Kamis, 21 Mei 2026
spot_img

AKU DATANG MEMENUHI PANGGILAN -MU

oleh dr. Minanur Rahman
Labbaik Allahumma labbaik, labbaika laa syarika laka labbaik … Kalimat talbiyah ini terus dikumandangkang oleh jemaah haji sejak berpakaian Ihram dan berniat menjalankan ibadah Umrah atau Haji. Kepatuhan total atas perintah berhaji yang ditujukan untuk kesempurnaan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah subhanahu wata’ala. Kepatuhan ini hanya dilakukan oleh hamba-hamba beriman yang terpanggil karena ketaqwaannya.
   Ketaqwaan inilah yang menggerakkan hamba Allah untuk menyegerakan diri datang Baitullah Mekkah Mukarromah. Tidak menunggu usia bertambah lanjut, begitu Allah mencukupkan rejeki maka hamba Allah ini segera daftar sebagai calon jamaah haji. Sementara yang lain banyak yang diberi kelebihan rejeki menunda dan mendahulukan pemuasan syahwat duniawi. Mereka mampu membangun rumah mewah, membeli mobil dan bahkan berulang kali pergi ke luar negeri untuk sekedar rekreasi. Tetapi untuk membayar pendaftaran haji yang tak seberapa itu mereka enggan.
   Betapa syahdu dan mengharukan ketika lantunan talbiah menggema menggetarkan sanubari. Linangan airmata tak jarang mengalir membasahi pipi. Sungguh suatu suasana yang sangat spiritual. Apalagi ketika tampak didepan Masjidil Haram mendadak linangan airmata makin deras dan bahkan suara lisan terhenti  karena tangisan tersedu-sedu.
   Berbondong-bondong jama’ah haji dari seluruh penjuru dunia yang kebanyakan berusia lanjut. Mereka sangat bersemangat seperti lupa akan usianya. Ibadah haji yang sarat dengan aktivitas fisik dijalani tanpa mengenal lelah. Tawaf mengeliling ka’bah 7 kali tidak terasa lelah kemudian dilanjutkan sa’i berjalan dari Safa ke Marwah 7 kali itupun dijalani dengan sungguh-sungguh tanpa kelelahan. Itulah kekuatan taqwa yang diiringi dengan zikir, semua itu dijalani karena mengharap ridho Allah unruk mendapatkan surga.
   Janji Allah hadiah surga bagi haji mabrur adalah benar adanya, tidak perlu menunggu kiamat untuk mendapatkan surga. Hidup di Bumi ini ada kesempatan merasakan nikmatnya surga atau pedihnya neraka. Surga bagi hamba-hamba yang beriman, bertakwa dan beramal soleh. Nikmat surga itu tidak ada kekhawatiran atau kesedihan. Surga itu dipenuhi oleh keindahan, kedamaian, kenikmatan dan kebahagiaan. Semua itu bisa kita dapatkan di masa hidup ini. Oleh karena itu sempurnakan keimananmu dengan menuntut ilmu, sempurnakan ketaqwaanmu dengan ibadah dan semupurnakan amalmu dengan sebanyak-banyaknya amal soleh di setiap detik hidupmu.
ARAFAH YANG HIJAU
   Puncak ibadah haji adalah wukuf di padang Arafah. Arafah adalah padang pasir dekat dengan Mekkah. Sedangkan Mekkah adalah lembah yang di kelilingi oleh bukit bukit. Arafah sekarang sangat berbeda dengan jaman dulu yang sangat gersang dan panas. Sekarang di Arafah banyak pohon-pohon yang menghijau bahkan di waktu musim panas.
   Pohon-pohon tersebut memang tidak menjulang tinggi akan tetapi cukup  memberikan kesejukan di teriknya matahari. Pohon tersebut adalah spesies Akasia dari Indonesia. Pohon ini sangat kuat menahan sengatan terik matahari. Konon pohon tersebut sumbangan dari Presiden pertama Indonesia yaitu Ir. Soekarno.
   Sepanjang tahun di Arafah tidak ada manusia yang tinggal disana. Yang ada hanya pengunjung ziarah jama’ah Umrah dan jama’ah Haji yang wukuf pada tanggal 9 Dzulhijjah. Menjelang wukuf barulah dipasang puluhan ribu tenda untuk menampung jutaan jamaah haji yang akan wukuf hanya sehari disana.
   Sekarang ini jamaah haji sangat dimanjakan dengan layanan yang sangat baik. Tenda-tenda ditata sangat rapi, terarur dan setiap kloter menempati lokasi sesuai sektor dan maktab. Jamaah akan diangkut oleh bus sesuai dengan urutan kursi manifes pada tiap kloter. Satu bus mengangkut 75 orang. Mulai hari ini seluruh bus tidak melayani jamaah haji dari pemondokan/maktap menuju Masjidil Haram. Bus-bus tersebut dipersiapkan untuk mengangkut seluruh jamaah haji dari Mekkah ke arofah pada hari Sabtu sore dan tuntas terangkut paling lambat jam 3 dini hari minggu.
   Jamaah haji harus tinggal di tenda untuk berzikir dan berdoa. Inilah saat yang afdhol untuk bertobat dengan menyesali dan mohon ampunan atas segala kesalahan, keburukan, kelalaian dan semua kemungkaran yang pernah terjadi. Manusia yang wukuf di Arafah akan merasakan betapa kecil diri ini bila tanpa kasih-sayang Allah.
  Jutaan Manusia berpakaian Ihram berupa dua helai kain putih dan menanggalkan embel-embel kedunuiaan. Semuanya sama di mata Allah swt. Yang membedakannya adalah kadar keimanan dan ketaqwaan. Orang bertaqwa tidak merasakan panasnya udara Araf melainkan tenggelam dalam kekhusyukan pertobatan. Mereka ini berniat dan berdoa untuk menjadi Haji Mabrur yaitu manusia yang bagus imannya dan amal solehnya. Mereka sungguh -sungguh meninggalkan semua kebiasaan buruknya dan memperbaiki keimanan dan ketaqwaannya.
   Selanjutnya jamaah akan tinggal di tenda sampai menjelang magrib dan mulai diangkut menuju Musdalifah untuk mabit semalam dan sholat maghrib isya’ jama’ qasar serta ambil batu untuk lempar jumrah. Setelah itu jemaah diangkut menuju Mina dan bermalam selama 3 malam.
PAHALA SURGA BAGI HAJI MABRUR
   Banyak orang berangkat haji karena mengharap pahala surga. Mereka beranggapan bahwa berhaji adalah syarat masuk surga karena telah melaksanakan rukun Islam ke-lima. Mereka bersusah payah mengumpulkan uang untuk ongkos berangkat haji.
  Tapi di sisi lain sebagian dari mereka tidak memahami syarat, rukun atau wajib dalam melaksanakan ibadah haji. Akibatnya mereka menjalani ibadah haji tidak khitmat tanpa tahu maknanya. Meskipun demikian kehidupan mereka setelah haji berubah menjadi lebih baik. Mereka menjadi lebih terpandang, lebih sejahtera dan lebih bahagia. Ibadah haji telah mengubah kehidupan mereka.
  Lain halnya dengan jamaah haji yang diberi kelimpahan rezeki sehingga bisa berangkat dengan ONH plus. Diantara mereka juga banyak yang tidak memahami manasik haji sehingga ibadah haji terasa seperti rekreasi spiritual. Meskipun demikian mereka pun mengalami perubahan dalam kehidupannya yaitu makin tertarik untuk belajar memdalami agama Islam.
   Betapa beruntung orang-orang yang mempersiapkan diri baik finansial, fisik, mental maupun pengetahuan manasik haji. Mereka ini bahkan telah berubah menjadi lebih baik sejak mendaftar haji. Mereka merencanakan beribadah haji dengan tujuan mendapatkan ridho Allah swt. Mereka berusaha menjadi hamba Allah yang bertaqwa secara lebih sempurna sebelum berangkat haji karena mereka tahu bahwa bekal haji adalah taqwa. Tentunya mereka ini menjalani ibadah haji dengan tertib, khitmat, khusyu’ dan penuh makna.
   Rasa rindu beribadah menjadi sangat kuat sehingga semua manasik haji dilaksanakan dengan sebaik mungkin. Kesejukan Masjidil Haram membuatnya betah berlama-lama bersimpuh dalam menyembah Allah swt. Panasnya Arafah dan Mina tak menyurutkan niat menyempurnakan manasik haji. Tentu mereka inilah yang akan diberi hadiah surga dari Allah swt dalam segala kehidupannya dan akhiratnya.(AM)

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles