
Oleh dr. H Minanur Rahman
Untuk menjadi pemenang dalam kehidupan, seseorang harus bisa mengalahkan kelemahan dirinya sendiri. Pemenang bukanlah mengalahkan orang lain melainkan menempatkan dirinya lebih baik dari orang lain melalui optimalisasi potensi diri. Setiap orang punya potensi yang berbeda berupa kepribadian, karakter, dan bakat yang didapat dari orangtuanya dan proses belajar. Salah satu potensi yang didapat dari orang tua adalah kecerdasan dan potensi yang didapat dari proses belajar adalah kepintaran.
Boleh jadi seseorang mempunyai potensi hebat akan tetapi bisa menjadi manusia gagal karena kelemahan dirinya. Kelemahan manusia pada umumnya antara lain malas, lalai, mudah menyerah, dan serakah. Sebaliknya bisa saja seseorang dari keluarga miskin dan kurang pendidikan mampu meraih kesuksesan karena rajin belajar, kerja keras, tekun dalam berusaha, dan ulet menghadapi tantangan.
Ibarat mobil, ada mobil yang diciptakan dengan kemampuan mesin yang mampu berkecepatan tinggi dan aerodinamika yang stabil serta nyaman untuk dikendarai. Sedangkan kebanyakan mobil diciptakan dengan kemampuan standar agar harganya bisa terjangkau masyarakat umum. Tentu mobil yang berkemampuan istimewa itu tidak banyak dan hanya dimiliki oleh kalangan tertentu. Mobil yang istimewa tersebut akan menjadi juara bila dikendarai oleh orang yang mahir, tekun, teliti, penuh semangat, dan berdisiplin tinggi. Sebaliknya mobil istimewa tersebut bisa hancur berantakan bila dikendarai oleh orang yang ugal-ugalan dan tidak terampil.
Orang yang berpotensi cerdas dan berbakat ibarat mobil yang diciptakan secara istimewa. Tentu orang-orang yang istimewa ini tidak banyak dan hanya dilahirkan dari keluarga yang memang berkualitas secara genetis. Memang kecerdasan bisa meningkat melalui proses pendidikan yang baik. Akan tetapi jangan berharap banyak bisa melampaui kecerdasan genetis seseorang yang didapat dari orangtuanya.
Orang-orang yang cerdas dan berbakat istimewa ini juga perlu dididik agar pintar sehingga bisa mencapai prestasi yang membanggakan. Orang yang cerdas tidak otomatis menjadi pintar, karena kepintaran adalah hasil dari pendidikan dalam menggunakan kecerdasan. Kecerdasan itu ibarat kualitas mobil yang hebat sedangkan kepintaran adalah kemampuan pengendara dalam menggunakan mobil agar bisa melaju kencang.
Orang yang cerdas dan pintar memerlukan dorongan motivasi dan kesempatan agar bisa menjelajah ke banyak arema untuk mencetak banyak prestasi. Karena itu tidak hanya cerdas dan pintar untuk bisa banyak prestasi. Butuh banyak latihan, banyak kompetisi, selalu disiplin mengikuti aturan, terus bersemangat, dan pantang menyerah.
Bila mereka yang cerdas dan pintar saja harus terus belajar, berlatih, terus bekerja keras, dan pantang menyerah, apalagi kita orang yang rata-rata. Meskipun tidak mempunyai keistimewaan bakat dan kecerdasan, semua orang bisa meraih kesuksesan dengan rajin belajar, tekun bekerja, dan ulet dalam menghadapi persoalan. Tentu level kesuksesan setiap orang berbeda. Jadi tak perlu memaksakan diri berkompetisi dengan orang yang mempunyai keistimewaan kecerdasan dan bakat.
Pintar bukan hanya milik orang yang cerdas. Orang yang tidak terlalu cerdas tapi bisa memanfaatkan kecerdasan seseorang untuk mengerjakan atau menyelesaikan masalah itu juga disebut pintar. Demikian pula orang yang mampu memanfaatkan situasi untuk meraih kesuksesan juga disebut pintar. Artinya pintar adalah kemampuan memanfaatkan kecerdasan (dirinya sendiri atau orang lain) atau situasi yang menguntungkan untuk menyelesaikan masalah atau meraih kesuksesan.
Kepintaran butuh pembelajaran, pendidikan, pelatihan dan pengalaman. Kepintaran kebanyakan dimiliki oleh orang yang punya impian besar dan cita-cita yang tinggi. Orang yang pintar biasanya juga punya semangat ingin tahu yang besar, pekerja keras, ulet, disiplin, dan tangguh.
Ada sebagian kecil orang cerdas dan berbakat yang tidak dilatih untuk pintar. (Pintar itu hanya untuk kebaikan). Mereka bisa terjerumus ke jalan yang salah yaitu kelicikan. Kecerdasan mereka digunakan untuk (kelicikan) melakukan kecurangan, kebohongan, penipuan, dan berbagai kejahatan. Mereka bisa saja terkesan (terkenal) sukses, kaya, berkuasa, dan sangat berpengaruh. Kebanyakan masyarakat awam tidak menyadari kejahatan orang cerdas yang licik ini. Masyarakat awam baru menyadari setelah kejahatan mereka terungkap.
Ternyata kecerdasan harus ditemani dengan budi pekerti atau moralitas dan etika. Bila kecerdasan tidak dikendalikan oleh budi pekerti, moralitas, dan etika maka mereka bisa terjerumus menggunakan kecerdasan untuk kejahatan. Nilai-nilai budi pekerti, moralitas dan etika ada didalam pelajaran setiap agama, dalam agama IsIam disebut Akhlak mulia. Nilai-nilai luhur ini seharusnya ditanamkan sejak masa Anak-anak sehingga menjadi kebiasaan dan karakter. Bangsa yang gagal membentuk karakter Anak-anak akan menerima akibat kebobrokan moralitas dan kriminalitas.(am)



