
Oleh dr. H Minanur Rahman
Biaya pendidikan tinggi di Indonesia dirasakan mahal oleh sebagian besar rakyat. Dibandingkan dengan program studi lain, pendidikan dokter lebih mahal karena membutuhkan sumber daya manusia dan fasilitas lebih banyak serta rumit.
Namun, minat masyarakat untuk jadi dokter tetap tinggi meski mereka harus membayar hingga ratusan juta rupiah. Tingginya minat calon mahasiswa untuk menempuh pendidikan kedokteran tampak dari tingginya peminat fakultas kedokteran di sejumlah perguruan tinggi negeri dan swasta.
Beberapa contoh biaya Pendidikan Kedokteran di berbagai Universitas
Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa (FK Unibos) Makassar, Sulawesi Selatan, yang baru dibuka mulai tahun ajaran 2016-2017, menerima 53 pendaftaran secara daring untuk gelombang pertama. Padahal, universitas itu membuka pendaftaran hingga tiga gelombang. “Semua pendaftar akan diseleksi untuk mendapat mahasiswa bermutu,” kata Rektor Unibos Muhammad Saleh Pallu.
Meski baru dan sejumlah fasilitas penunjang masih tahap penyelesaian, Unibos mematok uang pangkal mahasiswa fakultas kedoktera Rp 225 juta dan biaya per semester Rp 10 juta.
FK Universitas Nahdlatul Ulama (Unusa) Surabaya, Jawa Timur, yang baru berjalan dua tahun pun banyak diminati warga. Tahun lalu, ada sekitar 300 pendaftar, hampir 6 kali ketimbang daya tampungnya yang hanya 50 mahasiswa baru setahun.
Bagi mahasiswa baru, pengelola FK Unusa mematok dana pengembangan pendidikan Rp 275 juta dan dana operasional Rp 25 juta per semester. “Kebutuhan dana tinggi karena pendidikan dokter perlu banyak alat khusus yang mahal.” kata Wakil Dekan FK Unusa Handayani.
Sementara FK Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS), Jatim, menerima pendaftaran sekitar 800 calon mahasiswa per tahun. Daya tampungnya hanya 160 mahasiswa atau seperlima dari peminat yang ada.
Rektor UWKS Sri Harmadji mengatakan, FK UWKS berusia 30 tahun dan berakreditasi B. Mereka mematok uang pangkal mahasiswa baru Rp 350 juta dan Rp 3,5 juta untuk biaya pendidikan per bulan.
Di FK Universitas Trisakti, Jakarta, tahun 2015 mengenakan uang pangkal Rp 300 juta dan biaya per semester Rp 25 juta- Rp 35 juta. “Sebagai FK dengan akreditasi B, FK Trisakti boleh menerima mahasiswa maksimal 200 mahasiswa,” kata Dekan FK Trisakti Suriptiastuti.
Sementara FK Universitas Malahayati (Unmal), Bandarlampung, Lampung, mengenakan sumbangan Rp 250 juta bagi mahasiswa baru dan Rp 12 juta untuk sumbangan pembinaan pendidikan setiap semester. Namun, biaya riil yang dikeluarkan mahasiswa kedokteran bisa lebih dari itu.
Biaya besar pendidikan Kedokteran
Menurut Sekretaris Umum Asosiasi Institut Pendidikan Kedokteran Indonesia Riyani Wikaningrum, biaya masuk FK yang besar sebanding dengan besarnya dana untuk menghasilkan lulusan dokter bermutu. “Proses pendidikan di FK unik, berbeda dengan program studi lain karena menggabungkan pendidikan akademik dan pendidikan profesi,” katanya.
Mata kuliah bersifat khusus membuat dosen FK mengajar satu mata kuliah tertentu. FK butuh banyak petugas laboratorium karena tak bisa dicampur mengelola laboratorium berbeda serta perlu banyak alat dan bahan sekali pakai yang mahal.
Hal itu membuat banyak universitas, khususnya swasta, mematok biaya tinggi. Banyak pengelola universitas tak paham kebutuhan dana pendidikan dokter tinggi. “Hanya 30-60 persen biaya dari mahasiswa balik ke FK demi memenuhi kebutuhan mahasiswa,” ujarnya.
*Biaya mahal tersebut membuat hanya calon mahasiswa berduit yang bisa mengakses pendidikan kedokteran. Mutu calon mahasiswa, baik kemampuan akademik maupun karakter yang perlu dimiliki calon mahasiswa kedokteran, kerap dikesampingkan*. “Besarnya dana membuat kelayakan pendidikan kedokteran dikesampingkan,” kata Wakil Ketua II Konsil Kedokteran Indonesia Satryo Soemantri Brodjonegoro. Akibatnya, banyak lulusan FK tak memenuhi standar kompetensi.
Akibat Tingginya Biaya Pendidikan Kedokteran
Biaya pendidikan dokter yang mahal mengakibatkan minimnya jumlah tenaga spesialis, ketimpangan akses profesi (hanya mampu diakses kalangan berprivilese), serta mahalnya biaya kesehatan secara keseluruhan. Hal ini juga memicu *komersialisasi pendidikan kedokteran* dan potensi penurunan kualitas lulusan karena fokus pada kemampuan finansial daripada akademik.
Berikut adalah dampak utama dari tingginya biaya pendidikan dokter di Indonesia:
Minimnya Jumlah Dokter Spesialis: Pendidikan spesialis yang mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah menyebabkan terbatasnya jumlah dokter spesialis yang dihasilkan.
Ketimpangan Akses Pendidikan: Kedokteran hanya dapat diakses oleh kelompok ekonomi atas, sehingga menciptakan profesi yang “terwariskan” atau didominasi anak dokter, sementara calon berbakat dari ekonomi lemah sulit masuk.
Komersialisasi Pendidikan & Kesehatan: Kampus cenderung menaikkan biaya demi kemandirian PT-BH (Perguruan Tinggi Berbadan Hukum), yang berakibat pada mahalnya biaya layanan kesehatan di kemudian hari sebagai upaya “balik modal”.
Beban “Balik Modal”: Dokter yang lulus cenderung memprioritaskan praktik di kota besar dengan penghasilan tinggi, memperparah kekurangan dokter di daerah terpencil.
Risiko Kualitas: Fokus pada kemampuan membayar daripada akademik dapat mengesampingkan kualitas lulusan.
Mengapa Biaya Kedokteran Mahal?
Pertanyaan yang sering diajukan banyak orang mengenai jurusan kedokteran salah satunya adalah kenapa kuliah jurusan kedokteran harus siap-siap mengeluarkan uang yang banyak? bahkan kuliah jurusan kedokteran selalu UKT nya yang paling mahal di antara jurusan-jurusan lainnya. Apa alasan yang membuat jurusan kedokteran UKT nya selalu mahal? berikut alasan-alasannya:
1. Buku Kedokteran ;
Hampir buku tentang kedokteran yang tersedia merupakan buku impor karena masih sangat jarang penerbit di Indonesia yang menerbitkan buku-buku tersebut sehingga buku impor itulah yang menyebabkan mahalnya harga buku kedokteran tersebut.
2. Teknologi Medis
Teknologi medis itu terus berkembang, sehingga mahasiswa jurusan ini juga harus memiliki akses ke teknologi medis terbaru. Peralatan dan teknologi medis terbaru membutuhkan biaya yang besar untuk perawatan dan perbaikan.
3. Fasilitas dan Laboratorium
Salah satu penyebab mahalnya kuliah jurusan kedokteran karena fasilitas dan laboratorium yang pastinya membutuhkan biaya besar untuk perawatan dan perbaikan secara rutin.
4. Kurikulum Kedokteran
Kurikulum jurusan kedokteran ini sangat intensif dan memerlukan pengajar serta materi yang berkualitas. Oleh karena itu, kampus harus menghabiskan biaya yang besar untuk mengembangkan dan mempertahankan kurikulum.
5. Pengajar dan Tenaga Kesehatan
Gaji dan insentif untuk mereka juga cukup tinggi karena mereka harus memiliki kualifikasi yang tinggi dan pengalaman yang luas sehingga biaya kuliah kedokteran menjadi mahal.
6. Sertifikasi dan Akreditasi
Kampus yang menawarkan program kuliah jurusan ini harus memperoleh sertifikasi dan akreditasi dari badan-badan tertentu. Hal ini memerlukan proses yang rumit dan biaya yang besar.(AM)



