Politik, Iman, dan Belanja: Mesin Peradaban Manusia
Oleh dr. H Minanur Rahman
TIDAK ada satu pun peradaban manusia yang runtuh karena kurangnya kecerdasan. Yang ada justru sebaliknya: manusia terlalu cerdas untuk tidak menyadari betapa rapuh dirinya. Dari kesadaran rapuhnya manusia inilah -akan kelaparan, kematian, dan konflik- lahir peradaban. Bukan sebagai kemenangan rasio, melainkan sebagai strategi bertahan hidup spesies yang tahu bahwa ia bisa gagal.
Jika kita kupas peradaban hingga ke lapisan biologisnya, maka kita menemukan ‘tiga naluri’ yang terus bekerja, bahkan ketika namanya berubah: politik, agama, dan konsumsi. Ketiganya bukan ciptaan budaya semata, melainkan ekspresi dari otak evolusioner yang sama -otak yang harus mengatur kekuasaan, memberi makna pada penderitaan, dan memastikan energi tetap tersedia.
Politik muncul dari kebutuhan mengelola ketergantungan sosial. Manusia tidak bisa hidup sendiri, tetapi hidup bersama selalu membawa risiko. Maka politik berfungsi sebagai mekanisme pengatur ketakutan kolektif: siapa memimpin, siapa dilindungi, dan siapa boleh dipinggirkan.
Ia tidak pernah sepenuhnya rasional, karena ia bekerja langsung pada emosi sosial yang lebih tua daripada logika formal. Itulah sebabnya simbol, identitas, dan rasa “kami” selalu lebih kuat daripada argumen terbaik.
Agama hadir di sisi lain ketakutan: bukan takut pada sesama, tetapi pada kefanaan. Kesadaran akan kematian membuat manusia tidak cukup hanya bertahan hidup; ia ingin hidupnya berarti.
Agama menyediakan makna yang melampaui individu, waktu, dan tubuh. Dalam kerangka evolusi, ia berfungsi sebagai perekat sosial dan penenang psikologis – sebuah sistem yang memungkinkan manusia tetap kooperatif meski masa depan tak pasti. Ketika agama dituntut menjawab pertanyaan sains, ia goyah; tetapi selama manusia mencari makna, ia bertahan.
Konsumsi melengkapi dua naluri lainnya. Ia berakar pada ‘kelaparan purba’, tetapi berkembang menjadi bahasa status dan identitas. Dalam dunia modern, naluri ini kehilangan rem alami. Otak yang berevolusi untuk kelangkaan kini hidup di tengah kelimpahan. Akibatnya, konsumsi tidak lagi menjawab kebutuhan biologis, melainkan mengisi kekosongan makna yang gagal dipenuhi oleh politik dan agama.
Ketiga naluri ini tidak pernah berdiri sendiri. Ketika politik kehilangan legitimasi, agama menguat. Ketika agama kehilangan daya makna, konsumsi membengkak. Ketika konsumsi merusak lingkungan, politik kembali dipanggil sebagai penyelamat.
Peradaban bergerak dalam siklus, bukan garis lurus kemajuan. Filsafat sains mengajarkan satu pelajaran pahit: manusia bukan makhluk rasional yang sesekali tersesat, melainkan makhluk naluriah yang sesekali jernih. Peradaban adalah jeda rapuh antara dua krisis, dijaga oleh keseimbangan sementara antara kekuasaan, makna, dan energi.
Mungkin tujuan tertinggi peradaban bukanlah kesempurnaan, melainkan kesadaran – bahwa apa yang kita bangun hari ini masih digerakkan oleh naluri purba. Dan bahwa memahami naluri itu bukan tanda kelemahan, melainkan satu-satunya peluang kita untuk tidak dikendalikan sepenuhnya olehnya.
Rasio sebagai Alat, Bukan Penguasa
Tambahan penting dari sudut filsafat sains adalah ini: rasionalitas manusia tidak pernah berdiri di atas naluri, melainkan di atasnya sebagai alat. Sains, hukum, dan etika modern sering diperlakukan seolah-olah mereka adalah penjinak naluri. Kenyataannya, mereka lebih sering menjadi juru bicara naluri dengan bahasa yang lebih halus.
Rasio membantu politik menjadi efisien, bukan adil. Ia membantu agama menjadi sistematis, bukan benar. Ia membantu konsumsi menjadi masif, bukan cukup. Ini bukan kegagalan rasio, melainkan keterbatasan perannya.
Evolusi tidak memilih rasio untuk memimpin, tetapi untuk melayani keputusan yang sudah diambil di tingkat naluriah. Kesadaran ini penting karena ia membebaskan kita dari ilusi berbahaya: bahwa kemajuan intelektual otomatis membawa kemajuan moral. Sejarah berkali-kali menunjukkan sebaliknya.
Ketidakseimbangan Modern
Masalah peradaban modern bukan munculnya naluri-naluri ini, melainkan ketidakseimbangannya. Konsumsi tumbuh jauh lebih cepat daripada kebijaksanaan ekologis. Politik bergerak lebih cepat daripada kemampuan membangun kepercayaan. Sains melaju lebih cepat daripada kapasitas manusia memberi makna pada temuan-temuannya.
Akibatnya, kita hidup di zaman di mana manusia mampu memetakan gen, tetapi kesulitan mempercayai sesamanya. Mampu memprediksi iklim ratusan tahun ke depan, tetapi gagal menahan dorongan jangka pendek. Ini bukan paradoks; ini konsekuensi evolusioner.
Kesadaran sebagai Bentuk Tertinggi Adaptasi
Jika ada satu kemungkinan lompatan berikutnya dalam sejarah manusia, ia bukanlah teknologi, melainkan ‘kesadaran reflektif atas naluri sendiri’. Bukan penghapusan politik, agama, atau konsumsi -itu mustahil- melainkan pemahaman akan fungsi dan batasnya.
Filsafat sains, dalam konteks ini, bukan pencarian kebenaran abstrak, tetapi latihan kejujuran biologis. Ia mengingatkan bahwa manusia tidak pernah sepenuhnya bebas, tetapi bisa menjadi lebih sadar akan tali yang menggerakkannya.
Dan mungkin, di situlah harapan peradaban berada: bukan pada janji kesempurnaan, melainkan pada keberanian untuk melihat diri sendiri apa adanya – spesies rapuh, cerdas, lapar makna, dan terus belajar menunda kehancurannya sendiri.
Peradaban manusia, jika dilihat tanpa romantisme, bukanlah monumen kebijaksanaan, melainkan perangkat penyangga bagi naluri yang tak pernah jinak. Kita membangun hukum karena tidak sepenuhnya percaya pada kebaikan, membangun makna karena tidak sanggup menatap kehampaan terlalu lama, dan membangun kelimpahan karena ingatan akan kelaparan masih tertanam di dalam tubuh.
Politik, agama, dan konsumsi bukan kesalahan yang harus dihapus, melainkan gejala yang harus dipahami. Bahaya terbesar bukan terletak pada keberadaan ketiganya, tetapi pada ilusi bahwa kita telah melampaui mereka. Maka mungkin ukuran kemajuan peradaban tidak terletak pada seberapa tinggi teknologi kita, atau seberapa canggih sistem kita, melainkan pada seberapa jujur kita membaca diri sendiri.
Spesies yang mampu mengenali nalurinya sendiri memiliki satu keunggulan langka: kesempatan untuk menahan diri. Tidak untuk menjadi suci, rasional sempurna, atau bebas dari kontradiksi – melainkan untuk tetap manusia, sambil sadar bahwa setiap langkah ke depan selalu diambil oleh makhluk yang masih membawa bayang-bayang masa lalunya. Dan dalam kesadaran itulah, untuk pertama kalinya, peradaban mungkin tidak sekadar bertahan, tetapi memilih arah dengan mata terbuka.(AM/*)
Tulisan dr. Taufiq Fredrik Pasiak