Kamis, 2 April 2026
spot_img

Perempuan RI yang Kuliah Lebih Banyak daripada Laki-laki

Oleh dr. H Minanur Rahman
Jumlah mahasiswa di Indonesia saat ini didominasi oleh perempuan dibandingkan laki-laki, terutama pada jenjang sarjana (S1), vokasi, dan profesi. Pada tahun 2024, persentase perempuan yang memiliki ijazah perguruan tinggi mencapai 14,08%, lebih tinggi dibandingkan laki-laki yang sebesar 12,69%, menandai pergeseran gender di pendidikan tinggi.
  Jumlah mahasiswa perempuan di Fakultas Kedokteran (FK) di Indonesia cenderung lebih mendominasi dibandingkan laki-laki, sebuah tren yang juga terlihat pada profesi dokter secara keseluruhan. Data menunjukkan proporsi perempuan di FK seringkali melebihi 60-70% di beberapa universitas, mencerminkan peningkatan minat perempuan di bidang kedokteran.
  Dominasi Mahasiswi: Data Statistik Perguruan Tinggi menunjukkan jumlah mahasiswi di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) secara konsisten lebih tinggi, dengan salah satu data mencatat 1.561.326 mahasiswi dibandingkan 1.364.386 mahasiswa laki-laki.
  Tren Lulusan: Berdasarkan data lulusan 2023/2024, perempuan mendominasi lulusan S1 (737.685), vokasi (128.244), dan profesi (185.721).
  Pengecualian: Meskipun secara keseluruhan lebih banyak, pada jenjang studi lanjut seperti S2 dan S3, jumlah mahasiswa laki-laki tercatat masih lebih dominan.
Perubahan tren ini terlihat merata dari tingkat universitas hingga institut di berbagai wilayah di Indonesia.
  Badan Pusat Statistik (BPS) merilis laporan berjudul ‘Perempuan dan Laki-laki Indonesia 2024′ pada 20 Desember 2024 lalu. Laporan itu menyebut *persentase perempuan yang duduk di bangku perkuliahan jauh lebih tinggi dibandingkan laki-laki.* Ini dilihat dari tingkat kepemilikan ijazah tertinggi di antara kedua jenis kelamin tersebut
  Data ini menarik karena berbeda dengan anggapan umum bahwa laki-laki lah yang lebih banyak kuliah ketimbang perempuan. Mengingat jumlah penduduk di Indonesia memang lebih banyak laki-laki ketimbang perempuan.
  Kami lalu memeriksa laporan BPS yang rutin dari tahun ke tahun. Hasilnya, memang pernah ada titik ketika jumlah laki-laki yang memiliki ijazah perguruan tinggi lebih banyak daripada perempuan. Namun, situasinya berbalik sejak 2018 lalu.
Situasi di Kota dan Desa
  Di perkotaan, pada 2017 lalu, persentase laki-laki yang memiliki ijazah perguruan tinggi memang lebih besar dibanding perempuan. Persentasenya mencapai 11,86 persen dan 11,74 persen.
  Kemudian pada 2018 dan seterusnya, kondisi mulai berbalik. Persentase perempuan yang memiliki ijazah perguruan tinggi justru konsisten melampaui laki-laki. Pada 2024, persentase perempuan yang kuliah bahkan 14,08 persen dan laki-laki 12,69 persen.
  Fenomena tersebut pun juga terjadi di desa. Perempuan yang memiliki ijazah perguruan tinggi di perdesaan lebih tinggi dibanding laki-laki. Pada 2024, persentasenya ada di angka 6,3 persen dan 4,86 persen.
Fenomena Perempuan yang Lebih Banyak Kuliah
  Menurut dosen sosiologi Universitas Padjadjaran, Farah Firsanty, fenomena perempuan yang lebih banyak kuliah dibandingkan laki-laki adalah fenomena reversal of gender equality. Menurutnya, fenomena ini pun terjadi di negara-negara maju dunia.
  “Mereka [perempuan] tuh sudah mulai open bahwa untuk menjalankan peran sebagai perempuan di ranah domestik, itu juga memerlukan skill,” tutur Farah.
  Terkait stigma yang seringkali melekat ke perempuan ‘ngapain sekolah tinggi-tinggi, ujung-ujungnya juga di rumah lagi’ menurutnya pun sudah mulai memudar di masyarakat.
  “Nggak apa-apa kuliah tinggi terus ujung-ujungnya ke rumah jadi ibu dan jadi istri. Emang kenapa? Kan mereka [laki-laki] layak memiliki ibu atau istri yang juga berpendidikan,” pungkasnya.
Dampak Positif Pendidikan Tinggi bagi Perempuan
Peningkatan Kesejahteraan: Pendidikan tinggi berkorelasi positif dengan kesehatan yang lebih baik, perawatan keluarga, dan kemampuan memfilter informasi.
Kesempatan Kerja: Membuka peluang lebih besar untuk mendapatkan pekerjaan yang layak dan lingkungan yang lebih baik.
Ketahanan Keluarga: Perempuan yang berpendidikan tinggi mampu menciptakan keluarga yang lebih berkualitas dan mandiri.
Tantangan
Stigma Sosial: Masih ada pandangan tradisional yang meragukan perlunya perempuan bersekolah tinggi.
Kesenjangan Gender: Meskipun jumlah mahasiswa perempuan lebih banyak, kesenjangan dalam hal upah dan posisi di dunia kerja kadang masih ada.(AM)

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles