
Oleh dr. H Minanur Rahman
Bila Anda sehat, tinggal di wilayah yang aman, dan ada yang dimakan maka sesungguhnya Anda layak untuk bahagia. Rasulullah Muhammad SAW bersabda, “Barangsiapa di antara kamu masuk pada waktu pagi dalam keadaan sehat badannya, aman pada keluarganya, dia memiliki makanan pada hari itu, maka seolah-olah seluruh dunia dikumpulkan untuknya” (HR. Ibnu Majah, no: 4141, Shahih Al-Jami’ush Shaghir no. 5918).
Sebagian ulama ditanya, *apakah rasa aman lebih baik dari kesehatan?* Maka jawabannya rasa aman labih baik. Dalilnya adalah seandainya kambing kakinya patah maka akan sembuh beberapa waktu lagi. Kemudian seandainya kambing diikat pada suatu tempat dekat dengan serigala, maka ia tidak akan makan sampai mati. Hal ini menunjukkah bahwa *bahaya akibat rasa takut lebih besar daripada rasa sakit di badan*.
Berikut sedikit renungan bagi kita bahwa nikmat kita sekarang sangat banyak, *nikmat sehat* dan yang paling penting *nikmat rasa aman dan kondusif.*
Nikmat yang paling nikmat adalah adanya rasa aman, oleh karena itu Allah menyebutkan bahwa *ujian yang disebutkan pertama kali adalah ujian rasa takut (yang sedikit),* sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala,
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan”. (QS. al-Baqarah: 155).
Hendaknya kaum muslimin selalu *menjaga rasa aman ini dan menjaga agar suasana selalu kondusif.* Kita tidak ingin ada darah yang tertumpah, anak-anak menjadi yatim dan para wanita menjadi janda. Perlu kesabaran dan bimbingan para ulama ketika terjadi fitnah atau ujian yang menimpa kaum muslimin.
Kita harus banyak bersyukur karena semua nikmat ini ada pada diri kita, karena ada tiga pokok kenikmatan yaitu sehat, aman dan ada makanan.
Bagaimana agar kita selalu sehat? Sesungguhnya setiap manusia yang dilahirkan dalam keadaan sehat berpotensi untuk sehat hingga akhir hayat. Kunci utama agar tetap sehat adalah *bersyukur atas kondisi sehat* dengan; memberikan hak jasad dengan sebaik baiknya, menggunakan akal untuk berfikir yang benar dan bermanfaat, menguatkan jiwa untuk mengendalikan hawa nafsu, berbuat kebaikan sebanyak banyaknya, dan menghindari maksiat dan semua keburukan.
Bersyukur atas kondisi sehat berarti memaknai *kondisi sehat adalah karunia Tuhan yang sempurna*. Kondisi sehat sebagai kekuatan utama dalam menjalani hidup untuk mengabdi kepada Tuhan sebagai khalifah di Bumi.
Bersyukur pada kondisi sehat berarti senang pada badan, akal dan jiwanya. Kemudian menjaga badan, akal dan jiwa agar tetap sehat, serta menggunakan badan, akal dan jiwanya untuk kebaikan yang bermanfaat.
Agar badan tetap sehat maka wajib untuk memberikan hak jasad/ tubuh dengan sebaik baiknya. Tubuh butuh makanan yang sehat (bersih, bergizi, dan halal) dalam jumlah yang cukup dan seimbang. Tubuh butuh digerakkan, dilatih, digunakan untuk bekerja, dan beristirahat. Tubuh juga perlu dibersihkan, dirawat, diobati bila sakit, dan dimanjakan.
Bagian tubuh manusia yang paling penting adalah otak, tempat akal untuk berfikir dan pengendali seluruh aktivitas tubuh. Kesehatan otak harus dijaga dengan berpikir positif, mempelajari kesempurnaan penciptaan makhluk, menegakkan kebenaran, mencari dengan kreatif, dan terus berdoa. Otak juga perlu istirahat meskipun sesungguhnya otak tak pernah berhenti bekerja.
Dan yang terpenting adalah kesadaran jiwa sebagai hamba Allah yang diberi amanah menjaga Bumi. Jiwa harus terus diasah agar patuh pada kehendak Sang Maha Kuasa. Jiwa harus mampu menundukkan hawa nafsu melawan perintah Allah SWT. Hawa nafsu yang tidak terkendali akan condong mengikuti ajakan setan dan melanggar segala larangan. Inilah tantangan terberat dalam keimanan dan ketakwaan.
Orang yang jiwanya selalu dalam keimanan, menjalani kehidupan dengan penuh ketakwaan, banyak belajar dan memikirkan kesempurnaan alam semesta, bekerja keras untuk kesejahteraan umat manusia, menjauhi kemaksiatan dan segala yang tidak berguna, dan selalu bersyukur atas segala sesuatu serta mampu bersabar dalam kehidupan, itulah orang yang akan sehat, penuh kenikmatan dan selalu bahagia. Mereka adalah jiwa jiwa Mutmainnah.(AM)



