
Oleh Sri Asmediati
Guru SMPN 1 Labuhan Badas
Pagi itu halaman sekolah kembali ramai. Anak-anak datang dengan seragam yang masih rapi. Ada yang tersenyum lebar, ada yang berjalan pelan sambil menggenggam tangan orang tuanya. Sebagian lagi masih terlihat malu karena harus memasuki kelas baru dan bertemu teman-teman yang belum begitu dikenal.
Di tengah keramaian itu, ada pemandangan yang terasa berbeda. Banyak ayah ikut mengantar anaknya ke sekolah. Mereka berjalan bersama menuju gerbang, mengusap kepala anaknya, lalu memberikan pelukan atau sekadar mengucapkan, “Belajar yang rajin, ya.” Mungkin hanya beberapa menit, tetapi bagi seorang anak, momen itu bisa menjadi penyemangat sepanjang hari.
Karena itu, mengantar anak sebenarnya bukan sekadar mengantar. Di balik langkah sederhana tersebut ada perhatian, kasih sayang, dan dukungan yang tidak dapat diukur dengan apa pun. Anak merasa bahwa dirinya tidak berjalan sendirian. Ada ayah yang ikut mendukung setiap langkahnya.
Semangat seperti inilah yang ingin dibangun Pemerintah Kabupaten Sumbawa melalui Surat Edaran Bupati Sumbawa Nomor 100.2.3 Tahun 2026 tentang Gerakan Ayah Teladan Indonesia di Kabupaten Sumbawa. Melalui surat edaran tersebut, para ayah diajak meluangkan waktu untuk mengantar anak pada hari pertama sekolah. Tujuannya sederhana, yaitu memperkuat keterlibatan ayah dalam pendidikan anak sejak hari pertama mereka memulai kegiatan belajar.
Ajakan ini patut disambut dengan baik. Selama ini masih banyak yang berpikir bahwa urusan sekolah adalah tanggung jawab ibu. Ibulah yang menyiapkan seragam, bekal, hingga mengantar anak ke sekolah. Sementara ayah lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja. Padahal, pendidikan anak membutuhkan kehadiran keduanya.
Anak tidak hanya membutuhkan biaya sekolah. Mereka juga membutuhkan perhatian. Kehadiran ayah membuat anak merasa lebih tenang, lebih percaya diri, dan lebih bersemangat. Apalagi bagi anak yang baru masuk sekolah atau naik ke jenjang yang baru. Hari pertama sering kali membuat mereka gugup. Kehadiran ayah dapat mengurangi rasa takut itu.
Saya percaya, tidak ada anak yang merasa malu ketika diantar oleh ayahnya. Justru banyak anak yang merasa bangga karena ayah bersedia meluangkan waktu di tengah kesibukannya. Kebanggaan itu mungkin tidak selalu diucapkan, tetapi terlihat dari wajah mereka yang lebih ceria ketika memasuki lingkungan sekolah.
Perjalanan dari rumah menuju sekolah juga bisa menjadi waktu yang sangat berharga. Di atas sepeda motor atau di dalam mobil, ayah dapat mengajak anak berbincang. Tidak perlu membahas hal yang sulit. Cukup menanyakan apakah anak sudah siap belajar, mengingatkan agar menghormati guru, menyayangi teman, dan tidak takut mencoba hal-hal baru. Percakapan sederhana seperti itu sering kali membekas dalam ingatan anak.
Sebagai guru, saya sering melihat bahwa anak yang mendapat perhatian dari keluarganya biasanya lebih mudah menyesuaikan diri di sekolah. Mereka lebih percaya diri untuk bertanya, berani menyampaikan pendapat, dan lebih nyaman bergaul dengan teman-temannya. Tentu tidak semua anak memiliki kondisi yang sama, tetapi dukungan dari keluarga memang sangat membantu tumbuhnya semangat belajar.
Gerakan Ayah Teladan Indonesia yang mulai diterapkan di Kabupaten Sumbawa seharusnya tidak dipahami sebagai kegiatan satu hari saja. Gerakan ini lebih tepat dimaknai sebagai ajakan agar ayah semakin dekat dengan kehidupan anak. Mengantar ke sekolah hanyalah langkah awal. Setelah itu masih banyak hal yang dapat dilakukan, seperti menemani belajar di rumah, menghadiri pertemuan orang tua di sekolah, mendengarkan cerita anak, atau sekadar bertanya bagaimana kegiatan mereka hari itu.
Memang tidak semua ayah memiliki kesempatan yang sama. Ada yang bekerja sejak dini hari, ada yang bertugas di luar daerah, bahkan ada yang sedang mencari nafkah jauh dari keluarga. Kondisi itu tentu harus dipahami. Namun, bagi ayah yang memiliki kesempatan, tidak ada salahnya meluangkan sedikit waktu untuk hadir bersama anak. Waktu yang hanya beberapa menit bisa menjadi kenangan yang bertahan bertahun-tahun.
Pendidikan tidak mungkin berhasil jika hanya dibebankan kepada guru. Sekolah hanya mendampingi anak selama beberapa jam setiap hari. Selebihnya, anak tumbuh bersama keluarganya. Karena itu, kerja sama antara sekolah dan orang tua menjadi sangat penting.
Anak juga belajar dari apa yang mereka lihat. Ketika melihat ayah peduli terhadap sekolahnya, mereka akan memahami bahwa belajar adalah sesuatu yang penting. Mereka akan tumbuh dengan keyakinan bahwa keluarga selalu mendukung setiap usaha yang mereka lakukan.
Menurut saya, inilah makna yang paling dalam dari gerakan ini. Bukan sekadar hadir di halaman sekolah, bukan pula sekadar memenuhi ajakan pemerintah daerah. Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan bahwa ayah ikut mengambil bagian dalam perjalanan pendidikan anak.
Surat Edaran Bupati Sumbawa Nomor 100.2.3 Tahun 2026 menjadi langkah yang baik untuk mengingatkan kita semua bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Guru mengajar di sekolah, orang tua mendampingi di rumah, sedangkan pemerintah menghadirkan kebijakan yang mendorong lahirnya budaya peduli terhadap pendidikan.
Pada akhirnya, mengantar anak memang terlihat sederhana. Tidak membutuhkan biaya yang besar dan tidak memerlukan waktu yang lama. Namun, dari langkah sederhana itu lahir rasa aman, semangat, dan kepercayaan diri dalam diri seorang anak. Hal-hal seperti itulah yang sering kali menjadi bekal penting bagi mereka untuk belajar, tumbuh, dan meraih cita-cita.
Karena itu, mengantar anak bukan sekadar mengantar. Di dalamnya ada kasih sayang, tanggung jawab, dan harapan orang tua terhadap masa depan anak. Semoga gerakan ini terus tumbuh di Kabupaten Sumbawa dan menjadi kebiasaan baik yang dilakukan bukan hanya pada hari pertama sekolah, tetapi juga dalam setiap perjalanan pendidikan anak. Sebab, anak yang merasa didampingi akan lebih yakin melangkah, dan anak yang tumbuh bersama perhatian keluarganya akan memiliki bekal yang lebih kuat untuk menghadapi masa depan.[AM]



