
Oleh dr. H Minanur Rahman
Banyak masyarakat menganggap El Nino sama dengan musim kemarau..Padahal, menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), keduanya merupakan fenomena yang berbeda. El Nino merupakan fenomena iklim global, sedangkan musim kemarau adalah siklus tahunan yang terjadi setiap tahun di Indonesia. Pemahaman yang keliru mengenai kedua istilah ini sering kali membuat masyarakat salah mengantisipasi dampak yang ditimbulkan.
“Fenomena *El Nino merupakan fenomena iklim global* yang memengaruhi distribusi curah hujan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Namun perlu dipahami bahwa El Nino dan musim kemarau adalah dua hal yang berbeda. Musim kemarau merupakan siklus tahunan, sedangkan El Nino terjadi secara periodik dan dapat memperkuat kondisi kering ketika berlangsung bersamaan dengan musim kemarau,” ujar Faisal.
Apa Itu El Nino? El Nino adalah sebuah fenomena iklim global yang terjadi secara periodik akibat adanya anomali suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Ketika suhu permukaan laut di wilayah tersebut meningkat, pola sirkulasi atmosfer berubah, yang pada akhirnya memengaruhi distribusi curah hujan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.
Fenomena El Nino ini tidak terjadi setiap tahun, melainkan muncul dalam siklus beberapa tahun sekali (periodik). Pada tahun 2026 ini, BMKG memantau bahwa El Nino telah memasuki kategori kuat dengan peluang mencapai 98 persen.
Karakteristik utama dari El Nino di wilayah Indonesia adalah berkurangnya pembentukan awan hujan, yang memicu penurunan curah hujan secara drastis di sejumlah wilayah.
Apa Itu Musim Kemarau? Berbeda dengan El Nino, musim kemarau adalah siklus cuaca tahunan yang bersifat reguler. Musim kemarau merupakan bagian dari pola iklim normal di Indonesia yang dipengaruhi oleh pergerakan angin monsun. Sebagai negara tropis, Indonesia secara rutin mengalami pergantian dua musim setiap tahunnya, yaitu musim hujan dan musim kemarau.
Kedatangan musim kemarau ditandai oleh penurunan intensitas curah hujan secara alami di suatu wilayah dalam periode waktu tertentu, biasanya terjadi di pertengahan tahun akibat pergeseran semu matahari.
Mengapa El Nino Sering Dikaitkan dengan Kemarau?
Alasan utama mengapa masyarakat sering menyamakan kedua fenomena ini adalah karena dampak yang dirasakan serupa, yaitu kondisi yang kering dan minimnya hari hujan. Namun, hubungan yang tepat antara keduanya adalah hubungan penguatan, bukan kesamaan. El Nino bertindak sebagai faktor pendukung yang memperkuat kondisi kering.
Ketika fenomena iklim global ini terjadi dan waktunya bertepatan dengan musim kemarau tahunan di Indonesia, maka efek kekeringan yang dirasakan akan menjadi jauh lebih ekstrem dibandingkan dengan musim kemarau normal.
“Yang perlu kita waspadai bukan lamanya El Nino, tetapi ketika fenomena ini bertepatan dengan musim kemarau. Pada periode itulah curah hujan menjadi lebih sedikit dibandingkan kondisi normal sehingga berbagai sektor perlu meningkatkan kesiapsiagaan,” jelas Faisal.
Apakah El Nino Berarti Indonesia Mengalami Kemarau Selama Setahun?
Pertanyaan ini sering muncul di benak masyarakat ketika mendengar prediksi durasi fenomena ini.
BMKG memprakirakan fenomena El Nino 2026 akan berlangsung selama 9 hingga 12 bulan. Namun, Faisal menegaskan durasi tersebut tidak berarti Indonesia akan mengalami musim kemarau tanpa henti sepanjang periode tersebut.
Indonesia memiliki karakteristik iklim yang sangat beragam karena terbagi ke dalam 699 Zona Musim (ZOM). Kondisi cuaca lokal di setiap daerah tetap berjalan secara dinamis.
*Dampak paling signifikan dari El Nino 2026* ini diperkirakan akan berpusat pada periode *Juli hingga Oktober 2026*, yaitu ketika puncak musim kemarau sedang berlangsung di sebagian besar wilayah Indonesia. Terutama di bagian selatan garis khatulistiwa seperti Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sumatra bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi, hingga Papua bagian selatan.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tidak panik namun tetap waspada dan memantau perkembangan cuaca secara berkala. Mengingat variasi iklim di setiap daerah berbeda, pemerintah daerah diharapkan memanfaatkan data yang disediakan oleh BMKG dan aktif berkoordinasi dengan Unit Pelaksana Teknis (UPT) BMKG di wilayah masing-masing agar strategi mitigasi dan adaptasi yang diambil tepat sasaran sesuai kondisi lokal.
Melalui kesiapan yang matang dan pemahaman informasi iklim yang benar, koordinasi lintas sektor diharapkan dapat berjalan kuat sehingga dampak risiko dari fenomena El Nino 2026 ini dapat diminimalkan sejak dini.(AM)



