Senin, 23 Februari 2026
spot_img

Penerapan Nilai Puasa Dalam Kehidupan

Oleh dr. H Minanur Rahman
Ramadhan adalah bulan istimewa dan spesial. Ramadhan menjadi bulan yang dirindukan banyak orang, tidak hanya umat Islam saja, tapi juga komunitas agama lain. Bulan ini seakan-akan menjadi keberkahan tersendiri bagi seluruh umat manusia. Hal ini juga membuktikan bahwa ajaran Islam itu benar-benar membawa rahmat bagi seluruh alam.
  Ramadhan menjadi momentum bagi umat Islam untuk meningkatkan spiritualitas diri, baik secara vertikal kepada Allah maupun secara horizontal kepada sesama manusia dan alam. Salah satu ibadah wajib yang harus dilaksanakan di bulan Ramadhan adalah puasa. Ibadah puasa diwajibkan hanya pada bulan Ramadhan saja, barangkali ini juga menjadi alasan mengapa Ramadhan termasuk bulan yang istimewa dan spesial. Kewajiban puasa Ramadhan dijelaskan Allah SwT di dalam Al-Qur’an:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah/ 2: 183)
  Dalam Tafsir Al-Azhar, Buya Hamka menjelaskan bahwa jika suatu ayat diawali dengan seruan kepada orang beriman, maka ayat tersebut akan mengandung suatu hal penting atau suatu larangan berat. Allah SWT telah menjelaskan terlebih dahulu bahwa yang siap dan bersedia menerima perintah-Nya itu hanya orang yang beriman. Maka, perintah puasa ini disampaikan kepada orang-orang yang beriman. Seandainya perintah puasa itu tidak dijatuhkan kepada orang beriman niscaya perintah itu tidak akan terealisasi.
  Kewajiban puasa telah ada jauh sebelum masa Nabi Muhammad SAW, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Baqarah: 183, yang bertujuan untuk membentuk ketakwaan umat terdahulu. Praktik puasa para nabi dan umat terdahulu bervariasi, termasuk puasa 3 hari setiap bulan (Ayyamul Bidh) oleh Nabi Adam AS, puasa 1 tahun penuh oleh Nabi Nuh AS, hingga puasa Daud (sehari puasa, sehari tidak).
   Puasa adalah ibadah universal yang juga diwajibkan atau dianjurkan dalam agama-agama lain selain Islam, seperti Yahudi, Kristen, Hindu, Buddha, dan Jainisme, dengan tata cara dan tujuan spiritual tersendiri. Umumnya, puasa bertujuan untuk penyucian diri, pengendalian nafsu, meningkatkan disiplin, serta pendekatan kepada Tuhan.
  Puasa Ramadhan dalam Islam dirancang dengan prinsip kemudahan (yusra) dan bertujuan mengendalikan hawa nafsu, bukan penyiksaan diri. Dibandingkan ajaran terdahulu atau agama lain, puasa Islam lebih ringan karena teknisnya terbatas dari fajar hingga maghrib, adanya sahur, serta keringanan bagi yang sakit/musafir.
  Puasa tidak hanya sekedar menahan aktivitas lapar dan dahaga semata, tapi lebih jauh dari itu puasa juga berimplikasi pada peningkatan spiritualitas. Hal ini dapat kita perhatikan diujung ayat QS. Al-Baqarah (2) ayat 183 di atas bahwa puasa dapat membentuk diri kita menjadi pribadi yang bertakwa. Maka, kita bisa memahami juga bahwa tanda suksesnya Ramadhan kita adalah tertanamnya sifat takwa dalam diri kita.
   Di antara nilai-nilai puasa yang dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari adalah:
Pertama, nilai kejujuran (siddiq/integritas). Orang yang berpuasa tercermin dalam dirinya sifat kejujuran. Sebab, puasa merupakan ibadah rahasia antara kita dan Allah. Kita bisa saja makan dan minum di tempat sepi tanpa ada seorang pun yang melihat, tetapi kita tidak melakukan hal tersebut karena selalu merasa dilindungi oleh Allah SWT. Jika nilai ini diterapkan dalam kehidupan, maka seorang pejabat tidak akan melakukan korupsi, pebisnis tidak akan berlaku curang, dan seterusnya.
Kedua, nilai kesabaran ( self-control ). Ibadah puasa yang kita kerjakan mampu menanamkan sifat sabar. Orang yang sabar mampu mengendalikan dirinya dengan baik atas syahwat perut dan syahwat faraj. Buya Hamka (almarhum) menjelaskan bahwa jika hal itu tidak bisa kita kendalikan, maka sisi kemanusiaan kita akan rendah dan runtuh bergantian menjadi kebinatangan.
Jika nilai ini diterapkan dalam kehidupan, maka kita tidak akan mudah meluapkan amarah terhadap hal-hal yang tidak kita senangi. Dalam dunia media sosial, kita mampu menahan diri untuk tidak terprovokasi dan menyebarkan berita hoaks, tidak melakukan ujaran kebencian, dan sebagainya.
Ketiga, nilai empati. Puasa dapat mengasah empati kita. Maka tak heran jika bulan Ramadhan disebut juga sebagai bulan kedermawanan. Di bulan ini dianjurkan untuk memperbanyak sedekah dan diwajibkan juga untuk menunaikan zakat. Ibadah zakat dan infak yang kita keluarkan adalah simbolisasi kesalehan sosial kita. Jika nilai ini kita aktualisasikan dalam kehidupan, maka kita akan menyatakan dermawan kepada orang-orang yang membutuhkan. Dengan demikian, puasa tidak hanya membentuk kesalehan individu, tetapi juga membentuk kesalehan sosial kita.
Keempat, nilai Istiqomah (konsistensi). Puasa membiasakan diri kita untuk istiqamah dalam berbuat kebaikan. Jika nilai ini diaktualisasikan, maka kita akan konsisten dan disiplin dalam setiap aktivitas kebaikan yang kita kerjakan.
  Demikianlah nilai-nilai puasa yang bisa kita aktualisasikan dalam kehidupan. Dari sini kita dapat memahami bahwa puasa yang kita lakukan tidak hanya sekedar ritual rutin tahunan semata, tetapi juga dapat bertransformasi pada perilaku dan karakter diri menjadi pribadi yang bertakwa.(aM/*)

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles