
Oleh dr. H Minanur Rahman
Aeroseeding adalah metode reboisasi atau penghijauan hutan dengan cara menebarkan benih tanaman dari udara menggunakan pesawat terbang atau helikopter. Metode ini sering digunakan untuk memulihkan lahan kritis, perbukitan gundul, atau area pasca-kebakaran hutan yang sulit dijangkau oleh jalur darat.
Berikut adalah poin-poin penting mengenai aeroseeding untuk hutan kritis:
Tujuan Utama: Mempercepat pemulihan ekosistem, memperbaiki vegetasi di lahan yang terdegradasi/gundul, menekan potensi bencana alam seperti longsor dan erosi, serta meningkatkan fungsi hutan sebagai penyerap air.
Proses & Teknik: Benih yang ditebar biasanya dikemas dalam bentuk seedball (bola benih) yang berisi campuran benih, tanah, dan pupuk untuk melindungi benih dari hama dan memastikan nutrisi tumbuh. Di Indonesia, kegiatan ini sering berkolaborasi dengan TNI AU, seperti yang dilakukan di Kabupaten Bandung (5,2 juta benih) dan Gunung Arjuno.
Kelebihan:
Jangkauan Luas: Mampu menjangkau area luas dan terjal dalam waktu singkat.
Efektif untuk Area Terisolasi: Cocok untuk lahan yang sulit atau tidak mungkin ditanami secara manual.
Mitigasi Bencana: Cepat menutup lahan gundul untuk mengurangi risiko longsor dan erosi tanah.
Contoh Penerapan:
Kabupaten Bandung (2026): TNI AU dan Pemkab Bandung menebarkan 8 ton benih di kawasan hutan kritis untuk mencegah bencana.
Jawa Timur (2020 & 2023): Pemprov Jatim dan BPBD menebarkan benih di Gunung Arjuno, Welirang, dan Anjasmoro untuk penanganan lahan gundul.
Teknik ini menjadi solusi kreatif dan cerdas untuk mempercepat penghijauan di wilayah dengan topografi sulit.
Aeroseeding Pemkab Bandung Hijaukan Lahan Kritis
Program penyemaian benih pohon melalui udara yang digagas Pemkab Bandung mendapat dukungan penuh dari TNI Angkatan Udara. Komandan Lanud Sulaiman, Marsma TNI Eko Sujatmiko, menilai metode aeroseeding sebagai solusi efektif untuk rehabilitasi kawasan hutan dan lahan kritis.
Bupati Bandung Dadang Supriatna mengatakan, sebanyak 5,2 juta benih pohon siap ditebar menggunakan pesawat udara ringan mulai Januari 2026. Program ini menargetkan kawasan pegunungan dan perbukitan yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
“Aeroseeding pernah sukses diterapkan TNI AU, salah satunya di Gunung Bromo pasca kebakaran. Kami optimistis hasilnya juga akan positif di Kabupaten Bandung,” kata Dadang Supriatna dalam keterangannya, Jumat (26/12/2025).
Mengatasi Gunung Gundul Melalui Aeroseeding
Pemprov Jatim bersama Perhutani Divre Jatim dan Lanud Abdulrahman Saleh, Malang menebar 3,5 ton benih tanaman di tiga gunung di Jatim dengan cara penyebaran benih udara (aeroseeding), Rabu (16/12/2020).
Aeroseeding itu bertujuan untuk memulihkan lahan gundul (terdegradasi atau terdeforestasi) atau mereboisasi sejumlah hutan dan lahan di gunung yang sempat mengalami kebakaran, longsor, atau karena sebab lainnya.
“Aeroseeding menjadi metode paling tepat melakukan revegetasi lingkungan, khususnya di daerah yang sulit dijangkau jalur darat. Seperti di pegunungan,” ujar Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jatim, di Malang.
Khofifah bersama Marsma (TNI) Wayan Superman Danlanud Abdurrahman Saleh Malang turut serta secara langsung dalam proses aeroseeding di kawasan Gunung Arjuno, Gunung Wilis, dan Gunung Kawi itu.
Sejumlah benih yang disebar antara lain bibit Pohon Sengon (Buto, Tekik), Asem, Wadang, Trengguli, Suren, Trembesi Klerek, Saga, Indigofera, Jati, Mahoni, Spathodea, Akasia, Sirsak, Maton, Jambu, Kelengkeng, Nangka, Vertiver, Lamtoro, dan Maesopsis.
Aeroseeding menghemat tenaga dan waktu. Dengan ini wilayah hutan atau lahan bisa berfungsi sebagai penyaring dan penyerap air ke dalam tanah, serta untuk menghambat derasnya laju aliran air permukaan,” kata Khofifah.
Penyemaian benih lewat udara dan upaya reboisasi ini, kata Khofifah, merupakan upaya Pemprov Jatim mengantisipasi potensi bencana alam, terutama bencana hidrometeorologi seperti longsor dan banjir bandang.
“Revegetasi harus terus dilakukan. Hari ini adalah wujud sinergi antara Pemprov Jatim, Lanud Abdulrahman Saleh Malang dan Perhutani dalam mengembalikan revegetasi lingkungan yang rusak,” ujarnya.
Dia mengakui, hasil aeroseeding hari ini baru akan terasa manfaatnya beberapa tahun ke depan, seiring tumbuh besarnya benih yang telah disebar dan menjadi pondasi kuat untuk mengantisipasi longsor dan banjir.
Pelaksanaan aeroseeding, menurutnya juga sangat tepat dilakukan saat musim hujan. Persentase tumbuhnya benih yang disebar menurutnya akan meningkat saat musim hujan karena sering terguyur air.(AM/*)



