
Oleh dr. H Minanur Rahman
Obesitas adalah penyakit kronis yang kompleks, di mana kelebihan lemak tubuh mengganggu kesehatan, meningkatkan risiko komplikasi medis jangka panjang dan mengurangi harapan hidup. Di Asia, obesitas didefinisikan sebagai indeks massa tubuh/IMT melebihi 25 kg/m2. Obesitas dapat dibagi secara lebih spesifik ke dalam kelas 1 dengan IMT 25–29,9 kg/m2 dan kelas 2 dengan IMT 30 kg/m2 atau lebih.
Diagnosis obesitas dilakukan dengan pengukuran tinggi badan, berat badan, lingkar pinggang, serta perhitungan IMT. Untuk orang dengan overweight, lakukan pengukuran lingkar pinggang secara rutin dan kontrol risiko kesehatan terkait adipositas.
Manajemen obesitas harus menggunakan pendekatan holistik dengan fokus pada perilaku kesehatan. Selain menurunkan berat badan, dokter harus mengevaluasi dan mengatasi penyebab kenaikan berat badan.
Upaya modifikasi gaya hidup yang dapat dilakukan meliputi pengaturan pola makan, aktivitas fisik, dan konseling perilaku. Farmakoterapi dapat diberikan jika ada indikasi, misalnya dengan penggunaan orlistat. Pembedahan, misalnya dengan gastric bypass, dapat menjadi pilihan pada pasien dengan obesitas morbid.
Data epidemiologi menyebutkan bahwa prevalensi obesitas semakin meningkat di seluruh dunia. Obesitas dilaporkan meningkat hampir 3 kali lipat sejak tahun 1975 hingga 2016. Pada tahun 2016, dilaporkan terdapat lebih dari 650 juta penduduk dunia berusia 18 tahun ke atas mengalami obesitas. Sekitar 13% penduduk dewasa dunia, dengan komposisi 11% laki-laki dan 15% perempuan, mengalami obesitas.
Prevalensi obesitas secara umum lebih tinggi pada perempuan daripada laki-laki di semua kelompok usia. Angka obesitas meningkat seiring bertambahnya usia, mencapai puncak pada usia 50-65 tahun, dan menurun perlahan setelahnya.
Indonesia
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 melaporkan prevalensi obesitas pada dewasa di Indonesia meningkat dari 14,8% di tahun 2013 menjadi 21,8%. Prevalensi obesitas pada perempuan (29,3%) lebih tinggi dibandingkan laki-laki (14,5%). Sementara itu, prevalensi obesitas sentral pada usia ≥15 tahun sekitar 31% dengan prevalensi pada perempuan (46,7%) lebih tinggi daripada laki-laki (15,7%).
Secara sederhana, patofisiologi obesitas melibatkan ketidakseimbangan asupan dan penggunaan kalori, nafsu makan, dan aktivitas fisik. Kesemua mekanisme tersebut menyebabkan akumulasi lemak tubuh. Selain itu, obesitas juga sering disertai dengan kondisi medis mendasar, misalnya masalah mental.
Kalori dan Sinyal Lapar Kenyang
Kesetimbangan energi dipengaruhi oleh proses lapar dan kenyang yang diatur oleh interaksi kompleks antara sistem saraf pusat, jaringan adiposa, dan organ lain seperti usus, hepar, dan pankreas.
Ketika tidak ada makanan dalam saluran gastrointestinal, akan terbentuk sinyal lapar yang memicu keinginan untuk makan. Sebaliknya, apabila saluran gastrointestinal terisi makanan, maka sinyal kenyang akan mengambil alih sehingga keinginan untuk makan dihambat.
Terjadinya Obesitas
Akumulasi lemak terjadi karena adanya ketidakseimbangan antara jumlah kalori yang dikonsumsi dengan kalori yang dikeluarkan oleh tubuh. Apabila asupan kalori melebihi kalori yang dikeluarkan, maka jumlah energi yang tersimpan dalam jaringan tubuh juga berlebih sehingga menyebabkan peningkatan berat badan.
Selain itu, peningkatan berat badan pada obesitas akan menyebabkan hipertrofi dan hiperplasia adiposit yang mengarah pada low grade inflammation. Hal ini yang memicu berbagai penyakit kronik karena peningkatan produksi sitokin yang disekresi oleh makrofag dan preadiposit.
Obesitas juga berhubungan dengan perkembangan berbagai penyakit seperti hipertensi, asthma, hipertrigliseridemia, gangguan kardiovaskular, arthritis, dan berbagai jenis kanker.
Selain itu, obesitas juga ditandai adanya resistensi insulin akibat peningkatan asam lemak bebas sehingga terjadi hiperinsulinemia. Peningkatan insulin tersebut memicu peningkatan ambilan asam lemak dan glukosa oleh adiposit, penyimpanan kalori dalam bentuk lemak, dan mencegah lipolisis.
Etiologi obesitas yang tersering adalah ketidakseimbangan antara asupan energi harian dan pengeluaran energi (energy expenditure). Hal ini dapat berhubungan dengan kelebihan asupan makanan; kurangnya keluaran energi akibat rendahnya metabolisme tubuh, aktivitas fisik, dan efek termogenesis makanan sesuai komposisi makanan; atau kombinasi keduanya. Kelebihan energi ini selanjutnya disimpan dalam bentuk jaringan lemak. Faktor risiko obesitas mencakup faktor genetik, epigenetik, penyakit sistemik, dan faktor lingkungan.
Penatalaksanaan utama pada obesitas meliputi modifikasi gaya hidup, terapi medikamentosa, dan pembedahan jika diperlukan. Selain menurunkan berat badan, dokter juga perlu mengidentifikasi dan mengatasi kondisi yang mendasari timbulnya obesitas.
Modifikasi Gaya Hidup
Modifikasi gaya hidup diterapkan pada seluruh pasien dengan obesitas. Tujuan awal adalah menurunkan berat badan 5-10% dalam 6 bulan pertama. Upaya modifikasi gaya hidup meliputi pengaturan pola makan, aktivitas fisik, dan modifikasi perilaku.
Pengaturan pola makan untuk pasien dengan obesitas di Indonesia menggunakan piring makan model T, yaitu:
Konsumsi sayur 2 kali lipat dari jumlah bahan makanan sumber karbohidrat
Konsumsi bahan makanan sumber protein sama dengan jumlah bahan makanan sumber karbohidrat
Konsumsi sayur atau buah minimal harus sama dengan jumlah karbohidrat ditambah protein
Minyak sebagai bahan makanan sumber lemak dapat digunakan untuk mengolah bahan makanan dengan jumlah yang dianjurkan adalah 3-4 sendok teh per hari
Pilih makanan yang disenangi dengan tetap memperhatikan jumlah, jenis, dan jadwal.
Aktivitas Fisik
Aktivitas fisik merupakan setiap pergerakan badan yang dihasilkan oleh otot skeletal yang membutuhkan energi. Prinsip utama aktivitas fisik pada obesitas adalah meningkatkan pengeluaran energi dan membakar lemak. Aktivitas fisik yang disarankan untuk mendapat manfaat kesehatan yaitu 150 menit/minggu untuk aktivitas fisik sedang atau 75 menit/minggu untuk aktivitas fisik berat.
Latihan fisik adalah bagian dari aktivitas fisik yang dilakukan secara terencana, terstruktur, berulang, dan memiliki tujuan. Tujuan utamanya antara lain mencapai atau mempertahankan kebugaran fisik atau kesehatan. Keduanya, aktivitas fisik dan latihan fisik, penting dalam tata laksana obesitas.(AM)



