
Oleh dr. H Minanur Rahman
Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Mu’minūn :1 – 11 ; “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sholatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara sholatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.
Tanda seseorang beriman adalah taat beribadah menyembah Allah Subhanahu wata’ala, melaksanakan segala perintah Nya dan menjauhi semua yang dilarang. Ibadah yang paling utama adalah sholat yang mencerminkan penghambaan, ketaatan, dan kepasrahan kepada Allah Tuhan semesta alam. Kekhusyukan dalam sholat menjadi ukuran keimanan dan kedekatan hamba pada Tuhannya.
Khusyuk artinya ketenangan dan kepasrahan terhadap Tuhan di dalam melaksanakan ibadah, khususnya dalam sholat. Secara terminologi khusyuk adalah seseorang yang melaksanakan sholat dan merasakan kehadiran Allah SWT yang amat dekat kepadanya, sehingga hati dan jiwanya merasa tenang dan tentram, tidak melakukan gerakan sia-sia dan tidak menoleh. Sedangkan menurut para ulama khusyuk artinya kelunakan hati, ketenangan pikiran, dan tunduknya kemauan yang rendah yang disebabkan oleh hawa nafsu dan hati yang menangis ketika berada di hadapan Allah SWT.
Cara Agar Khusyuk dalam Sholat;
– *Berniat dengan ikhlas* untuk melaksanakan sholat menghadap Allah robbul alamiin dalam keadaan tubuh suci dari hadats, berpakaian bersih suci dari najis, dan di tempat ibadah yang bersih suci dan tenang.
– Niat sholat ini membuat seluruh tubuh, indera, pikiran dan perasaan *berfokus pada ibadah sholat* menghadap Allah Tuhan semesta alam. Semua urusan dunia ditinggalkan, tidak melakukan apapun selain tuntunan ibadah, dan tidak berkomunikasi dengan orang lain.
– *Memahami makna bacaan sholat dan meresapi kedalam hati.* Membaca bacaan sholat dengan tartil dan tuma’nina.
– Beribadah dengan rasa penuh harap, rasa malu, dan tunduk pasrah. Memohon maaf dan ampunan serta hidayah jalan lurus ‘shiratal mustaqim’ seperti halnya hamba-hamba yang diberi kenikmatan.
Orang yang khusyuk dalam sholatnya akan merasakan ketenangan, rasa aman, pikiran menjadi jernih, lebih percaya diri, lebih bersemangat, dan lebih yakin dalam menjalankan tugas. Rasa ini timbul karena adanya hidayah dan taufik dari Allah Azza wajalla.
Dalam hatinya ada furqon yaitu kemampuan membedakan yang baik dari yang buruk, dan membedakan yang benar dari yang salah. Dengan furqon ini mereka tercegah dari perbuatan jahat, salah dan buruk. (Inna sholataa tanha anil fahsya’ wal munkar)
Dalam setiap rakaat sholat diwajibkan membaca surat Al-Fatihah, maka mukmin yang sholatnya khusyuk akan mendapatkan fadhilah, antara lain;
Bacaan ayat pertama ‘bismillāhir-raḥmānir-raḥīm’ (Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.) menjadi kebiasaan dalam mengawali setiap perbuatan.
Bacaan ayat kedua ‘al-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn’ (Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam,) menjadi kebiasaan ucapan dalam mensyukuri segala nikmat karunia.
Bacaan ayat ketiga ‘ar-raḥmānir-raḥīm’ (Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang,) menjadi sifat dan tabiat dalam berperilaku.
Bacaan ayat keempat ‘māliki yaumid-dīn’ (Pemilik hari pembalasan.) menjadi prinsip dasar apapun kejadian di alam semesta.
Bacaan ayat kelima ‘iyyāka na’budu wa iyyāka nasta’īn’ (Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.) menjadi tujuan hidup dan dasar segala perbuatan.
Bacaan ayat ke-enam ‘ ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm’ (Tunjukilah kami jalan yang lurus,) menjadi do’a paling utama dalam menjalani kehidupan.
Bacaan ayat ketujuh ‘ṣirāṭallażīna an’amta ‘alaihim gairil-magḍụbi ‘alaihim wa laḍ-ḍāllīn’ (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.) menjadi patokan kebenaran yang dijabarkan dalam keseluruhan isi Al Qur’an.
Bayangkan betapa beruntung orang-orang mukmin yang khusyuk dalam sholatnya. Semoga kita dimasukkan dalam golongan orang orang mukmin yang khusyuk dalam sholatnya. Aamiin ya robbal aalamiin.(AM/*)



