LUKA EMOSIONAL ANAK PASCA PERCERAIAN
Oleh dr. H Minanur Rahman
Perceraian sering kali dianggap sebagai jalan terakhir untuk keluar dari hubungan rumah tangga yang penuh konflik. Namun di balik keputusan itu, ada satu pihak yang kerap terlupakan yaitu anak.
Bagi anak, perceraian bukan sekadar perpisahan dua orang tua, melainkan perubahan besar dalam kehidupan dan kestabilan emosional mereka. Rumah yang dulunya penuh kehangatan kini terasa hampa, rutinitas yang dulu menenangkan berubah menjadi kebingungan, dan rasa aman yang mereka kenal perlahan menghilang.
Dampak Perceraian Terhadap Anak
Ketika perceraian terjadi, perhatian publik dan keluarga biasanya tertuju pada kondisi orang tua: siapa yang bersalah, siapa yang tersakiti, dan bagaimana kelanjutan hidup masing-masing. Padahal di balik semua itu, ada anak yang diam-diam memendam luka paling dalam.
Anak menjadi saksi dari runtuhnya rumah tangga yang selama ini mereka anggap sebagai tempat perlindungan. Dalam pandangan psikologi keluarga, situasi ini bisa menimbulkan rasa kehilangan, penurunan kepercayaan diri, bahkan trauma emosional yang membekas hingga dewasa.
Anak adalah korban pertama dari perceraian karena keluarga merupakan lingkungan sosial utama yang membentuk nilai, emosi, dan perilaku mereka. Ketika hubungan orang tua dipenuhi pertengkaran atau berakhir dengan perpisahan, anak akan ikut merasakan dampak psikologisnya.
Mereka sering kali mengalami kebingungan, kesedihan, kecemasan, atau rasa bersalah, seolah-olah perpisahan itu terjadi karena kesalahan mereka. Beberapa anak terlihat tegar di luar, namun di dalam hati mereka menyimpan rasa kehilangan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Trauma Emosional
Anak-anak dari keluarga bercerai memiliki risiko tinggi mengalami gangguan emosional seperti depresi ringan, rasa marah terhadap salah satu orang tua, hingga kesulitan menyesuaikan diri di lingkungan baru. Mereka juga cenderung lebih sensitif terhadap konflik dan merasa takut akan kehilangan orang-orang yang mereka sayangi.
Tidak sedikit dari mereka yang berharap agar orang tuanya bisa kembali bersama, karena bagi anak, rumah yang ideal bukanlah tentang kemewahan, melainkan tentang keutuhan kasih sayang dan rasa aman.
Meski begitu, tidak semua anak korban perceraian tumbuh dengan luka mendalam. Tidak sedikit di antara mereka yang tetap bisa berkembang dengan baik jika mendapat dukungan emosional yang cukup dari orang tua. Inilah yang disebut sebagai ‘faktor protektif’, yaitu hal-hal yang bisa memperkuat daya tahan anak terhadap tekanan psikologis.
Kasih sayang yang konsisten, komunikasi terbuka, pendidikan yang layak, dan kehadiran orang tua, meski tidak lagi tinggal serumah, menjadi penopang penting bagi pemulihan emosi anak. Anak yang merasa dicintai tanpa syarat akan lebih mudah berdamai dengan keadaan dan membangun kembali rasa percaya dirinya.
Sayangnya, dalam banyak kasus, orang tua yang bercerai ‘hanya fokus pada pemenuhan kebutuhan materi anak’. Mereka memastikan anak mendapat tempat tinggal, biaya sekolah, atau fasilitas yang cukup, namun melupakan kebutuhan batin yang jauh lebih penting: rasa diperhatikan, didengarkan, dan dicintai.
Anak yang tumbuh dalam kekosongan emosional bisa menjadi pendiam, mudah marah, kehilangan semangat, bahkan kesulitan membangun hubungan sosial di masa depan. Hal ini menunjukkan bahwa luka emosional akibat perceraian bukan sesuatu yang akan hilang dengan sendirinya ia perlu perhatian dan penyembuhan.
Luka Emosional Anak Pasca Perceraian
Oleh karena itu, penting bagi orang tua yang bercerai untuk tetap menjalin komunikasi yang sehat demi anak. Kehadiran bersama di momen penting seperti kelulusan, ulang tahun, atau sekadar percakapan hangat bisa menjadi bentuk dukungan nyata yang berarti bagi mereka.
Anak perlu diyakinkan bahwa meskipun orang tuanya berpisah, kasih sayang mereka tidak ikut bercerai. Dukungan emosional seperti ini akan membantu anak merasa aman dan diterima, sekaligus menjadi langkah awal untuk menghapus luka di hatinya.
Pada akhirnya, perceraian memang mengakhiri ikatan pernikahan, tetapi tidak seharusnya mengakhiri cinta dan tanggung jawab terhadap anak. Luka emosional anak pasca perceraian bukanlah hal sepele yang bisa diabaikan. Ia adalah cermin dari bagaimana orang tua memahami makna cinta tanpa syarat. Sebab, bagi seorang anak, kehilangan orang tua bukan hanya kehilangan figur, melainkan kehilangan rasa “rumah” tempat di mana mereka belajar mencintai dan dicintai tanpa batas.
Lirik lagu “Korban Perceraian”
Ayah di manakah dirimu. Hatiku rindu ingin bertemu. Semenjak berpisah dari ibu. Ayah pergi merantau jauh
Ayah tidakkah kau rindu. Kepada kami darah dagingmu. Teringin hati nak bertemu. Memeluk dirimu seperti dahulu. Namun semua telah berubah. Hanya ibu yang aku punya.
Ayah pergi entah ke mana. Kerinduanku tiada terkira. Andai waktu dapat ku putar. Tak ingin aku dilahirkan. Kalau hanya untuk Menanggung beban. Korban dari sebuah perceraian.
Ibu maafkan aku. Bukan tak sayang aku padamu. Ego yang kau turutkan membuat kami kurang kasih sayang. Kami yang menjadi korban.(AM/*)