Rabu, 15 April 2026
spot_img

Rumah Tangga Perempuan Mapan

Oleh dr. H Minanur Rahman
Dulu (sebelum abad XX) perempuan identik dengan ibu rumah tangga, mengasuh anak, dan istri yang harus mengabdi pada suami. Pada umumnya perempuan tidak bekerja, bergantung pada nafkah dari suami dan mengatur sedemikian rupa agar cukup memenuhi kebutuhan makan sekeluarga.
   Perempuan tidak diprioritaskan untuk menempuh pendidikan tinggi dan tidak dipersiapkan untuk bekerja formal, apalagi untuk menduduki jabatan di pemerintahan maupun perusahaan. Paternalistik seperti ini lumrah di seluruh penjuru dunia dan semua peradaban.
  Sekarang memasuki abad XXI, gerakan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan telah mengantarkan perempuan menjadi sejajar dengan laki-laki di hampir segala bidang. Perempuan kini telah menikmati pendidikan tinggi, bekerja layaknya pekerjaan laki-laki, berperan aktif di sosial politik, dan menduduki jabatan penting di pemerintahan maupun perusahaan. Meskipun demikian perempuan tetap menjadi istri dan ibu serta mengurus rumah tangga.
  Perempuan mapan sering menghadapi dilema unik, di mana kemandirian ekonomi mereka beriringan dengan tantangan sosial dan personal. Masalah utamanya meliputi tingginya angka gugatan cerai (73% penggugat adalah wanita mapan), stigma sosial terkait pilihan childfree atau tidak menikah, serta kesulitan mencari pasangan setara (hipogami).
  Istri berpenghasilan tinggi dapat “menantang gagasan tradisional tentang maskulinitas”. Masalahnya bukan tentang perempuan yang kurang bisa menerima, tetapi lebih tentang apakah laki-laki dapat mengatasi pasangan yang berpendidikan lebih tinggi atau lebih sukses.
   Rumah tangga dengan perempuan mapan (finansial mandiri) kini semakin umum, menggeser pola tradisional dan mendorong kesetaraan peran. Istri mapan sering kali berkontribusi signifikan pada ekonomi keluarga, yang menuntut pembagian peran domestik lebih setara. Kunci keberhasilannya adalah komunikasi, toleransi, serta fokus pada kontribusi bersama, bukan perbandingan.
Gugat Cerai Perempuan Mapan
  Para wanita merasa kesetaraan gender membuat mereka memiliki hak yang sama dalam pernikahan. Apalagi saat ini banyak wanita yang memiliki penghasilan lebih baik daripada pasangannya, ini semakin memperkuat posisi wanita untuk setara dengan kaum pria.
  Sejak adanya emansipasi pada wanita, sepertinya status janda bukan lagi hal yang menakutkan atau memalukan untuk para wanita. Bahkan para istri yang bercerai banyak yang menjadi single parents bagi anak-anaknya.
  Ini disebabkan karena wanita merasa lebih mandiri. Tanpa suami, istri merasa mampu untuk berperan ganda, baik sebagai ibu dan sekaligus sebagai ayah.
Child Free atau Tidak Menikah
  Ada dua fenomena ekstrem yang terjadi pada masyarakat, yaitu perempuan mapan yang memilih tidak menikah atau child-free marriage.
  Kesuksesan perempuan kini sudah tidak lagi diukur dari ranah domestik, melainkan berdasar sektor publik seperti karir, prestasi, dan indikator baru lainnya.
“Jadi, kalau sekarang muncul perempuan yang mengumumkan tidak ingin punya anak, itu adalah perkembangan baru. Sah-sah saja dilakukan. Hanya saja pada titik tertentu nantinya, saya yakin kerinduan untuk punya anak akan muncul,” terang dosen yang biasa disapa Prof. Bagong.
Stigma Hipogami
  Hipogami adalah fenomena wanita mapan memilih pasangan dengan status sosial, ekonomi, atau pendidikan yang lebih rendah. Tren ini didorong oleh nilai-nilai egaliter, di mana cinta dan kecocokan emosional lebih diutamakan daripada sekadar status finansial pria. Wanita mapan kini lebih mandiri dan tidak terikat norma tradisional yang mengharuskan pria lebih kaya.
   Wanita telah mandiri secara ekonomi, sehingga tidak perlu mencari pasangan dengan pendapatan lebih tinggi. Mereka lebih mengutamakan karakter, dukungan emosional, dan rasa aman yang diberikan pasangan. Mengutamakan pasangan yang mendukung karier dan menghargai kesuksesan sang wanita, meskipun secara materi belum setara.
Kesiapan Laki-laki Menghadapi Perempuan Mapan
  Kesiapan pria menghadapi perempuan mapan bukan sekadar soal menyamai jumlah penghasilan, melainkan lebih kepada kematangan mental, emosional, dan rasa percaya diri untuk menjadi pasangan yang setara. Perempuan mapan umumnya mencari pasangan yang mandiri dan memiliki visi, bukan hanya secara finansial, tetapi juga emosional.
Pertebal telinga
Orang lain mungkin akan menilai bahwa dirimu hanya beruntung atau mau dengan pasangan karena tergiur hartanya. Hal-hal inilah yang harus siap kamu hadapi. Sebab pasti ada saja omongan yang sumbang, apalagi melihat perbedaan dirimu dengannya sangat jauh.
Tetap bangun kariermu sendiri
Banyak orang yang beranggapan kalau sudah dapat pasangan yang mapan, maka tak perlu bekerja lagi. Sebab pasangan mungkin menawarkan untuk membiayai hidupmu. Hal ini salah besar, ya.
Justru untuk mengangkat nilai dirimu dan membangun kepercayaan diri, kamu harus bangun karier sendiri. Apalagi kamu juga harus membangun nilai diri di mata keluarga pasangan juga.
Harus bisa menyesuaikan gaya hidup
Seseorang yang sudah terbiasa nyaman dengan gaya hidup kelas atas pasti kesulitan jika dipaksa hidup di standarmu. Solusinya, harus dibagi dua dan seimbang. Diskusikan segala sesuatu berdua sebelum dilakukan, agar tidak ada pihak yang harus seratus persen mengalah.
Tidak perlu cepat-cepat minta menikah
Jangan langsung mau menikah supaya bisa memiliki pasangan seutuhnya. Daripada menjalani kehidupan rumah tangga yang tidak menyenangkan, lebih baik menjalani pacaran yang pelan tapi bisa mengenal pasangan secara utuh.(AM)

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles