
Oleh dr. H Minanur Rahman
Selama bulan Ramadhan kita diwajibkan berpuasa. Secara syar’i puasa adalah berpantang makan, minum, dan ‘bercampur’ sejak terbit fajar hingga matahari terbenam, 29 atau 30 hari berturut-turut. Kewajiban ini hanya untuk orang-orang yang beriman. Tujuannya agar orang-orang beriman itu juga bertaqwa (QS 2:183).
Kita banyak sekali menjumpai ayat Qur’an yang memasangkan kata iman dan taqwa ini, seolah-olah (atau memang demikian) iman itu berbeda dengan taqwa. Iman saja belum cukup, melainkan masih harus ditambah dengan taqwa. Ibadah puasa akan menjadikan orang-orang yang sudah beriman untuk juga bertaqwa, kalau puasanya sukses.
Menurut pemahaman saya hingga hari ini, iman berhubungan dengan perbuatan baik. Orang yang beriman adalah orang yang selalu berbuat baik. Dalam Islam ada keyakinan-keyakinan pokok yang disebut Rukun Iman.
Bukti kalau kita beriman kepada Allah adalah kalau kita selalu berbuat baik, sebagaimana Allah selalu berbuat baik kepada apa dan siapa pun. Hadits Nabi saw. mengatakan, “berbudipekertilah” kamu sebagaimana pekerti-pekerti Allah.”
Kalau Qur’an berulang-ulang menyatakan bahwa kita adalah khalifah Allah, mungkin kita harus selalu mewujudkan sifat-sifat Ketuhanan di dalam batin kita dan mengaktualisasikan dalam praktik kehidupan kita.
Beriman kepada Malaikat, berarti kita harus selalu taat kepada perintah Allah, juga undang-undang negara, norma sosial, dll. Beriman kepada Kitab-kitab Allah berarti kita harus mengerjakan ajarannya. Beriman kepada Utusan-Nya berarti kita harus ittiba, mengikuti dengan tanpa reserve apa yang diajarkan dan dicontohkan.
Beriman kepada Akhirat berarti kita harus juga selalu berbuat baik karena di akhrat kita harus mempertanggungjawabkan setiap ucapan, sikap dan perbuatan kita. Sedangkan beriman kepada Taqdir, berarti kita harus juga selalu berbuat baik, karena menurut taqdir Allah, menanam kebaikan akan berbuah kebaikan, sedangkan menanam kejahatan akan berbuah kejahatan pula. Intinya, iman berhubungan dengan perbuatan baik.
Soal arti kata taqwa, Maulana Muhammad Ali mengartikannya sebagai “menjaga diri dari kejahatan,” meski kata itu mencakup pula arti “memenuhi kewajiban”. Mungkin ada orang yang sudah berbuat baik, tetapi belum mampu menjaga diri dari kejahatan.
Misalnya seperti yang hari-hari belakangan ini kita lihat atau baca di media massa, sejumlah orang membagi-bagikan kekayaannya kepada banyak orang lain, tetapi diduga harta itu hasil kejahatan. Berarti dia sudah beriman tetapi belum bertaqwa.
Sebaliknya, mungkin ada orang yang mampu menjaga diri dari kejahatan tetapi enggan berbuat baik. Misalnya tidak mau bersedekah karena merasa apa yang dimiliki adalah hasil jerih payahnya sendiri, dan oleh karena itu mutlak menjadi hak miliknya sendiri.
Yang dituju oleh ibadah puasa adalah agar orang-orang yang sudah berbuat baik itu juga menghindari perbuatan jahat. Kalau kita mampu beriman dengan benar dan sekaligus bertaqwa dengan benar, kita dijanjikan oleh Allah untuk dibukakan berkah-berkah dari langit dan bumi (QS 7:96).
Dalam berpuasa kita dilatih menahan lapar dan haus serta nafsu birahi. Kalau latihan ini berhasil, maka kita tidak akan tamak dan rakus terhadap harta benda. Kalau puasa kita berhasil, maka kita akan mampu mengendalikan diri terhadap keinginan-keinginan sensual yang menggelincirkan.
Umat Islam sudah diperingatkan oleh Allah sejak jauh-jauh hari, ketika mereka masih sangat lemah, baik secara sosial, politik, dan apalagi ekonomi. Dalam wahyu permulaan yang berjudul At-Takatsur, yang artinya memperbanyak harta, dinyatakan:
“Memperbanyak harta menyelewengkan kamu sampai kamu mengunjungi kubur. Tidak, kamu akan segera mengetahui, sekali lagi kamu akan segera mengetahui. Tidak, sekiranya kamu mengetahui dengan keyakinan ilmu, niscaya kamu akan melihat neraka. Lalu kamu akan melihat itu dengan keyakinan penglihatan, lalu pada hari itu kamu pasti akan ditanya tentang kenikmatan”.
Surat ini tentu tidak hanya ditujukan kepada orang-orang Islam zaman awal. Bahkan kalau ditujukan kepada mereka waktu itu mungkin tidak ada artinya karena masih sangat miskin, dan peluang untuk mendapatkan harta sangat kecil.
Mungkin peringatan itu lebih cocok ditujukan kepada kita di zaman ini, dimana harta melimpah ruah di man-mana. Persoalan kita dalam hal ini hanya kemauan dan kerja keras dalam mencari peluang untuk mendapatkan harta.
Tetapi melalui Surat ini kita diingatkan bahwa bekerja sekeras-kerasnya untuk mengumpulkan kekayaan akan menyelewengkan kita dari jalan lurus menuju Tuhan. Dan kita baru sadar ketika kita sudah masuk ke liang kubur.
Ini belum berbicara soal cara-cara yang tidak halal dalam mendapatkan harta. Kalau harta kekayaan itu diperoleh dengan cara yang tidak halal, pasti akibatnya akan lebih fatal lagi. Ayat 5 sampai 7 Surat ini mungkin mengisyaratkan bahwa di balik tumpukan harta itu sesungguhnya adalah neraka, kalau kita tahu.
Sayang kita tidak mampu melihatnya. Kita hanya menduga bahwa kekayaan yang melimpah akan membuat kita bahagia. Lalu ayat terakhir menyatakan bahwa nantinya kita akan ditanya, sebenarnya apa sih nikmatnya harta yang bertumpuk-tumpuk itu?
Di Surat lain yang diwahyukan tidak berselang lama, yang berjudul Al-Humazah, Allah bahkan mengecam orang-orang yang sibuk menumpuk-numpuk harta dan menghitung-hitungnya. Tidak bisa tidak, harta itu hanya akan menimbulkan fitnah, kecurigaan, iri hati, dan akhirnya permusuhan, saling mengumpat.
Kita mengira bahwa segalanya dapat dibeli dengan kekayaan. Orang yang memiliki banyak harta tidak perlu takut sakit, atau bahkan mati. Apa pun sakitnya, dia bisa membiayai untuk berobat ke mana pun, dengan biaya berapa pun. Dia tidak lagi memerlukan Allah, dia hanya memerlukan uang. Dia sudah tidak bergantung lagi kepada Allah, selain hanya bergantung kepada kekayaan yang melimpah.
Dalam QS 9:112 dan 66:5, orang yang berpuasa disebut saih, “orang yang tengah melakukan perjalanan”. Orang yang berpuasa sedang mengabaikan kebutuhan-kebutuhan jasmaninya, seperti makan dan minum. Kesenangan duniawi kita campakkan.
Dalam keadaan lapar dan haus yang secara sengaja dilakukan untuk memenuhi perintah Allah, akan menumbuhkan kesadaran batin, kesadaran akan kebergantungan kita kepada Allah, kerinduan yang menggebu-gebu untuk bertemu dengan Dia, satu-satunya tujuan perjalanan hidup kita.
QS 2:186 dengan jelas menggambarkan hal itu. Puasa yang sungguh-sungguh, akan memunculkan kerinduan untuk cepat-cepat bertemua dengan Allah. Di situlah segala doa kita dikabulkan oleh-Nya.
Pesan Qur’an terakhir dalam konteks puasa ini adalah:
“Dan janganlah kamu menelan harta di antara kamu sendiri dengan jalan yang tidak sah, dan jangan pula menyuap dengan itu kepada para hakim, agar kamu dapat menelan sebagian harta manusia secara tidak sah, sedangkan kamu tahu.” (QS 2:187).
Menumpuk-numpuk harta dengan cara yang benar saja dikecam oleh Allah karena bisa melalaikan manusia untuk mengingatNya, apalagi dengan cara yang tidak sah. Wallahu a’lam bish-shawab.[AM/*]



