minum obat. Disini lah berlaku hukum keringanan dalam berpuasa. *Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.* Puasa yang batal akan diganti di lain waktu sejumlah hari yang ditinggalkan, atau mengganti dengan membayar fidyah.
   Bagi mukmin yang sudah terbiasa puasa ramadhan sejak masa anak-anak, kehilangan kesempatan berpuasa itu terasa amat berat. Maka tidak lah mengherankan bila mukmin yang sakit akan berusaha keras untuk berpuasa meskipun kondisinya lemah. Mereka yakin bahwa puasa ramadhan ini berpahala sangat besar dan sakit adalah ujian ringan untuk menghapus dosa.
  Sesungguhnya yang menjadi penghalang kesembuhan bukanlah berpuasa, akan tetapi turunnya semangat dan hilangnya nafsu makan yang membuat tubuh menjadi lemah. Karena itu, penting untuk memahami bahwa puasa ramadhan tidak memperberat kondisi sakit selama masih ada semangat dan mau makan agar tubuh segar bertenaga. Selamat berpuasa..(AM/*)

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles