Mataram, NTB, anugerah-media.comTahu masih menjadi salah satu bahan pangan favorit masyarakat karena harganya terjangkau serta memiliki kandungan gizi yang tinggi. Di balik kesederhanaannya, proses pembuatan tahu ternyata membutuhkan ketelitian dan tahapan yang cukup panjang. Hingga kini, banyak perajin di Kota Mataram yang tetap mempertahankan cara tradisional dalam memproduksi tahu.
Proses pembuatan tahu diawali dengan pemilihan kedelai berkualitas. Kedelai yang telah disortir kemudian direndam selama beberapa jam hingga mengembang. Setelah itu, kedelai digiling dengan tambahan air sampai menghasilkan bubur kedelai.
Bubur kedelai tersebut kemudian dimasak hingga mendidih dan disaring untuk memisahkan sari kedelai dari ampasnya. Sari kedelai inilah yang menjadi bahan utama pembuatan tahu. Selanjutnya, sari kedelai diberi bahan penggumpal, seperti air asam atau cuka tahu, hingga menggumpal dan membentuk endapan.
Endapan tahu lalu dimasukkan ke dalam cetakan yang dilapisi kain dan dipres untuk mengeluarkan sisa air. Setelah proses pemadatan selesai, tahu dipotong sesuai ukuran dan siap dipasarkan kepada masyarakat.
Salah satu perajin tahu di wilayah Pagutan Petemon, Kota Mataram, Hj. Suke, mengatakan bahwa proses tradisional tetap dipertahankan karena menghasilkan cita rasa tahu yang lebih alami dan disukai konsumen.
“Walaupun prosesnya cukup melelahkan, kami tetap menjaga kualitas agar pelanggan puas. Apalagi sejak adanya program MBG, permintaan tahu meningkat cukup tinggi sampai kami kewalahan,” ujarnya.
Dengan proses yang relatif sederhana namun membutuhkan ketelatenan dan kerja keras, industri tahu rumahan masih menjadi penopang ekonomi masyarakat sekaligus berperan penting dalam memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.(AM/*)



