Rabu, 25 Februari 2026
spot_img

Keindahan Spiritual Ramadhan dalam Dialog Batin Bupati Sumbawa dan Syahrul Bosang

keindahan-spiritual-ramadhan-dalam-dialog-batin-bupati-sumbawa-dan-syahrul-bosang

Catatan:

Didin Maninggara

 

Anugerah-media.com

Langit cerah Jakarta jelang buka puasa bersama Ikasum Jaya di kediaman Din Syamsuddin, Sabtu, 21 Februari membawa keindahan spiritual yang mendalam bagi yang hadir.

 

Keindahan tersebut kian menyentuh rasa kebersamaan di dalam sholat tarawih berjamaah

yang dilanjutkan duduk bersilah diisi dialog Ramdhan penuh kekeluargaan.

 

Bupati Sumbawa Syarafuddin Jarot dan Syahrul Bosang merasakan suasana itu. Mereka begitu khusyuk mengikuti sambutan demi sambutan, mulai dari tuan rumah Din Syamsuddin hingga sambutan dirinya sebagai Bupati Sumbawa.

 

Pengusaha yang bergerak di sektor perunggasan itu menyambut bulan suci ini dengan sepenuh hati, sambil berdoa semoga dipertemukan Ramadhan dalam kebaikan.

 

Ia mempersiapkan hati dengan doa agar diberi kekuatan menjalankannya.

 

Ia bertestimoni dengan dirinya sendiri, agar ibadah puasanya membawa kualitas ketakwaan dan bertawakal sepenuhnya kepada Allah, pemilik tunggal kekuasaan yang kekal abadi.

 

Ia menyambut tamu agung itu dengan mengisi Ramadhan tahun ini menjadi yang terbaik dan bukan yang terakhir.

 

++++

 

Dialog batin serupa dirasakan juga Bupati Sumbawa Syarafuddin Jarot. Ramadhan di usia kita saat ini, bisik Jarot dengan diri sendiri, terasa berbeda. Dulu, ketika usia masih 20 atau 30-an, Ramadhan identik dengan suasana: Menu buka apa, baju baru warna apa, kue lebaran berapa toples.

 

Semuanya terasa ringan. Hidup seakan masih panjang.

 

Sekarang? Ramadhan terasa lebih sunyi. Lebih serius. Lebih menggetarkan jiwa.

 

Usia ini bukan sekadar angka. Ia merasakan usianya sekarang adalah alarm halus dari Allah. Usia yang semakin menyadarkan. Bahwa waktu yang tersisa tidak sebanyak yang telah berlalu.

 

“Kita mulai melihat teman sebaya sakit. Ada yang tiba-tiba berpulang. Ada yang dulu bercanda bersama, kini tinggal nama,” kenangnya salam dialog batin memberi hatiny bertanya: giliranku, kapan?

 

Ramadhan datang membawa pertanyaan yang lebih dalam: Kalau ini Ramadhan terakhirku, sudah siapkah aku?

 

Di usia ini, fisik tak lagi sama ketika usia muda. Puasa harus lebih hati-hati. Terutama menjaga pola makan.

 

Kita sadar tubuh ini tidak selamanya kuat. Kita dipaksa untuk lebih bersandar pada Allah.

 

Ramadhan di usia kita bukan lagi tentang terlihat rajin. Bukan soal update ibadah. Bukan lomba khatam tercepat.

 

Ini tentang hubungan yang personal. Tentang hati yang ingin dibersihkan sebelum benar-benar pulang.

 

Jarot memaknai Ramadhan datang seperti kesempatan ulang. Seakan Allah berbisik: “Masih ada waktu perbaiki.”

 

Di usia ini pula, kita sadar:

anak-anak sedang melihat. Cara kita menyambut Ramadhan akan mereka tiru. Jika yang mereka lihat hanya dapur dan dekorasi,

itulah yang mereka anggap penting.

 

Namun jika mereka melihat ibunya bangun lebih awal untuk tahajud,

ayahnya lebih lembut selama puasa, mereka belajar makna yang sesungguhnya.

 

Ramadhan bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah latihan pulang. Latihan menahan diri. Latihan melepaskan dunia sedikit demi sedikit.

 

Usia membuat kita lebih jujur pada diri sendiri. Kita tahu mana yang benar-benar penting. Mana yang hanya gengsi.

 

Kita tahu mana yang akan dibawa mati, dan mana yang hanya tinggal di lemari.

 

Karena kenyataannya sederhana: yang ikut ke kubur hanya amal.

 

Bukan follower. Bukan omzet. Bukan pujian manusia.

 

Maka Ramadhan kali ini, mungkin yang perlu kita siapkan bukan hanya stok kurma dan sirup, tetapi hati.

 

Sudahkah kita meminta maaf kepada orang tua?

 

Sudahkah kita berdamai dengan pasangan?

 

Sudahkah kita melepaskan dendam yang diam-diam masih tersimpan?

 

Ramadhan di usia kita adalah tentang evaluasi diri. Tentang refleksi. Tentang keberanian. Berani berubah. Berani memperbaiki.

 

Kita mungkin tak bisa mengulang masa muda, tetapi kita masih bisa memperbaiki masa depan akhirat.

 

Dan satu hal yang perlu kita sadari: tidak semua orang diberi kesempatan sampai usia ini.

 

Jika Allah masih memberi umur, itu bukan kebetulan. Itu amanah.

 

Maka jangan jalani Ramadhan seperti tahun-tahun biasa.

 

Naikkan levelnya. Perdalam sujudnya. Lembutkan lisannya. Perbanyak istighfar.

 

Bisa jadi, satu Ramadhan yang kita jalani dengan sungguh-sungguh di usia ini menjadi penentu arah hidup kita selamanya.

 

Jangan menunggu sehat sempurna. Jangan menunggu masalah selesai. Jangan menunggu nanti lebih siap.

 

Karena waktu tidak menunggu. Pertanyaannya tinggal satu: “Apakah kita masuk sebagai orang yang sama seperti tahun lalu,

atau sebagai versi yang lebih siap pulang?

 

Jika hati tergerak, mulailah hari ini dengan satu perubahan nyata. Satu saja dulu. Namun konsisten.

 

Karena mungkin ini bukan Ramadhan biasa.

 

“Marhaban yaa Ramadhan. Mohon maaf lahir batin atas segala hal yang kurang berkenan di hati, semoga kita bisa meraih amalan yang lebih baik dari Ramadhan sebelumnya,” ucap Jarot dan diamiiin oleh Syahrul.

 

Begitulah dialog batin Jarot dan Syahrul dari pantulan keindahan spiritualnya di hari-hari Ramadhan tahun ini.***

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles