The Art of Doing Nothing: Cara Menghadapi Tekanan Kehidupan
Oleh dr. H Minanur Rahman

Pada umumnya orang sering terjebak di antara dua sisi yaitu mementingkan produktivitas atau menunda-nunda pekerjaan. Yang mementingkan produktivitas sering berkata “yang penting ACTION!, ACTION!, ACTION! Ayo jangan cuma diam aja pokoknya ACTION aja dulu”. Sementara yang menunda-nunda asik mengulur waktu. Menurut saya, terjebak di antara dua hal seperti ini adalah salah satu cara pandang yang terlalu ekstrem. Seakan pilihan yang ada dibatasi hanya dua saja.
Wajar jika semakin hari tingkat stress semakin tinggi karena kecenderungannya memaksa untuk produktif (ngoyo, bahasa Jawa) atau kebalikannya mengikuti kemalasan (pasrah, menyerah) dan berharap segalanya berubah dengan sendirinya. Sebenarnya ada opsi ketiga yang bisa menyeimbangkan yaitu *santai sejenak* tidak melakukan apa-apa, sebuah ide yang dicetuskan Veronique Vienne dalam bukunya yang berjudul “The Art of Doing Nothing“.
The Art of Doing Nothing
Dalam menjalani hidup, tidak selamanya kita bisa melangkah maju. Terkadang sikap ‘jeda sejenak’ (wait and see) adalah cara yang paling bijak untuk melihat dan merespon keadaan situasi. Berhenti sejenak untuk mencari solusi dari permasalahannya sebelum bisa action lagi. Itulah salah satu fungsi hari libur.
Hal sederhana seperti itu yang sering terlewatkan. Seringnya orang malah kebablasan. Pilihannya, coba action (coba dan terus mencoba) atau tidak melakukan apa-apa sama sekali (pasrah, putus asa, menyerah).
Analogi yang pas mungkin adalah tentang aturan pengendara saat menghadapi lampu lalu lintas (traffic light). Merah tandanya berhenti, kuning hati-hati, hijau jalan terus. Coba Anda bayangkan apa yang terjadi jika kita melakukan hal yang terbalik. Merah hajar terus, hijau malah berhenti, kuning tambah kecepatan? Kekacauan? Kecelakaan?
Begitu pula hidup, ada kalanya kita gaspol, ada kalanya kita untuk memperlambat sejenak kecepatan, dan ada kalanya untuk diam berhenti sejenak. Lebih seimbang demi menjaga fisik dan mental kita.
Vienne dalam bukunya The Art of Doing Nothing menyatakan, tidak melakukan apa-apa (doing nothing) merupakan hal terbaik sebelum berkegiatan. Contohnya, dengan tidak melakukan apa-apa selama 5 – 10 menit di pagi hari sebelum kita beraktifitas. Atau mengisinya dengan sekedar ngopi, nikmati camilan jika ada, sambil rileks menikmati udara pagi. Kita dapat merasakan indahnya pagi, mempersiapkan mood, dan mengisi energi untuk menjalani hari.
Membantu Mengatur Ritme
Momen Doing Nothing, sangat membantu dalam banyak hal seperti ‘recharge’ semangat juga energi, mengkondisikan mood, take a break sejenak dari masalah yang ada dan lain sebagainya. The Art of Doing Nothing juga mengajarkan kita untuk lebih ‘being in the moment’, hadir utuh sadar penuh agar bisa menikmati hidup.
Nongkrong sejenak ketika ngerasa ‘stuck’ bukan sesuatu yang sia-sia , atau sekedar berdiam sendiri sambil mendengarkan musik bagi sebagian orang adalah moment yang bisa mengisi semangat. Bagi umat muslim sholat 5 waktu adalah jeda istirahat yang terbaik untuk Doing Nothing.
“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar”. (Al-Baqarah [2]: 153).
Disebutkan dalam sebuah hadits bahwa, “Apabila Rasulullah SAW dirundung suatu permasalahan, maka beliau akan segera bangkit untuk mengerjakan shalat. ” (HR. Abu Daud)
Shalat menjadi sarana terbaik menghadirkan solusi. Shalat piranti bagi seorang muslim dalam meminta perlindungan dan mengadu kepada Allah SwT dari berbagai macam kesulitan dan kesedihan, permasalahan dan kepenatan. Dia tidak akan merasa sendirian, tetapi mendapatkan dukungan dari Allah, Pemilik langit dan bumi.
Agar Anda bisa menangkap lebih jelas saya akan coba beri satu contoh lagi. Nongkrong, orang Indonesia terkenal dengan ungkapan “makan gak makan asal kumpul” oleh karena itu nongkrong adalah salah satu aktivitas populer yang sangat digemari.
Banyak pro kontra yang muncul soal nongkrong ini, ada yang bilang cermin malas-malasan, hura-hura, tapi juga ada yang bilang nongkrong mereka sebenarnya produktif, dapat inspirasi hasil sharing ketika nongkrong, jadi lebih semangat, mengembangkan network, atau bahkan make a deal untuk sebuah proyek.
Jadi, nongkrong dengan durasi waktu yang “cukup” dapat membantu kita untuk rileks , siap menghadapi tugas/kegiatan/masalah yang telah menunggu, dan manfaat lain nya. Namun, jika berlebihan tentu akan mengakibatkan hal-hal yang berdampak negatif seperti pekerjaan yang menumpuk, hasil pekerjaan yang tidak maksimal atau bahkan kehilangan kepercayaan.
Intinya di tulisan ini saya ingin berbagi pada anda tentang pentingnya KESEIMBANGAN. Tidak perlu ‘ngoyo’ memaksakan untuk maju, bukan pula menyarankan untuk ‘diam bermalas-malasan’ tidak melakukan apapun untuk tujuan bermalas-malasan, tapi memang ada waktunya kita perlu diam sejenak tidak melakukan apapun sebelum melanjutkan melakukan sesuatu. Dengan begitu tingkat stress akan jauh lebih bisa kita manage, hidup akan jauh lebih indah.(*)