Rabu, 15 Juli 2026
spot_img

Memilih Sekolah Yang Berkualitas

Oleh dr. H Minanur Rahman
Setiap orang tua ingin anaknya mendapatkan pendidikan di sekolah yang baik agar menjadi anak yang pintar, cerdas, berakhlak mulia, berbudi pekerti, beriman, bertakwa, dan berkarakter unggul. Akan tetapi sekolah yang terdekat belum tentu sesuai harapan orang tua. Kualitas sekolah menjadi pertimbangan utama daripada jarak dari rumah atau biaya murah. Biaya pendidikan anak-anak bagi orang tua bukanlah beban yang berat.
   Bagi sebagian besar masyarakat yang berpendidikan, masyarakat yang tinggal di kota, dan masyarakat yang berkemajuan, pendidikan anak-anak adalah investasi bagi kehidupan masa depan. Mereka menyadari bahwa kualitas pendidikan yang baik setara dengan biaya yang dibutuhkan, dan masyarakat akan memilih sekolah sebatas kemampuan mereka.
   Sebagian masyarakat lainnya yang kurang berpendidikan, mengalami kesulitan ekonomi dan tinggal jauh dari perkotaan, mereka lebih cenderung pasrah pada keadaan. Bagi mereka pendidikan anak-anak menjadi urusan setelah kebutuhan makan tercukupi.
  Bila ada sekolah yang dekat dan tanpa biaya tentu mereka mengijinkan anaknya sekolah. Hanya sebagian kecil masyarakat kelompok ini yang menuntut sekolah berkualitas. Mereka tidak punya pilihan, kecuali menyekolahkan anaknya di sekolah yang ada untuk mereka.
   Ketersediaan sekolah adalah tanggung jawab pemerintah dan masyarakat. Pemerintah wajib menyediakan sekolah di wilayah yang belum ada sekolah atau yang kekurangan sekolah, sedangkan masyarakat berpartisipasi mendirikan sekolah melengkapi kebutuhan sekolah.
  Sekolah milik pemerintah tentu dibiayai pemerintah, sedangkan sekolah swasta (milik masyarakat) dibiayai oleh masyarakat serta orang tua murid. Sekolah swasta menawarkan pendidikan yang lebih berkualitas kepada masyarakat sepadan dengan biaya yang dibebankan pada peserta didik.
   Di perkotaan yang padat penduduk, ketersediaan sekolah sangat memadai baik sekolah milik pemerintah maupun sekolah swasta. Banyak pilihan sekolah, ada yang dekat rumah, ada yang murah atau gratis, ada sekolah favorit, dan ada pula sekolah swasta elite yang mahal.
  Sejak dulu (sebelum era zonasi) setiap sekolah menerima siswa baru dengan beberapa syarat antara lain umur, prestasi sekolah (nilai rapor), dan nilai Ujian Nasional. Bahkan ada beberapa sekolah mengadakan tes tulis tambahan.
   Dalam proses penerimaan siswa baru tersebut tentu ada sekolah sekolah yang menjadi favorit pilihan banyak calon siswa. Sekolah favorit tersebut tentu terkenal karena prestasi siswa-siswi nya serta kualitas pendidikannya. Untuk sekolah negeri favorit lebih diminati karena biaya yang murah. Sedangkan untuk sekolah swasta favorit lebih banyak diisi siswa dari keluarga mampu.
   Sekolah negeri favorit kebanyakan dipenuhi oleh siswa-siswi berprestasi dari berbagai wilayah yang kadang-kadang rumahnya jauh dari sekolah. Hal ini membuat iri masyarakat yang tinggalnya di sekitar sekolah favorit karena anak-anak mereka tidak diterima di sekolah tersebut. Mereka merasa lebih berhak untuk masuk sekolah favorit karena lebih dekat, padahal mereka tidak berprestasi.
   Dalam 7 tahun terakhir ini pemerintah menerapkan sistem Zonasi dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) masuk sekolah SD, SMP dan SMA NEGERI di seluruh Indonesia. Tujuan dari sistem Zonasi ini adalah untuk memberi kesempatan siswa yang tempat tinggalnya dekat dengan sekolah, dengan alasan pemerataan.
  Dampak awalnya melegakan mereka yang tempat tinggalnya dekat sekolah. Akan tetapi sistem Zonasi memicu calon siswa pindah alamat dengan numpang nama ke Kartu Keluarga yang dekat sekolah. Akibatnya banyak calon siswa yang merasa sudah ada di zonasi sekolah tiba-tiba tersisih oleh calon siswa yang pindah alamat (numpang KK).
   Sementara itu sekolah favorit yang dulunya penuh dengan siswa berprestasi kini dibanjiri dengan siswa yang pas-pasan prestasinya (bahkan prestasi rendah). Para guru pusing menghadapi variasi kemampuan siswa, ada kelompok siswa yang cerdas – berprestasi dan sebagian lainnya siswa yang biasa-biasa saja.
Kondisi tersebut memaksa sekolah harus mengukur kemampuan akademis siswa di awal semester dan mengelompokkan ke kelas yang setara. Anak-anak yang cerdas dan di atas rata-rata dimasukkan kelas yang isinya setara kecerdasannya.
   Sementara itu sekolah swasta berkualitas diuntungkan dengan adanya sistem zonasi. Keluarga yang sadar akan pentingnya kualitas sekolah lebih memilih menyekolahkan anaknya ke sekolah swasta yang jelas berkualitas meskipun harus bayar mahal. Demikian pula siswa berprestasi yang gagal masuk ke sekolah favorit lebih memilih masuk sekolah swasta daripada sekolah negeri yang kurang berkualitas.
   Dampak lebih jauh di pendidikan tinggi, rakyat dihadapkan dengan biaya kuliah di PTN yang sangat mahal. Meskipun demikian animo siswa untuk melanjutkan kuliah makin tinggi.
  Tentu untuk bisa masuk ke Perguruan Tinggi tidak menggunakan syarat jarak tempat tinggal atau zonasi, melainkan menggunakan nilai rapor, prestasi, dan score UTBK. Sudah pasti bahwa mereka yang bisa masuk PTN atau Perguruan Tinggi swasta adalah yang berprestasi bukan asal sekolah. Dan siswa siswi berprestasi itu produk dari sekolah favorit yang berkualitas. Jelas bukan!.(AM)

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles