Selasa, 28 Juli 2026
spot_img

PRESTASI AKADEMIK PEREMPUAN LEBIH UNGGUL 

Oleh dr. H Minanur Rahman
Saat ini prestasi akademik di sekolah hingga Perguruan Tinggi nampaknya didominasi perempuan. Dari sepuluh besar anak berprestasi di sekolah hampir 7 di antaranya adalah perempuan. Ini terjadi di hampir setiap jenjang kelas dari Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas. Bahkan jumlah perempuan yang melanjutkan pendidikan tinggi lebih banyak dari laki-laki. Timbul pertanyaan “Apakah perempuan lebih cerdas dari laki laki?” Ternyata kecerdasan tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin.
   Ada banyak faktor yang menyebabkan saat ini perempuan lebih berprestasi di sekolah. Ada faktor perbedaan perkembangan mental, psikologi dan sosial. Perkembangan biopsikologi menunjukkan anak perempuan lebih cepat dewasa. Dan ada banyak faktor eksternal antara lain ; faktor orangtua, faktor guru, faktor sekolah, faktor kurikulum, faktor persepsi pendidikan, faktor kondisi ekonomi, faktor kesetaraan gender dan lainnya. Semua faktor tersebut saling berhubungan dan perlu diintervensi dengan komprehensif.
   Anak berprestasi kebanyakan berasal dari *keluarga yang sadar akan pentingnya pencapaian prestasi*. Kebanyakan orang tua yang mendampingi anak belajar di rumah adalah ibunya. Maka anak perempuan cenderung lebih banyak merespon bimbingan dari ibunya. Karena Ibu adalah patron anak perempuan. Sedangkan ayah yang punya waktu (meskipun sedikit) untuk mendampingi anak-anak belajar akan membuat semua anaknya baik laki-laki maupun perempuan lebih berprestasi.
   Keluarga yang sadar akan pentingnya pencapaian prestasi menyiapkan anaknya agar mampu menghadapi masa depan dengan lebih baik. Prinsipnya adalah *Anak anak harus hidup lebih baik dari orangtuanya*.
   Pada umumnya masyarakat menganggap *hidup akan lebih baik bila punya banyak uang*. Oleh karena itu mereka mendorong anak-anaknya (laki laki dan perempuan) untuk sekolah dan kuliah agar bisa bekerja dengan gaji besar. Inilah kesalahan dari tujuan belajar yang mengakibatkan penumpukan *pengangguran intelektual*. Padahal dunia kerja lebih memilih yang berprestasi dengan berbagai keunggulan serta ketrampilan tertentu.
   Dari faktor guru, ada kenyataan bahwa guru perempuan lebih banyak dari guru laki laki, *65% guru adalah perempuan*. Selain alasan pekerjaan guru lebih cocok untuk perempuan, ternyata *laki laki enggan menjadi guru karena gajinya kecil. Ironi!* Akibat ketimpangan jumlah guru perempuan dan guru laki laki maka figur laki laki di sekolah menjadi lemah. Akibatnya motivasi anak laki-laki untuk berprestasi melemah. Keseimbangan gender dari tenaga pendidik penting untuk pendidikan karakter.
   Dalam penerimaan murid SD, sekolah menerima sesuai kapasitas kelas dan berdasarkan kecukupan umur anak. Anak laki-laki dan perempuan dicampur dalam satu kelas. Bahkan kadang tempat duduknya pun acak. Ini bisa memunculkan kenakalan anak laki-laki mengganggu anak perempuan.  Akibatnya anak laki-laki sering mendapat hukuman karena mengganggu teman. Hukuman ini justru menimbulkan stres pada anak sehingga minat belajarnya menurun.
   Sebaiknya murid dipisahkan kelasnya sesuai jenis kelamin, ada kelas laki-laki dan ada kelas perempuan. Bahkan ada sekolah yang khusus perempuan dan khusus laki-laki (terutama sekolah berbasis agama). Pemisahan murid perempuan dan laki-laki bisa juga dalam baris atau dalam banjar. Dengan memisahkan murid perempuan dan laki-laki, anak anak akan sadar perbedaan gender /identitas seksual.
   Dalam pelajaran tertentu kurikulum perlu membedakan materi pelajaran yang khusus perempuan dan khusus laki-laki. Misalnya pelajaran agama, ada materi khusus untuk perempuan dan khusus untuk laki-laki. Demikian pula pelajaran tentang adat budaya dan peminatan tertentu. Dengan demikian anak akan berkembang sesuai karakter dan jenis kelaminnya.
   Dalam tujuan pendidikan, masih banyak orang belajar hanya asal lulus dan dapat ijazah. Yang penting datang ke sekolah dan ikut ujian. Pelajaran yang disampaikan oleh gurunya hanya cerita kosong tanpa bekas. Kebanyakan yang demikian itu adalah anak-anak yang kurang mendapat perhatian orangtua. Bahkan sering dimarahi dan dilabel nakal oleh orangtuanya.
   Faktor kemampuan ekonomi keluarga mempengaruhi intensitas belajar anak. Keluarga miskin sering melibatkan anak untuk mencari nafkah. Akibatnya waktu belajar anak sangat kurang. Anak kelelahan akibat bekerja membuatnya tidak bergairah belajar. Kebanyakan anak yang harus bekerja adalah laki-laki.
   Ternyata yang lebih berpengaruh terhadap prestasi anak perempuan adalah isu kesetaraan gender. Hal ini berdampak pada anak perempuan untuk bisa sejajar dan bisa berperan seperti laki-laki. Pada satu sisi ini sangat baik. Pada sisi lain ada yang kurang baik.
   Perempuan yang berprestasi (berpendidikan tinggi) kadang harus berhadapan dengan dilema sebagai istri dan sebagai ibu. Sedangkan perempuan yang kurang pintar cenderung menjadi korban eksploitasi bekerja demi uang. Perempuan harus pintar, tetapi tidak boleh melupakan kodrat sebagai istri dan sebagai ibu. Demikian pula laki-laki harus pintar karena bakal menjadi kepala keluarga, suami dan ayah bagi anak anaknya.
   Semua orangtua harus mendorong semangat belajar anak laki-laki maupun perempuan. Mereka semua punya peluang yang sama untuk berprestasi.(AM)

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles