
Oleh Asmediati.S.Pd ( guru SMP Negeri 1 Labuhan Badas)
Setiap bulan Agustus, hampir di setiap sudut negeri kita melihat warna merah dan putih. Bendera dikibarkan di depan rumah, sekolah, kantor, jalan-jalan, bahkan di halaman-halaman kecil milik warga. Ada yang memasangnya dengan sederhana. Ada pula yang menghias lingkungannya dengan sangat meriah.
Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya, apa sebenarnya arti Merah Putih bagi kita?
Bagi saya, Merah Putih bukan sekadar kain yang dikibarkan setiap tanggal 17 Agustus. Bendera itu adalah lambang dari perjalanan panjang bangsa Indonesia. Di dalamnya ada keberanian, pengorbanan, air mata, keringat, bahkan nyawa para pejuang yang dahulu berjuang untuk merebut kemerdekaan.
Kita mungkin tidak pernah melihat langsung bagaimana para pahlawan bertempur melawan penjajah. Kita tidak pernah merasakan bagaimana hidup dalam tekanan dan ketakutan pada masa penjajahan. Kita juga tidak pernah tahu persis bagaimana rasanya kehilangan orang yang dicintai dalam sebuah perjuangan.
Tetapi sejarah telah meninggalkan cerita itu kepada kita.
Merah pada bendera mengingatkan kita pada keberanian dan pengorbanan. Putih mengingatkan kita pada kesucian dan ketulusan. Keduanya menyatu menjadi sebuah lambang yang sangat berarti bagi bangsa Indonesia.
Karena itu, menurut saya, menghormati Merah Putih tidak seharusnya hanya dilakukan ketika upacara bendera berlangsung.
Kita menghormati bendera bukan karena siapa yang sedang menjadi pemimpin hari ini. Kita juga tidak menghormati Merah Putih karena jabatan seseorang, partai politik tertentu, atau kepentingan kelompok tertentu. Kita menghormatinya karena bendera itu milik bangsa.
Di balik kibaran Merah Putih ada perjuangan para pendahulu kita.
Ada orang-orang yang mungkin tidak pernah menikmati kemerdekaan. Ada yang gugur sebelum melihat Indonesia benar-benar bebas. Ada yang meninggalkan keluarga, rumah, pekerjaan, bahkan masa depan mereka demi sebuah cita-cita: Indonesia merdeka.
Maka, rasanya sangat tidak pantas jika kita hanya ramai memasang bendera, tetapi lupa menjaga nilai yang ada di baliknya.
Kemerdekaan bukan berarti semua perjuangan sudah selesai.
Justru setelah merdeka, perjuangan memiliki bentuk yang berbeda.
Dahulu para pejuang melawan penjajahan dengan senjata. Sekarang kita melawan kebodohan dengan pendidikan. Kita melawan kemiskinan dengan kerja keras. Kita melawan perpecahan dengan persatuan. Kita melawan ketidakjujuran dengan keberanian untuk berkata benar.
Kita juga harus melawan sikap tidak amanah.
Sebab, kemerdekaan akan kehilangan makna jika rakyat masih merasa tertindas oleh keserakahan, ketidakadilan, korupsi, kebohongan, dan penyalahgunaan kekuasaan.
Indonesia memang sudah merdeka dari penjajahan. Tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah kita sudah benar-benar merdeka dalam kehidupan sehari-hari?
Merdeka seharusnya berarti rakyat memiliki kesempatan untuk hidup dengan layak. Anak-anak dapat bersekolah. Guru dapat mengajar dengan tenang. Petani dapat hidup dari hasil tanahnya. Nelayan dapat bekerja tanpa rasa takut. Pekerja mendapatkan penghargaan yang pantas. Masyarakat kecil tidak merasa selalu menjadi pihak yang harus mengalah.
Kemerdekaan juga berarti hukum berlaku untuk semua. Yang kuat tidak boleh selalu menang. Yang lemah tidak boleh terus menjadi korban.
Karena itu, jangan sampai kita hanya sibuk mempercantik perayaan kemerdekaan, tetapi lupa memperbaiki kehidupan bangsa.
Lomba tujuh belas Agustus tentu penting. Pawai, upacara, pemasangan umbul-umbul, dan berbagai kegiatan masyarakat adalah bentuk kegembiraan. Semua itu boleh dilakukan. Bahkan bagus untuk menjaga semangat kebersamaan.
Tetapi jangan berhenti sampai di sana.
Setelah perlombaan selesai, setelah bendera diturunkan, setelah panggung dibongkar, setelah musik berhenti, semangat kemerdekaan harus tetap hidup.
Ia harus ada di sekolah.
Ia harus ada di rumah.
Ia harus ada di tempat kerja.
Ia harus ada dalam cara kita berbicara dan memperlakukan orang lain.
Kemerdekaan juga harus terlihat dari cara kita menggunakan media sosial. Jangan karena merasa bebas, kita kemudian bebas menghina, menyebarkan fitnah, mempermalukan orang lain, atau menyebarkan berita yang belum tentu benar.
Kebebasan bukan berarti boleh melakukan apa saja.
Kemerdekaan selalu disertai tanggung jawab.
Kita boleh berbeda pilihan. Kita boleh berbeda pendapat. Kita boleh mengkritik pemerintah. Bahkan kritik adalah bagian penting dalam kehidupan demokrasi. Tetapi kritik seharusnya disampaikan dengan alasan dan cara yang baik, bukan dengan kebencian dan penghinaan.
Merah Putih seharusnya menyatukan kita, bukan menjadi alat untuk saling bermusuhan.
Kita boleh berbeda suku, daerah, agama, pekerjaan, pilihan politik, dan pandangan. Tetapi ketika Merah Putih berkibar, kita adalah satu bangsa.
Itulah salah satu hal besar yang diwariskan para pendahulu kita.
Mereka tidak berjuang untuk kelompoknya sendiri. Mereka berjuang untuk Indonesia.
Karena itu, kita juga harus menjaga Indonesia dengan cara kita masing-masing.
Seorang guru menjaga Indonesia dengan mendidik anak-anak bangsa. Seorang petani menjaga Indonesia dengan mengolah tanah dan menyediakan pangan. Seorang tenaga kesehatan menjaga Indonesia dengan melayani masyarakat. Seorang pedagang menjaga Indonesia dengan bekerja jujur. Seorang pemimpin menjaga Indonesia dengan menjalankan amanah.
Setiap orang mempunyai bagian dalam menjaga kemerdekaan.
Yang perlu kita ingat, jabatan adalah amanah, bukan kesempatan untuk memperkaya diri. Kekuasaan adalah tanggung jawab, bukan hak untuk bertindak sesuka hati.
Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar. Yang sering kita rindukan adalah orang-orang yang benar-benar amanah.
Kita membutuhkan pemimpin yang tidak hanya pandai berbicara tentang rakyat, tetapi benar-benar mau mendengar suara rakyat. Kita membutuhkan orang-orang yang ketika diberi kepercayaan tidak lupa kepada siapa kepercayaan itu diberikan.
Sebab, kemerdekaan yang diperjuangkan dengan darah tidak boleh dijaga dengan keserakahan.
Merah Putih tidak boleh hanya menjadi latar belakang foto setiap bulan Agustus. Ia harus menjadi pengingat bahwa ada amanah besar yang harus kita teruskan.
Ketika melihat bendera berkibar, mari kita ingat mereka yang dahulu berjuang.
Mari kita bertanya kepada diri sendiri: apa yang sudah kita lakukan untuk negeri ini?
Tidak harus sesuatu yang besar.
Menjadi guru yang sungguh-sungguh mengajar adalah bentuk perjuangan. Menjadi orang tua yang mendidik anak dengan baik adalah perjuangan. Menjadi warga yang jujur adalah perjuangan. Tidak mengambil hak orang lain adalah perjuangan. Berani menolak ketidakadilan adalah perjuangan.
Kemerdekaan tidak meminta kita menjadi pahlawan dengan cara yang sama seperti para pejuang dahulu.
Kemerdekaan hanya meminta kita menjadi manusia yang bertanggung jawab.
Maka, ketika Merah Putih berkibar, jangan hanya melihat warnanya.
Lihatlah sejarah di baliknya.
Rasakan pengorbanan yang menyertainya.
Dan ingatlah bahwa kemerdekaan bukan hadiah yang boleh kita sia-siakan.
Kita memang sudah merdeka dari penjajahan. Tetapi perjuangan menjaga kemerdekaan tidak pernah selesai.
Tugas kita sekarang adalah memastikan Merah Putih tetap menjadi lambang persatuan, keadilan, keberanian, dan harapan.
Jangan biarkan amanah bangsa jatuh ke tangan mereka yang tidak amanah.
Sebab, para pahlawan telah memberikan yang terbaik untuk negeri ini.
Kini giliran kita menjaga apa yang telah mereka perjuangkan.
Dirgahayu Indonesiaku.
Merdeka bukan sekadar bebas dari penjajahan, tetapi juga bebas dari ketidakadilan, kebodohan, keserakahan, dan hilangnya rasa tanggung jawab terhadap negeri sendiri.
Merah Putih berkibar. Kita menjaga maknanya. 



